Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya

Sains Parasut dan Realitas Sains Bangsa-Bangsa Pasca-Jajahan

Muhammad Haidar Sabid A

5 min read

“The Third World today faces Europe like a colossal mass whose aim should be to try to resolve the problems to which Europe has not been able to find the answers.” — Frantz Fanon, The Wretched of the Earth

Sulit rasanya membincangkan sains hari ini tanpa merasa sedang menelusuri lorong-lorong panjang museum Eropa. Bila kata ‘sains’ melewati gendang telinga, saya seolah berdiri di ruang megah yang memamerkan pencapaian dan manuskrip ilmiah, seakan pengetahuan adilihung itu tumbuh dari tanah Eropa sendirian.

Bayangan itu tak sekonyong-konyong lahir dari vakumnya ruang pikiran manusia Indonesia macam saya, sebab arsitektur pikiran saya telah dipasangi pagar yang mengandaikan kebenaran ilmiah hanya berhak lahir dari kota-kota bersalju nan jauh dari sabuk khatulistiwa.

Pasca pencerahan, Eropa selalu digambarkan sebagai rahim peradaban, tempat lahirnya rasionalitas dan metode ilmiah. Eropa adalah Logos. Namun saat saya membaca sejarah secara saksama, muncul perasaan seolah saya sedang berjalan di museum yang mencuri barang-barang dari “rumah” saya sendiri.

Saya tiba pada fakta bahwa bangunan besar pengetahuan itu disusun dari serpih-bongkah batu yang diambil dari “pinggiran dunia”. Nyata adanya bahwa bangunan itu menyimpan tengkorak pengetahuan dari pelosok dunia, dipamerkannya dalam vitrin kaca yang memantulkan wajah pemenangnya saja.

Perlunya kita sadari bahwa sains yang kita amini, koleksi pengetahuan yang dipajang dengan bangga itu, sesungguhnya lahir dari ketidakseimbangan. Sejak awal, kolonialisme tidak hanya merampas kekayaan fisik, benda, atawa indrawi saja, tetapi juga memindahkan legitimasi struktur pengetahuan yang menyertainya. Apa yang diketahui tentang dunia harus melewati meja kerja seorang naturalis Eropa agar dianggapnya sebagai ilmu yang sah.

Perjalanan ke Selatan dan Politik Penamaan

Mulanya adalah penjelajahan (baca: penjajahan). Ketika bangsa-bangsa Eropa mulai melakukan ekspedisi ke tanah di luar terjalnya dunia mereka pada abad ke-16 hingga 19, perjalanan itu selalu digambarkan sebagai pencarian ke tanah-tanah yang tak diketahui (terra incognita) yang menunggu untuk “dipetakan”.

Narasi inilah yang membentuk imajinasi bahwa Eropa dengan “keberanian intelektual” dan “rasa ingin tahunya”, menembus batas-batas dunia yang tidak diketahui dan membawa pulang pengetahuan yang kemudian mengubah peradaban.

Imajinasi itu menyimpan dusta yang pekat, sepekat berjuta galon darah yang menyertainya. Tanah itu tidak kosong. Orang-orang telah hidup di sana. Mereka telah menghafal bintang, menamai angin, menundukkan ombak, dan merawat benih-benih pengetahuan milik mereka sendiri Dengan kata lain, banyak dari penjelajahan itu menafikan keberadaan epistemologi orang yang sudah hidup di dalamnya. Orang Eropa hanya menyalinnya, dan mengambil nama dari apa yang sudah ada, sembari mengosongkan selongsosng bedilnya.

Ketika Cornelis de Houtman mendarat di Banten pada 1596, ia tidak hanya membawa mesiu dan kompas, tetapi juga buku catatan. Ketika armada Spanyol dan Portugis berlabuh di kepulauan tropika sebelumnya, mereka menghafal aroma rempah sebelum memetakan garis pantainya.

Linnaeus membutuhkan dunia tropis agar taksonominya lengkap. Ia menata jagat botani dari Uppsala di Swedia, namun fondasinya juga berasal dari ribuan spesimen yang dikirim dari Karibia, Afrika, dan Asia oleh murid-muridnya. James Cook dan Joseph Banks membutuhkan Pasifik untuk mengukuhkan reputasinya. Banks mengumpulkan ribuan spesimen dari penjelajahannya yang kemudian memenuhi lemari dan katalog Kew Gardens nun jauh di Inggris sana; dan di Maluku, Georg Everhard Rumphius menyusun Herbarium Amboinense di atas pengetahuan masyarakat lokal tentang rempah. Nama-nama mereka abadi, sementara nama para informan pribumi yang mengumpulkan datanya lenyap begitu saja.

Baca juga:

Sama halnya ketika ekspedisi Eropa memasuki Sumatra dan menemukan bunga raksasa yang kini dinamai Rafflesia arnoldii, mereka tak sedang menemukan sesuatu yang belum dimafhumi sesiapa pun. Ia bukan misteri bagi masyarakat yang telah mengenalnya jauh sebelum Joseph Arnold jatuh sakit di Bengkulu. Namun dunia memilih untuk mengingat Arnold dan Raffles sebagai “penemu”-nya dengan menyematkan nama mereka pada kembang padma raksasa itu.

Kisah-kisah ini terjadi berulang-ulang, hampir sebagai pola. Saintis Eropa datang dari langit seperti parasut. Mereka mendarat, mengumpulkan data yang dipandu oleh warga pribumi, lalu pergi dengan publikasi dan nama besar.

Ketika kembali ke institusi asalnya, ia dipuji sebagai pembawa pengetahuan universal. Sementara tanah dan orang dari tempat pengetahuan itu bercokolan mandek di catatan kaki, atau bahkan tidak disebut sama sekali. Itulah politik penamaan oleh rezim pengetahuan yang berkuasa.

Tanpa berpanjang-panjang, sains modern berdiri di atas fondasi yang timpang. Utara muncul sebagai penghasil teori dengan kemampuan generalisasi maha-besar yang melampaui ruang dan waktu. Sementara Selatan muncul sebagai pemasok data, sebagai satu persoalan partikular yang perlu diamati, dikoreksi, dan didefinisikan.

Sains modern bolehlah dikisahkan sebagai kisah kemenangan Eropa atas ketidaktahuan. Tetapi yang sebenar, ia adalah kemenangan narasi atas kenyataan.

Tentang Sains Parasut

Tamadun perihal penjelajahan itu tak berhenti, berganti muka ia. Jikalau di lampau nenek-kakek kita dijerat dirinya dalam belenggu bedil dan popor senjata, maka kita hari ini tetap hidup dalam sengkarut yang sama tapi beda, dijeratlah alam pikiran kita. Minda tertawan, jika saya meminjam ungkap dari Syed Hussein Alatas, dan salah satu penyebabnya ialah kecenderungan “terjun payung” orang-orang Utara ke Selatan.

Sains parasut adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan praktik penelitian ketika ilmuwan dari negara yang lebih maju atau berkuasa datang ke suatu lokasi yang dianggap kurang maju untuk mengumpulkan data atau sampel, kemudian kembali ke institusi asal mereka untuk menganalisis, menafsirkan, dan mempublikasikan hasil penelitian tanpa melibatkan peneliti lokal secara setara dalam proses ilmiahnya.

Bukan kebetulan bila banyak bangsa pascakolonial merasa asing terhadap sains yang lahir dari tanahnya sendiri. Kita sering menjadi pemasok data bagi teori yang dirumuskan entah di gedung mana di belahan bumi Utara, untuk kita gunakan ulang dalam membaca realitas kita.

Ketika saya membaca cuitan X dari akun resmi Oxford tentang temuan Rafflesia hasseltii di Sumatra beberapa hari lalu, melintas pikir saya tentang ketidakberanjakan dunia dari kecenderungan semacam ini. Dalam twit itu, yang ditonjolkan hanyalah peneliti dari institusinya saja, yaitu Chris Thorogood, tanpa menyebut andil dari rekanan penelitiannya yang merupakan orang Indonesia.

Saya tak hendak jadi seorang julid, yang tak suka secara membabi-buta pada peneliti asing. Tidak. Niat mereka mungkin tulus dan keingintahuan mereka bisa sejernih air hujan pagi hari. Dan siapa pun boleh jatuh cinta pada padma yang anggun sekaligus busuk itu. Namun ada sesuatu yang terasa mengganjal saat membacanya. Rupa-rupanya kebiasaan kolonial itu belum hilang sirna.

Saya percaya sains memang ingin dibagikan ke dunia. Namun saya juga percaya bahwa kata-kata yang dipilih dapat menunjukkan apa yang masih kita warisi dari sejarah panjang ketimpangan. Toh itu barangkali bukan kesengajaan. Barangkali hanya kebiasaan. Namun kebiasaan yang terus diulang akan berubah menjadi struktur, jadilah ia doxa. Dan struktur itulah yang kadang bekerja diam-diam melemahkan kita.

Dan Dekolonisasi Pasti di Dunia!

Jika Fanon benar, bahwa Dunia Ketiga adalah massa kolosal yang harus menjawab masalah dunia dengan cara-cara yang belum bisa dilakukan Eropa, maka sains pasca-jajahan perlu merumuskan kembali dari mana ia berbicara. Ia perlu berani berdiri di tanahnya sendiri, memahami dunia bukan semata sebagai objek eksotis bagi pusat pengetahuan, tetapi sebagai ruang hidup yang berdaya cipta.

Baca juga:

Saya bukan seorang isolasionis terhadap pengetahuan, dan saya tak setuju pada demarkasi Utara/Selatan atau Timur/Barat. Dunia terlalu berkelindan untuk dipisahkan dengan garis yang terlampau kaku. Tak ada ilmu yang tumbuh dalam kurungan geografis.

Newton pun berdiri di atas ombak kalkulus orang-orang Arab dan hitung-hitungan astronomi India. Darwin menjejak gagasan-gagasan biologi dan geologi yang pertama-tama dipantik oleh gunung-gemunung dan arsipelago di luar Eropa. Pengetahuan, selayak angin monsun, tak pernah punya satu pelabuhan dan hembusannya tak berarah satu titik saja.

Aras mula-mula keberangkatan saya adalah soal keberanian dan representasi atas pengetahuan itu. Siapa yang hari ini berani mengaku bahwa dunianya juga pusat bagi dunia? Siapa yang memiliki suara untuk mengatakan: Inilah ilmu kami, yang lahir dari pergumulan kami dengan realitas kami sendiri?

Pandangan poskolonial punya kelemahan jika ia hanya “dikaji” begitu saja, karena ia akan mengantarkan kita pada kecenderungan victimhood belaka. Kita harus mengakui bahwa sejarah telah mewariskan asimetri. Kita tidak memilih titik berangkat kita dalam peta geopolitik pengetahuan, namun kita bisa memilih arah berjalan dari apa yang telah kita pelajari dari sejarah.

Ada baiknya proyek dekolonisasi tidak dipahami secara dangkal sebagai upaya untuk menukar satu imperialisme dengan imperialisme baru, membangun tembok pembatas baru di atas reruntuhan tembok lama.

Tidaklah ideal juga jika gagasan untuk melampaui kondisi pasca-jajahan itu bermuara pada dikotomi bahwa semua yang lahir di Selatan pasti murni, dan semua yang berasal dari Utara pasti cemar. Dunia lebih rumit dari itu. Hendaklah ia dipahami sebagai pemantik keberanian untuk berdiri sejajar, bukan saling meninggikan.

Saya selalu merasa, sains akan lebih manusiawi jika ia menyadari bahwa dunia ini bukan sebuah “semesta tunggal” yang harus dibaca dari satu sudut saja. Dunia ini pluriverse, meminjam istilah Arturo Escobar. Bahwa ada banyak cara merasakan realitas, banyak logika untuk memahami tanah, banyak nalar yang bisa berjalan bersama.

Ilmu pengetahuan tak harus tunggal sumbernya, tunggal kiblatnya, tunggal tafsirannya. Pada akhirnya, sains yang adil bukan sains yang berkiblat pada Barat, bukan pula sains yang terkunci di Timur. Ia adalah sains yang mendengar dari segala arah mata angin dan merayakan kenyataan bahwa dunia terlalu luas untuk diringkus oleh satu sudut pandang saja.

Sains akan benar-benar merdeka ketika setiap bangsa berhak menjadi pusat pengetahuan di tanahnya, dengan bahasanya, dengan syarat-syaratnya sendiri. Karena pengetahuan dan dunia yang hanya memiliki satu pusat cepat atau lambat akan runtuh oleh ketunggalannya sendiri. Dan ketika masa itu tiba, parasut akan berhenti melayang. Ia akan menjejak tanah. Bersama.

 

 

Editor: Prihandini N

Muhammad Haidar Sabid A
Muhammad Haidar Sabid A Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email