“Medicine is a social science,” kata Virchow, “and politic” lanjutnya, “is nothing else but medicine on a large scale.”
Aforisme ini begitu terkenal di dunia kedokteran. Rudolf Virchow, pencetusnya, merupakan seorang ilmuwan Jerman yang masyhur dalam bidang biologi dan kedokteran. Sejumlah organ, penyakit, kelainan, metode, teori, alat kedokteran, dan konsep dinamai menurut namanya, dan sebagian lagi dinamai sendiri olehnya. Berbagai bidang keilmuan—terutama biologi sel dan patologi modern—memantapkan kaki berdiri di atas gunung penemuannya. Magnum opus-nya, berisi penguatan akan kalimat “omnis cellula e cellula”, membuat kalimat ini diakui menjadi diktum ketiga dalam teori sel.
Kanker tanpa kontribusinya, mungkin akan tetap menjadi sesuatu yang ditakuti dan tidak diketahui wujud dan asalnya bagai sosok penunggu hutan rimba. Bahkan, mitos sentral rasis ilmiah supremasi bangsa Arya sempat meredup karena penelitiannya (sebelum pada akhirnya, mitos ini menjadi pandangan utama negara karena dipopulerkan oleh pelukis Austria yang lahir tiga tahun setelah penerbitan karyanya). Keahliannya diakui sehingga ia menjadi dokter yang dipercaya merawat Kaisar Frederick III, anggota dari berbagai scientific society, hingga meraih Medali Copley sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan. Oleh rekan-rekannya, Virchow mendapat julukan “Pope of medicine.”
Melihat betapa besarnya kontribusi Virchow pada disiplin biologi dan kedokteran, saya kira siapapun pasti tergoda untuk menganggap bahwa Virchow pastilah ilmuwan model spesialis yang hanya fokus memelajari monodisiplin ilmu saja. Faktanya, di fase kehidupan selanjutnya, ia malah menjadi polimatik. Berbagai bidang lain ia tekuni: antropologi, arkeologi, prasejarah, hingga politik—ia menjadi anggota parlemen di kemudian hari.
Baca juga:
Padahal, ilmuwan Aristotelian ini merupakan seorang lulusan sekolah biarawan. Virchow yang memiliki suara yang lemah, merasa minder bila ia harus berkhotbah. Kedokteranlah jalan yang ia pilih selanjutnya. Sejenak ia kesampingkan kepekaan sosialnya hingga ia ditugaskan untuk menangani epidemi tifus di Silesia Hulu yang secara umum gagal ia atasi. Kegagalan ini menjadi titik balik dari kehidupan seorang Virchow, sedang laporan setebal 190 halaman yang ia terbitkan menjadi titik balik dalam dunia perpolitikan dan kesehatan publik Jerman.
Aforisme di atas muncul setelah wabah tersebut. Kalimat ini bersama kalimat-kalimat selanjutnya tersusun menjadi sebuah paragraf yang darinya lahir cabang keilmuan bernama kesehatan publik. Aforisme ini mengguncang tatanan sosial-politik di Jerman, sebab mempopulerkan kesadaran bahwa faktor utama maraknya wabah, penyakit dan kelainan bukan disebabkan oleh patogen dan genetika (atau bahkan dosa) yang merupakan tanggung jawab petugas medis (dan pendeta). Lebih dari itu, maraknya masalah kesehatan merupakan dampak dari buruknya tata kota, sanitasi, serta nutrisi masyarakat yang merupakan tanggung jawab pemerintah.
Temuan itu mengubah Virchow yang bersuara lembut menjadi aktivis “bersuara” lantang. Inilah yang kemudian menumbuhkan minatnya untuk menekuni berbagai bidang keilmuan yang lain. Namun, keterlibatannya dalam Musim Semi Rakyat membuatnya diasingkan. Keterasingan—yang merupakan enzim bagi otak para pemikir—dimanfaatkan dengan baik oleh Virchow, hingga membuat namanya semakin dikenal. Kesendiriannya dalam kepompong benar-benar membuahkan sayap yang indah. Kegemilangan karya-karyanya membuat pemerintah mengangkat Virchow menjadi bangsawan—meski ia batal menjadi “von” Virchow karena ia menolaknya.
Social science yang dimaksud Virchow itu, bukan ilmu pengetahuan sosial. Yang dimaksud Virchow ialah science yang berdimensi social, atau science yang berimplikasi pada social society. Hal ini diperjelas Virchow di kalimat berikutnya, “Kedokteran—sebagai social science, sebagai ilmu tentang manusia—memiliki kewajiban untuk mengobservasi masalah dan bereksperimen akan solusi teoritisnya. Sedang politisi, antropolog praktis, harus menemukan cara untuk mengaktualisasikan solusi tersebut.”
Ini menunjukkan meski Virchow menyebut kedokteran sebagai social science, tidak berarti Virchow mencampuradukkan ilmu pengetahuan modern yang sudah diklasifikasikan (meski bagi saya pembagian logi-logi ini juga tidak saklek) karena secara jelas ia membedakan kedokteran yang bertugas memberikan solusi teoritis dengan ilmu sosial yang bertugas menemukan solusi aktual.
Virchow lalu mengakhiri aforismenya dengan suatu statement yang menakjubkan: “Dokter adalah pengacara bagi orang miskin, dan sebagian besar masalah sosial harus diselesaikan mereka”. Karenanya, pernyataan ini jelas layak direnungkan, lebih dari itu, layak diimplementasikan. Sebab bila kita lihat di sekitar kita, sudahkah para dokter (dan para ilmuwan lainnya) menjadi pembela hak bagi mereka yang kekurangan? Sudahkah kedokteran itu (dan sains pada umumnya) menjadi suatu bidang ilmu yang bermanfaat secara sosial?
Dua sisi inilah yang saya temui ketika mendalami kehidupan seorang Virchow. Di satu sisi, pernyataannya tentang sel menjadi salah satu pilar di bidang biologi (yang tanpanya kedokteran tak akan bisa semaju ini), sedang di sisi lain pernyataannya tentang kesehatan publik berjalan merangkak, sehingga begitu nampak ketimpangan doktrin Virchow yang memiliki dua sisi itu. Doktrinnya dalam bidang sel dan autopsi sangat masyhur digunakan, namun, doktrin Virchow pada bidang sosial-masyarakat belum mendapat tempat yang sama. Dalam bidang yang terakhir ini, Virchow terasa dingin, tenang dan perlahan mati sedang dalam bidang yang awal terasa nafas dan geraknya.
Ironis memang, karenanya perlu mengikutsertakan doktrin sosial-masyarakat Virchow ke dalam metode ilmiah sehingga lazim digunakan. Kerap kita temui meski ilmuwan-ilmuwan itu sering berkompetisi dalam merumuskan suatu penemuan ilmiah, sangat sedikit yang menganggap penting implikasi sosial akan penemuannya. Karya tulis ilmiah mereka kebanyakan hanya selesai pada tahap idea, atau meskipun dikaryakan, hanya berorientasi pada keuntungan ekonomis dan ekologis sehingga karya-karya ilmiah itu bagi masyarakat luas tampak bagai awang-awang saja. Seberapa besar pengaruh suatu inovasi sains terhadap kondisi sosial masyarakat misalnya, atau dalam konteks kritik pemerintah yang berdasarkan korelasi kebijakan politik dengan kondisi kesehatan masyarakat belum menjadi panduan bagi para saintis untuk mengaplikasikan penemuannya.
Memang sudah terdapat beberapa, namun tentu sangat sedikit bila dibanding mayoritas cerdas cendekia di sekitar kita yang masih memusatkan hasil pemikirannya mengejar ketinggian nama sehingga jauh dari kondisi permasalahan akar rumput. Selain itu, perguruan-perguruan tinggi kebanyakan merasa bahwa tetek bengek publikasi dan akreditasi lebih penting untuk diurus, sehingga perasaan eksklusivitas ini menjadikan frasa “menara gading” yang sebetulnya dimaksudkan sebagai satir, kini malah disematkan dengan rasa bangga. Para mahasiswa-dosen terus didorong berSINTA-scopus ria, padahal kebanyakan hanya berlomba dana saja. Belum lagi, pribadi-pribadi yang telah memiliki privilege keilmuan kerap merasa nyaman dan aman dengan cara menjilat para penguasa.
Akibatnya, pendidikan sains kini hanya terasa bagaikan formalitas. Ilmu pengetahuan tak lagi menjadi sarana untuk membebaskan dan melawan, melainkan menjadi belenggu dan kekangan. Masyarakat kita terkesan (dan memang dibiarkan) jauh dari kesadaran-kesadaran ilmiah. Logika tak lagi menjadi pertimbangan para penguasa dalam merumuskan suatu kebijakan. Tingginya harga “tumbal” untuk mengakses pendidikan, serta hilangnya kepekaan mereka yang sudah terdidik membuat kita bertanya-tanya, kemajuan zaman itu kemajuan seperti apa? Karena rasa-rasanya, frasa “kemajuan zaman” itu kini omong kosong belaka.
Karenanya, dapat dipahami bahwa dalam sains yang dianggap objektif tersebut, keberpihakan jelas diperlukan. Walaupun kelihatannya, objektivitas—yang berarti kualitas bebas bias dan prasangka dalam analisis, penilaian hingga penyajian fakta—nampak bertentangan dengan apa yang saya sebut keberpihakan, bila diperhatikan secara lebih mendalam, “keberpihakan” dan “objektivitas” sama sekali bukan dua hal yang bertentangan.
Sains—dengan objektivitasnya—hanyalah semacam alat yang penggunaannya tetap saja tidak bisa lepas dari keberpihakan pribadi penggunanya. Dalam hal ini, sains sama saja dengan pisau yang berpeluang digunakan mengiris dan membelah atau membunuh dan melukai. Sama juga dengan pena yang mungkin dibuat menulis risalah atau menggambar porno. Ini berarti, saintis dituntut abai—terhadap bias dalam penelitiannya—bukan lalai—terhadap masalah konkrit di sekitarnya.
Baca juga:
- Psikologi Indigenous: Dana Riset, Bahasa Ilmiah, dan Permasalahan Lainnya
- Problem Penelitian di Indonesia: Dijadikan Barang Dagang hingga Mengeksploitasi Mahasiswa
Meski diam dalam ketakberpihakan jelas menggoda dan terasa nyaman bagi kita semua, perlu diingat bahwa—menurut Desmond Tutu, netralitas dalam keadaan tak berkeadilan sama saja dengan keberpihakan pada penindasan. Bukankah ilmu pengetahuan yang membebaskan (baik pada masa aufklarung, renaissance, maupun golden age) adalah ilmu yang sama yang digunakan dalam penjajahan mayoritas Asia dan Afrika? Dus, bila kemajuan-kemajuan itu tak disertai keberpihakan pada yang papa, perlawanan kepada yang menindas serta penyamarataan dan pemerataan pendidikan, gamblang perlu dipertanyakan: untuk apa kemajuan yang memperindah bila tak mengindah?
Jelas, jauh bila pernyataan ini diartikan penyangkalan akan hasil-hasil yang didapat dari perkembangan zaman. Kita tahu bahwa penemuan banyak dihasilkan akibat perang. Kita sadar bahwa dunia tak berjalan dengan cara yang ideal—ia bahkan lebih sering berlaku dalam cara yang ironis. Tanpa perang, bisa jadi kita tak mendapati keunggulan teknologi komputer seperti yang sekarang saya gunakan untuk menulis. Tanpa perang, bisa jadi kemajuan transportasi jauh tertinggal bertahun-tahun dari sekarang. Tanpa perang, bahkan, tingkat keselamatan pengobatan masih teramat rendah dan akan kita dapati banyaknya nyawa terkorban.
Saya tak percaya kebetulan, namun penemuan teknik donor darah yang bebarengan dengan dimulainya Perang Dunia I tetap terasa bagai keajaiban. Bagaimana tidak? Ini ibarat mendapat waktu tambahan dalam kehidupan—yang tentu tak sesederhana menambah Rp.5000 untuk internet satu jam. Bagaimanapun, ini bukan hadiah. Cukup sudah manfaat yang kita dapat dari perbuatan kotor umat manusia. Sebab, sains tidak hanya tentang kemajuan. Sains juga tentang kebermanfaatan.
Ada sebuah kalimat menarik yang menurut saya tepat dijadikan penutup artikel ini. Kalimat ini ditulis Leon Eisenberg M. D. dalam sebuah essai yang berjudul Rudolf Ludwig Karl Virchow, Where Are You Now That We Need You? yang ditulis pada 1984 yang kira-kira berbunyi: “Tak seorangpun dari kita yang bisa berharap untuk menyamai prestasi Virchow. Namun keberanian dan keyakinannya merupakan inspirasi bagi kita untuk berani berbicara demi membela nilai-nilai yang tak kurang pentingnya sekarang dibandingkan seratus tahun yang lalu.” (*)
Editor: Kukuh Basuki

keren gini