Konsekuensi terbesar atas tidak memberikan perhatian yang serius terhadap sains adalah lahirnya wabah anti-sains dalam ruang publik. Situasi ini tidak serta merta langsung merujuk pada hal faktual di kalangan publik begitu saja. Namun, ada relasi sistemik yang membangun—dan harus diakui keberadaan negara terlibat di sana. Artinya, kebijakan dari sebuah negara itu membentuk paradigma di dalam kelompok masyarakat yang ada.
Bagaimana yang terjadi pada pemberitaan di akhir-akhir ini berhubungan dengan penurunan minat sains di Indonesia? Kabar itu tak lain berasal dari penjelasan seorang akademikus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 24 Februari 2025. Harian Kompas edisi 25 Februari 2025 mengabarkan narasi itu dalam liputan berjudul Minat Terhadap Sains Menurun. Realitas yang muncul itu dengan berdasar pada situasi mutakhir di kalangan para siswa di Indonesia.
Turunnya minat para murid masa kini terhadap sains perlu menjadi perhatian semua pihak. Sains semakin dianggap menyulitkan dan jauh dari keseharian. Selain itu, sosok ilmuwan yang menginspirasi juga kalah tenar dibandingkan dengan pelaku bisnis dan hiburan (Kompas, 25/02/2025).
Baca juga:
Salah satu faktor yang menjadi penyebab, sebagaimana diungkapkan oleh dosen departemen fisika UGM Wiwit Suryanto, yakni metode pengajaran yang kurang menarik dalam kurikulum pendidikan kita. Hal tersebut kemudian memiliki pengaruh pada kemunculan masalah lain, seperti minimnya ruang eksperimen dalam eksplorasi pengetahuan hingga konsep teori pemahaman yang tidak terkorelasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai sebuah fenomena, kiranya menarik untuk membaca gejala lain sebagai bagian tanda yang terendus dalam konotasi keberadaan sains itu sendiri. Itu kemudian membuat saya perlu menerawang ingatan saat berkesempatan belajar di jurusan fisika di sebuah kampus di Kota Solo pada periode 2014-2021. Kiranya bukanlah sebuah kebetulan, saat sains dalam tinjauan mutakhir masih kurang atau tidak diminati publik.
Betapa pun satu fakta yang tak dapat ditampik adalah dalam konteks Indonesia, sains masih memiliki kesan “eksklusif”. Itu terbukti dengan cara pandang kalangan masyarakat terhadap sains yang direpresentasikan sebagai bahasa yang sulit, abstrak, dan penuh rumus yang membutuhkan hafalan. Cara pandang itu yang kemudian berdampak pada sulitnya sains menjadi kesadaran publik. Hal itu pula yang membayangi banyak kalangan masyarakat jika anak-anaknya mempelajari sains dibebani ketakutan-ketakutan kultural yang diproduksi dalam proses cara pandang tersebut.
Rekonstruksi Cara Pandang
Jika menilik dalam tautan sejarah, persepsi akan keberadaan sains yang dikesankan eksklusif jamak terjadi sejak Orde Baru. Kajian yang dilakukan oleh Niels Mulder dalam buku Wacana Publik Indonesia: Kata Mereka tentang Diri Mereka (2003) mengutarakan bukti itu dalam sekian argumen. Ia menyebutkan, konstruksi Orde Baru yang mengesampingkan Ilmu Pengetahuan Sosial membuat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam menjadi superior. Konstruksi tersebut kemudian membentuk kesadaran para siswa berimajinasi dalam membangun cita-cita.
Hal itu ditambah dengan kemunculan B. J. Habibie, sebagai sosok yang merepresentasikan kalangan teknokrat dalam sejarah politik di Indonesia. Hanya saja, kecenderungan posisi sains sebagai superior menghadapi tantangan dalam situasi perpolitikan di Indonesia. Kebijakan yang tak mendukung sepenuhnya akhirnya melahirkan fakta bahwa alih-alih sains menjadi arus utama, namun terkendala pada banyak aspek. Itu sebenarnya menjadi dampak dari situasi poskolonial. Sains dan teknologi bagi negara berkembang menghadapi jeratan utama berupa kapital dan relasi ketergantungan.
Dalam hal praksis, hal itu menyangkut pada pendanaan riset, fasilitas laboratorium, hingga ketersediaan lapangan kerja yang linier dengan sains. Misalkan dalam fisika, sebagaimana pernah dicatat oleh Jim Al-Khalili (2022), di negara berkembang jurusan fisika lebih cenderung dikembangkan pada riset fisika teoretis ketimbang fisika eksperimental. Sebab, laptop dan papan tulis lebih murah ketimbang menyediakan laser dan akselator zarah.
Kontradiksi yang muncul atas posisi ini perlu dibaca dalam konteks mutakhir dalam Indonesia. Agaknya, terlalu dini jika kemudian langsung merujuk pada tataran faktual di kalangan para siswa untuk dijadikan pihak yang salah akan situasi penurunan minat sains. Ini membutuhkan rekonstruksi cara pandang negara dalam melahirkan kebijakan yang jelas dan struktur dalam menyigi misi pengembangan sains yang berjangka.
Kepanikan Moral
Kita memang mudah menunjukkan bahwa sains sangat begitu memiliki korelasi pada kelahiran teknologi yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, perlu digarisbawahi, ruang kultural politik kita acap mengabaikan hal itu. Hal yang kemudian terjadi, justru dari kalangan politisi, pejabat publik, dan pembuat kebijakan menghadapi jebakan pada dinamika sains dan teknologi pada aras yang disebut oleh Seno Gumira Ajidarma (2019) sebagai kepanikan moral (moral panic).
Situasi itulah memunculkan banyak kalangan yang teguh untuk tidak mau ketinggalan terhadap terminologi kemajuan sains dan teknologi, seperti revolusi industri keempat, kecerdasan buatan, hingga komputasi kuantum. Namun, angan-angan untuk terus mengikuti kemajuan tersebut terkadang hanya menjadi ungkapan klise dan sloganistik yang tidak diimbangi upaya sistematik dalam membangun manusia yang memiliki wawasan sains dan teknologi.
Baca juga:
Pengabaian itu yang menjadikan sebagian masyarakat akhirnya terbentuk sebatas menjadi konsumen akan kemajuan teknologi. Fenomena inilah yang menjadikan kita mafhum, sains tidak menjadi paradigma bersama dalam kehidupan publik—yang kemudian menelurkan kesadaran bagi tiap individu terpatri “metode saintifik” dalam menjalani dan meresapi berbagai peristiwa di dalam kesehariannya. Peristiwa itu sejatinya sarat keilmuan. Namun, karena tidak adanya sebuah fondasi, yang terjadi adalah sebuah pengabaian.
Menggagas Ulang
Ahli astronomi Amerika Serikat Carl Sagan pernah berucap, “Karena sains tidak dapat didiskusikan tanpa kontak, terkadang sekilas, terkadang berhadapan langsung, dengan sejumlah isu sosial, politik, agama, dan filsafat.” Pendapat itu memberi penegasan bahwa sains tidak bisa berdiri sendiri, namun memerlukan kolaborasi dari beragam bidang. Ini adalah pendekatan penting yang perlu menjadi arus utama dalam konstelasi perhatian negara terhadap sains dalam ruang publik.
Pada kasus menurunnya minat sains di kalangan anak sekolah, kiranya tidak berlebihan jika kita memasukkan pula aspek pendidikan atas ungkapan Carl Sagan. Aspek itu begitu penting dalam proses penumbuhan kemauan untuk memupuk semangat terhadap ilmu pengetahuan. Ada beberapa faktor yang patut menjadi evaluasi. Pertama, keresahan publik acap berpusar pada sajian teks dalam buku pelajaran yang tidak menggugah imajinasi dan menciptakan selera dalam berpikir. Buku pelajaran menjadi satu hal mendasar sebagai koneksi siswa terhadap sains. Artinya, perlu susuan bahasa teks yang menarik dan menggugah rasa keingintahuan yang lebih.
Hal yang kedua, dalam konteks pendidikan sains di Indonesia, jarang mengaitkan pada sejarah yang kemudian menyangkut pada pengenalan para ilmuwan baik internasional maupun nasional kepada siswa di sekolah. Padahal, upaya itu menjadi sangat penting dalam mendekatkan sains dengan merujuk pada proses panjang yang ditempuh tiap tokoh—baik duka maupun suka—sebagai penegasan bahwa sains adalah proses panjang yang membutuhkan ketekunan, kesetiaan terhadap fakta, dan keberanian dalam melakukan koreksi—untuk menemukan kebenaran.
Saat mengingat klaim akan generasi Indonesia Emas 2045, kiranya dengan masalah yang terjadi, membuat kita perlu berpikir ulang. Dalam konteks ini mengacu pada misi besar terhadap sains. Pendidikan perlu lekas dibangun akan upaya perbaikan dalam memperbaiki metodenya, termasuk pada pendidikan sains. Jika dalam konteks kini metode pendidikan sains masih menggunakan cara yang sudah usang, dapat dipastikan kita akan mengidap keengganan pada penumbuhan kemauan terhadap sains.
Sebaliknya, jika pendidikan menawarkan kebaruan berupa metode dalam pengajaran sains yang ditopang pada kebijakan yang terstruktur, dukungan politik, dan kolektivitas publik dalam menafsirkan perubahan zaman, kemungkinan besar peluang itu terwujud. Sains dengan hal mendasar berupa metode ilmiahnya, dapat menuntun generasi untuk terus terbuka pikirannya, memiliki kemampuan berpikir mendalam, dan kreatif untuk terus mau menafsirkan peristiwa dengan kacamata keilmuan dalam menjawab tantangan zaman. (*)
Editor: Kukuh Basuki
