Alumnus Prodi PBSI UAD dan Magister Sastra UGM. Studi lanjut di Prodi S3 Ilmu-Ilmu Humaniora UGM dan dosen tetap di Prodi PBSI Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Risalah Alam dan Peristiwa Kerasulan dalam Puisi-Puisi Kiptiyah

Ilham Rabbani

2 min read

Setelah Perginya Seekor Burung (2020) mendapatkan penghargaan nominasi 5 besar dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia tahun 2020 silam, Lailatul Kiptiyah, salah seorang sastrawan yang bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, kembali menerbitkan kumpulan puisi berjudul Kata dan Batu (2023).

Karya terbaru Kiptiyah ini masuk dalam nominasi 5 besar Penghargaan Sastra 2023 kategori Kumpulan Puisi yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di bawah Kemendikbudristek. Dalam nominasi itu, karya Kiptiyah bersanding dengan karya-karya dari sastrawan lain seperti Hasan Aspahani, Kedung Darma Romansha, Kiki Sulistyo, dan Mario F. Lawi. Buku puisi setebal 78 halaman terbitan DIVA Press itu memuat 54 judul puisi dengan narasi-narasi yang cukup pendek.

Jika bertolak dari pandangan Ralph Waldo Emerson tentang puisi sebagai sarana menyampaikan sebanyak-banyaknya pelajaran melalui sesedikit mungkin kata-kata, maka puisi-puisi dalam buku terbaru Kiptiyah sangat mencerminkan karakteristik puisi itu. Boleh dibilang, buku ini membuktikan kapasitas dan kecakapan Kiptiyah dalam memilah dan memilih diksi, serta pemahamannya atas konten dan konteks yang ia bicarakan dalam puisi-puisinya.

Relasi Mutual Manusia dengan Alam

Seperti pemandu perjalanan spiritual, larik-larik dan bait-bait puisi Kiptiyah akan membawa pembaca melangkah kembali untuk mencermati, menyusuri, menziarahi, atau sekadar mengingat kembali berbagai hal. Kita boleh menyebutnya sebagai perjalanan kembali menjadi bagian dari ruang (space) dan suatu tempat (place). Membaca Kiptiyah, kita diajak kembali melakukan penyatuan dengan alam lewat percakapan dengan flora-fauna, kembali mencari jalan kepada ajaran agama dan fitrah manusia, kembali dalam konotasi kematian, atau bahkan kembali kepada “puisi” itu sendiri.

Bukti adanya spirit perjalanan kembali ke arah interaksi mutual dengan alam, khususnya flora, bisa dilihat lewat teknik penjudulan puisi yang menggunakan nama-nama tumbuhan atau nama ilmiahnya—sirih gading, kenanga, Zinnia elegans, Aglaonema, Portulaca, Sansevieria trifasciata, Caladium, dan Miana. Bukti lainnya yang mempertegas spirit itu ialah diksi komponen-komponen alam sebagai pembangun metafora dan citraan dalam puisi misalnya seperti sungai, batu, gunung, angin, pepohonan, hutan, sawah, pematang, ladang, dan cahaya matahari.

Lantas, bagaimana dengan penarasiannya? Selain dengan strategi personifikasi, puisi-puisi Kiptiyah juga berupaya mendekatkan manusia dengan alam lewat penghadiran Aku-lirik yang takzim sekaligus mampu bergerak aktif di hadapan alam untuk mengolah dan menjaganya. Satu di antara sekian kutipan yang mewakili itu ialah:

Kumasukkan tiga butir benih, ke rongga tanah, yang hitam bersih… Di hari ke tujuh, benih-benih pecah, membuka pori-pori tanah, kuteguhkan diri merawatmu, dengan kasih sayang penuh, kuatkan batangmu, kibarkan daunmu… (Puisi Zinnia elegans, hlm. 19)

Ringkasnya, Kiptiyah sama-sama meletakkan manusia dan alam sebagai subjek, bukan dalam relasi subjek-objek dengan manusia di posisi superior sehingga mereka bebas mengeksploitasi bumi sekehendak hati. Hal ini mengindikasikan bahwa untuk membangun kesatuan dan kepaduan sebuah puisi, bukan hanya kelihaian memahat kata-kata yang dibutuhkan seorang penyair, melainkan wawasan atas disiplin lain—setidak-tidaknya yang dasar seperti botani, zoologi, ekologi, sosiologi, politik, histori, budaya dalam definisi luas, dan lain-lain.

Puisi Tentang Nabi

Di samping puisi-puisi tentang interaksi mutual manusia dengan alam, Kiptiyah juga menyajikan episode atau peristiwa kerasulan yang dialami Nabi Muhammad SAW lewat puisi Kata dan Batu yang sekaligus menjadi judul buku. Ia menulis:

Gua yang telah menunggu, sebagaimana Jibril yang setia, ketika lelaki terpilih itu telah, di dalam gua. Diulurkannya dengan patuh, sebuah kata. Hingga lelaki itu menangis, (apa yang mesti ia ucap), keringat menitik serupa, gerimis yang mekar. … Lalu Jibril menuntunnya, melewati cahaya yang pertama.

Membaca puisi itu secara utuh akan mengingatkan pembaca pada peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira ketika Rasulullah diminta ber-iqra’ secara berulang. Ada semacam strategi dramatisasi dan pemuisian peristiwa ketika batu-batu yang menyusun gua digambarkan menunggu.

Jibril yang setia (mulai) mengulurkan sesuatu dengan patuh, yakni sebuah kata—hingga akhirnya Nabi menangis, keringat(-nya pun) menitik serupa gerimis yang mekar, diiringi laku Jibril menuntunnya melewati cahaya pertama.  

Di titik ini, ada sisi atau semangat yang ditawarkan sang penyair untuk kembali mencari jalan kepada ajaran agama lewat puisi, sebagaimana sudah disinggung sebelumnya.

Baca juga:

Sebenarnya, ada juga pembicaraan-pembicaraan lain yang disentil Kiptiyah lewat puisi di luar bingkai itu, hanya saja tidak semencolok dan sedominan topik alam dan religi tersebut. Untuk membicarakan secara mendetail tema-tema lainnya, dibutuhkan pembacaan yang lebih mendalam dan komprehensif lagi. Yang jelas, kita sepakat bahwa untuk seterusnya, puisi akan selalu menghadirkan pemaknaan baru, di hadapan pembaca yang baru pula.

 

Editor: Emma Amelia

Ilham Rabbani
Ilham Rabbani Alumnus Prodi PBSI UAD dan Magister Sastra UGM. Studi lanjut di Prodi S3 Ilmu-Ilmu Humaniora UGM dan dosen tetap di Prodi PBSI Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email