Senang menulis di media-media online alternatif. Sekarang tengah menempuh studi S1 Sejarah di Universitas Negeri Malang. Instagram: @pascafarhan

Republik yang Dibayangkan Tan Malaka, Masihkah Kita Jalankan?

Farhan M. Adyatma

4 min read

Tan Malaka hari ini ramai dirayakan anak-anak muda, tetapi ada satu pertanyaan: apakah Republik ini benar-benar dibangun sesuai dengan gagasan yang pernah ia tawarkan?

Tan Malaka, dalam 1-2 tahun ke belakang, menjadi tokoh yang digandrungi oleh anak-anak muda sekarang. Nama Tan Malaka menjadi populer berkat narasi-narasi di media sosial yang menganggap sosok tersebut sebagai “pahlawan yang dilupakan”.

Melihat Tan Malaka yang populer di kalangan anak muda hari ini, saya jadi teringat dengan sejarawan Harry A. Poeze dan karyanya yakni Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia yang sangat otoritatif dalam pembahasan mengenai Tan Malaka. Melalui penelitian Poeze itulah makam Tan Malaka bisa ditemukan pada 2007, dan lokasinya berada di Selopanggung, Kediri.

Tanpa sumbangsih Harry A. Poeze dalam meneliti Tan Malaka itu, rasanya sulit membayangkan Tan Malaka bisa populer hari ini. Tanpa penelitian panjang Poeze mengenai Tan Malaka, mungkin Tan Malaka masih menjadi sosok yang cukup “misterius” dalam sejarah Indonesia dan masih dilupakan dalam buku-buku sejarah di sekolah.

Karya-karya Tan Malaka juga banyak dibaca hari ini, sebut saja Madilog, Gerpolek, Aksi Massa, dan tentu saja Naar de Republiek Indonesia (bahasa Indonesia: Menuju Republik Indonesia) atau yang kerap disingkat NDRI. NDRI ditulis pada 1925 dalam bahasa Belanda, dan ini merupakan pertama kali istilah “Republik Indonesia” muncul dan digunakan, berjarak 20 tahun sebelum Proklamasi.

Baca juga:

NDRI ditulis oleh Tan untuk menjawab pertanyaan “kalau Republik berdiri hari ini, apa yang mau dilakukan selanjutnya?”. Tan menjawabnya melalui NDRI setelah sebelumnya dibiarkan kosong, terutama oleh gerakan-gerakan Kemerdekaan Nasional misalnya seperti Boedi Oetomo dan Indische Partij yang gagasannya masih terhenti pada cita-cita “kemerdekaan” dan tidak—atau setidaknya belum—sampai pada “mengisi kemerdekaan”.

Menuju Republik

Dalam NDRI, Tan Malaka menggunakan kerangka ideologi Marxis-Leninis dalam proses menuju Republik Indonesia, mengingat dirinya adalah seorang Bolshevik. Oleh karena itu, dalam NDRI, tidak aneh jika banyak sekali aspek Marxis-Leninis yang Tan bayangkan bisa diterapkan untuk mencapai Republik Indonesia dan program-programnya setelah Republik berdiri.

Sebagai anggota PKI, jelas bahwa Tan menginginkan berdirinya negara komunis di Indonesia (pada saat itu bernama Hindia Belanda). Berbeda dengan gerakan-gerakan seperti Boedi Oetomo dan Indische Partij yang menempatkan kemerdekaan Indonesia sebagai perjuangan nasional, Tan menganggap bahwa kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari perjuangan proletariat internasional untuk mengancurkan kapitalisme dan menjatuhkan borjuasi.

Negara-negara kapitalis akan digantikan dengan negara-negara Soviet (baca: dewan pekerja, tentara, dan petani) sebagai perwujudan kediktatoran proletariat. Tujuan Soviet adalah menghapuskan kapitalisme dan mempersiapkan tumbuhnya komunisme (hlm. 40).

Setelah Republik Berdiri

Dengan premis bahwa Republik telah berdiri, Tan kemudian membuat rumusan-rumusan program untuk mengisi Republik yang baru berdiri. Tan menawarkan rumusan-rumusan programnya kepada PKI yang bagi Tan tidak pernah merumuskan dengan tepat apa yang mereka kehendaki, baik di bawah imperialisme maupun setelah penghapusan imperialisme (hlm. 52). Oleh karena itu, dalam bab Program Nasional P.K.I. (hlm. 46), dijelaskan dengan menggunakan poin-poin mengenai apa yang harus dilakukan PKI.

Tan menjelaskan bahwa sektor ekonomi harus dinasionalisasi, seperti pabrik, tambang, hutan, dan tentunya bank. Selain itu, Tan juga menyerukan pendirian koperasi rakyat, distribusi tanah yang tidak tergarap kepada petani miskin dengan pemberian bantuan keuangan untuk menetap di tanah itu, dan pengapusan sisa-sisa feodal serta penghapusan perkebunan swasta dengan kemudian didistribusikan kepada petani miskin dan proletar.

Dalam sektor politik, Tan menyerukan pendirian Republik Federasi dari berbagai pulau di Indonesia, dan segera mengadakan rapat umum nasional yang mewakili semua bangsa dan komunitas keagamaan di Indonesia. Tan juga menyerukan pemberian hak pilih penuh kepada seluruh penduduk Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan.

Bab Program Nasional P.K.I. ini pada akhirnya dituliskan Tan dengan cukup komprehensif. Hal itu karena sudah mencakup program ekonomi, politik, sosial, pendidikan, militer, polisi dan kehakiman, bahkan hingga rencana aksi. Rencana aksi ini salah duanya berisi tuntutan atas 7 jam kerja dan gaji minimum bagi para buruh (hlm. 50).

NDRI Edisi Kritis

Melalui Naar de Republiek Indonesia: Edisi Kritis 100 Tahun (2025) (selanjutnya disebut NDRI Edisi Kritis), Zen RS merekonstruksi NDRI dengan diberi catatan kritis. Catatan kritis ini ditampilkan layaknya catatan kaki biasa, tetapi di buku ini, catatan kaki diletakkan di setiap halaman sebelah kanan dan mendampingi teks aslinya di sebelah kiri. Catatan kritis ini berfungsi sebagai penjelas atas teks asli yang mungkin sulit dipahami, menjelaskan konteks pada masa NDRI ditulis, dan juga untuk mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa belakangan ini.

Mengaitkan NDRI dengan peristiwa-peristiwa belakangan ini, itu terlihat salah satunya pada pembahasan Tan mengenai program nasional PKI dalam sektor militer (hlm. 48). Tan menuliskan, “Pemberian hak penuh untuk berorganisasi dan berkumpul kepada militer berpangkat rendah.”

Hal tersebut relevan dengan UU TNI 2025 yang hanya menguntungkan militer berpangkat tinggi untuk masuk ke dalam urusan sipil, sementara para prajurit bawahan rentan dieksploitasi para atasannya, yakni para perwira yang bisa menikmati berbagai privilese dalam banyak aspek kehidupan (hlm. 49, catatan kaki no. 108).

Buku NDRI Edisi Kritis ini dibuat dengan premis bahwa terdapat kesalahan pembacaan terhadap NDRI yang disebabkan oleh kesalahan pemahaman atas bahasa asli NDRI (dalam hal ini bahasa Belanda). Oleh karena itu, NDRI Edisi Kritis ini tidak hanya sekadar copy-paste terhadap NDRI versi terjemahan bahasa Indonesia, melainkan juga berusaha menerjemahkannya dengan berusaha sedekat mungkin maknanya dengan NDRI versi asli berbahasa Belanda.

Namun, NDRI Edisi Kritis ini juga berusaha mengangkat nama penerjemah yang menerjemahkan NDRI versi asli berbahasa Belanda ke bahasa Indonesia, yakni Ongko D.. Menurut Zen RS, mayoritas NDRI terjemahan bahasa Indonesia tidak mencantumkan nama Ongko D. sebagai penerjemah (hlm. xxxi, catatan kaki no. 14). Oleh karena itu, dalam NDRI Edisi Kritis ini, dimuat juga biografi singkat Ongko D. yang ditulis oleh Zen RS sendiri. Ini adalah bentuk apresiasi atas kerja intelektual Ongko D. dalam menerjemahkan NDRI dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia.

Baca juga:

Selain itu, pada beberapa halaman dalam NDRI Edisi Kritis ini, juga terdapat kliping-kliping—baik merupakan arsip koran maupun foto—yang terletak di bagian kiri dari halaman sebelah kiri. Ini mengingatkan saya pada buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 (2024) karya Muhidin M. Dahlan. Kliping-kliping di dalam NDRI Edisi Kritis ini digunakan untuk memperjelas konteks yang tengah dibahas Tan Malaka di dalam bukunya.

Saya menemukan kekurangan dalam NDRI Edisi Kritis ini, yakni cukup banyak ruang kosong terutama pada halaman sebelah kanan. Kadang kala ada halaman yang catatan kakinya hanya ada 1-2 yang membuatnya tersisa ruang kosong yang cukup besar pada halaman sebelah kanan itu.

Ruang kosong ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meletakkan arsip-arsip ketimbang meletakkannya di sebelah kiri yang memakan seperempat halaman sebelah kiri. Konsekuensinya, jika tidak diperlukan adanya arsip di suatu halaman, maka bagian kiri dari halaman sebelah kiri tersebut dibiarkan kosong. Jadi bisa dibilang, buku ini menyisakan ruang kosong di beberapa halaman dan membuatnya jadi boros kertas.

Namun, kekurangan itu sendiri bagi saya tidak masalah, sebab yang jauh lebih penting dari perkara teknis tata letak adalah upaya Zen RS dalam menghadirkan kembali NDRI ke hadapan pembaca hari ini dengan pembacaan yang lebih jernih dan relevan untuk memahami hiruk-pikuk dunia hari ini. NDRI Edisi Kritis ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan, sejauh mana Republik Indonesia yang berdiri hari ini sesuai dengan Republik Indonesia yang dibayangkan Tan Malaka pada 100 tahun yang lalu?

 

 

Editor: Prihandini N

Farhan M. Adyatma
Farhan M. Adyatma Senang menulis di media-media online alternatif. Sekarang tengah menempuh studi S1 Sejarah di Universitas Negeri Malang. Instagram: @pascafarhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email