Jadilah baik tanpa harus merasa lebih baik dari siapapun.

Gelar Pahlawan di Negeri yang Lupa Jasa Pahlawan

Thaifur Rasyid

3 min read

Menjelang 10 November, negeri ini kembali menata ingatan. Seremoni disiapkan. Para pejabat  membacakan daftar nama tokoh yang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Di balik itu semua, muncul pertanyaan: Siapa sebenarnya yang paling pantas menyandang gelar pahlawan?

Pertanyaan itu tampak sederhana, tapi mengandung pergulatan yang panjang antara sejarah, politik, dan moral bangsa. Dalam setiap gelar kehormatan, terselip pertarungan memori: Siapa yang kita pilih untuk diingat dan siapa yang sengaja kita biarkan terlupakan?

Dalam struktur negara, pemberian gelar Pahlawan Nasional diatur oleh undang-undang. Ada tim peneliti, verifikasi, hingga keputusan akhir oleh presiden. Setiap calon harus memenuhi syarat moral, jasa besar, dan pengabdian yang tak ternilai pada bangsa. Namun, dalam praktiknya sejarah tak pernah steril dari tafsir. Ada tokoh yang disebut layak tapi tertahan di meja birokrasi. Ada pula yang justru diusulkan bukan karena jasa, melainkan karena kebutuhan politik rekonsiliasi.

Beberapa tahun terakhir, misalnya, nama Soeharto kembali muncul dalam wacana publik. Sebagian kelompok menilai jasa pembangunan dan stabilitasnya cukup besar. Namun, masyarakat sipil menolak, dengan alasan pelanggaran HAM dan korupsi yang membayangi masa pemerintahannya. Kontroversi ini menegaskan bahwa gelar pahlawan tak sekadar soal jasa, tapi juga soal narasi moral: Apakah sejarah bisa disucikan dengan gelar kehormatan?

Negara boleh menulis daftar pahlawannya. Tapi rakyat punya cara sendiri untuk mengenang. Kadang pahlawan sejati tak butuh piagam. Ia hidup dalam ingatan orang kecil yang pernah diselamatkan oleh ketulusan seseorang, misalnya guru di pelosok, tenaga medis di daerah rawan, aktivis yang dipenjara karena membela keadilan. Dalam banyak kasus, justru mereka yang bekerja dalam senyap itulah yang menjaga nyala kemanusiaan.

Rasulullah Saw pernah bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hadis ini memberi tafsir universal: Kepahlawanan tak diukur dari perang dan darah, tapi dari manfaat dan keikhlasan. Pahlawan sejati bukan yang menuntut penghormatan, melainkan yang terus berbuat meski tak diingat.

Dalam konteks itulah kita perlu menggeser paradigma pahlawan, dari simbol historis menjadi nilai moral. Bangsa ini terlalu sering terjebak dalam nostalgia tanpa makna. Kita rajin menabur bunga di makam pahlawan, tapi lupa menumbuhkan nilai perjuangan di kehidupan sehari-hari.

Politik Ingatan dan Lupa yang Disengaja

Sejarah Indonesia adalah sejarah yang sering “dipilih”. Beberapa nama besar diangkat ke langit, sementara nama lain disapu ke bawah karpet karena dianggap mengganggu narasi nasional. Lihat saja bagaimana nama-nama seperti Tan Malaka atau Amir Sjarifuddin sempat lama dihapus dari buku pelajaran, meski kontribusi mereka bagi kemerdekaan tak terbantahkan. Bahkan, banyak tokoh perempuan, ulama lokal, atau pejuang daerah yang masih belum dikenang karena tidak punya “akses politik” ke pusat kekuasaan.

Baca juga:

Dalam teori politik memori, seperti dijelaskan oleh Paul Ricoeur, mengingat tidak hanya tindakan moral, tapi juga politis. Ia melibatkan kekuasaan, yakni siapa yang berhak menentukan versi sejarah yang sah. Di Indonesia, gelar pahlawan kadang menjadi alat “rekonsiliasi simbolik” bagi kelompok tertentu, bukan penghargaan murni atas jasa kemanusiaan.

Maka dari itu, pertanyaan mendasarnya bukan hanya “siapa yang layak”, tapi juga “siapa yang masih berani diingat?” karena mengingat seseorang secara utuh berarti juga berani menghadapi luka yang ia tinggalkan. Gelar pahlawan, dalam arti ini, bukan sekadar penobatan, tapi juga penebusan sejarah.

Negeri ini sudah terlalu sering memuja simbol, tapi melupakan substansi. Kita punya monumen, tapi tak punya keteladanan. Kita punya museum perjuangan, tapi tak punya keberanian melanjutkan perjuangan itu dalam bentuk kejujuran sosial. Padahal, sebagaimana kata Buya Hamka, “Pahlawan adalah orang yang sanggup berjuang tanpa menunggu orang lain memulai.”

Hari ini, kepahlawanan mungkin lebih sulit. Musuhnya bukan penjajah berseragam, melainkan sistem yang pelan-pelan merampas nurani: korupsi, ketidakadilan, ketimpangan sosial, dan kehilangan empati. Di tengah situasi itu, pahlawan bisa lahir dari siapa saja, mahasiswa yang menolak diam melihat ketidakadilan, jurnalis yang menulis kebenaran meski diancam, atau petani yang mempertahankan tanahnya dari keserakahan.

Mereka mungkin tak akan tercatat oleh Istana, tapi sejarah sejati selalu lahir dari bawah. Sebab seperti kata Pramoedya Ananta Toer: “Seseorang bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan selama ia menulis kebenaran.”

Menemukan Pahlawan di Diri Sendiri

Pahlawan sejati tak selalu tampil gagah di depan kamera. Kadang, ia adalah seseorang yang menahan diri untuk tidak berbuat curang ketika punya kesempatan. Ia yang memilih jujur meski miskin. Ia yang menjaga nurani ketika semua orang sibuk menukar integritas dengan jabatan.

Maka, mencari siapa yang pantas menyandang gelar pahlawan bukan hanya urusan negara, tapi juga urusan batin, sebab di hadapan Tuhan, yang dihitung bukan gelar, melainkan niat dan amal. Allah berfirman dalam QS. Al-Zalzalah [99]:7-8:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”

Ayat ini menutup perdebatan: kepahlawanan sejati bersifat spiritual. Ia tidak lahir dari seremoni, tapi dari konsistensi menegakkan kebaikan.

Pemberian gelar Pahlawan Nasional memang penting sebagai bentuk penghormatan negara dan pengingat kolektif akan jasa mereka. Tapi yang lebih penting dari sekadar memberi nama adalah meneladani nilai. Gelar hanya berarti bila generasi penerus melanjutkan semangatnya.

Bangsa ini tidak kekurangan pahlawan, hanya sering kehilangan cara untuk mengenang mereka dengan benar. Pahlawan sejati mungkin tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan hidup di tengah rakyat yang masih percaya pada kejujuran, pengabdian, dan kasih.

Dan barangkali, tugas kita hari ini bukan lagi mencari siapa yang pantas diberi gelar pahlawan, tapi bagaimana kita sendiri belajar menjadi bagian dari kepahlawanan itu sekecil apa pun, selama ia membawa manfaat bagi sesama. Negeri ini tidak akan maju karena segelintir orang besar, melainkan karena jutaan manusia kecil yang berbuat besar dalam diam.

 

 

Editor: Prihandini N

Thaifur Rasyid
Thaifur Rasyid Jadilah baik tanpa harus merasa lebih baik dari siapapun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email