Pelukis Bisu dan Trauma Masa Lalu yang Tak Benar-Benar Sembuh

Munawir Mandjo

2 min read

Tak bisa dimungkiri pengabaian dan penolakan pada anak di masa kecil bisa menciptakan trauma dan menjadi akar berbagai masalah psikologi ketika dewasa. Bahkan tanpa kita sadari terkadang trauma bisa bersumber dari peristiwa kecil yang berulang-ulang. Dampak dari trauma masa kecil dikisahkan dengan menarik dalam sebuah novel berjudul The Silent Patient atau Pelukis Bisu.

The Silent Patient merupakan novel setebal 395 halaman dengan genre triler psikologis yang ditulis oleh Alex Michaelides, seorang penulis Inggris-Siprus. Paduan latar pendidikan di bidang Sastra dan Psikoterapi membuat Alex Michaelides menulis cerita psikologi dengan apik.

Novel ini menceritakan kisah Theo Faber yang berusaha mengungkap motif pembunuhan Alicia Berenson terhadap suaminya, Gabriel. Kisah ini menjadi misterius karena Alicia memutuskan untuk tidak bicara. Sikapnya itu kemudian menjadi teka-teki di dalam cerita ini.

Baca juga:

Cerita bermula ketika polisi menemukan Gabriel tewas tertembak di wajah dengan posisi terikat di kursi. Sementara Alicia, istrinya, berdiri di dekatnya dengan senjata tergeletak di lantai. Ia lantas dituduh membunuh suaminya. Sejak kejadian itu, Alicia tak lagi pernah bicara. Namun, sebagai pelukis, Alicia menyatakan satu hal lewat lukisan potret diri yang diberi judul ALCESTIS.

Alcestis sendiri merupakan drama tragedi paling awal Euripides. Karya ini mengisahkan pengorbanan Alcestis yang bersedia mati menggantikan suaminya, Admetus, karena dikutuk mati nasib. Berkat negosiasi Apollo, Admetus bisa lolos dari maut jika mampu membujuk orang lain menggantikannya. Maka Alcestis maju dan menawarkan diri untuk suaminya.

Kematian Gabriel membuat orang penasaran dengan motif Alicia karena sebenarnya ia tampak hidup rukun dengan suaminya. Sikap bungkamnya menimbulkan teka-teki dan spekulasi liar di masyarakat. Setelah melalui proses persidangan, karena pertimbangan sejarah masalah gangguan jiwa sejak kanak-kanak, hakim memberi keringanan hukuman kepada Alicia. Ia lantas di kirim ke Unit Psikiatri The Grove, semacam departemen medis yang fokus pada pencegahan, diagnosis, dan penanganan gangguan mental.

Rasa penasaran dan empati akan kisah Alicia mendorong Theo Faber, seorang psikoterapis, tergerak untuk menolongnya. Setelah berhasil masuk dan menyakinkan Direktur Klinis The Grove, Theo kemudian mendapatkan kesempatan menjadi terapis bagi Alicia.

Namun, membuat Alicia bicara merupakan hal sulit, bahkan Theo hampir menyerah. Di awal sesi terapis, Theo tidak memperoleh kemajuan, belum lagi beberapa rekan kerja Theo menghambat karena tak mendukung keputusannya.

Demi mendapatkan petunjuk, Theo kemudian menghubungi orang-orang yang pernah dekat dengan Alicia. Informasi yang berhasil ia kumpulkan pada akhirnya mengungkap sedikit-demi sedikit fakta tentang Alicia. Hingga pada suatu waktu fakta itu semakin jelas ketika Alicia menyerahkan buku harian miliknya kepada Theo.

Di dalam buku harian itu, Alicia mengungkapkan hal mengejutkan. Ia mengaku diawasi seorang pria asing. Belakangan Alicia juga menulis jika lelaki itu yang telah membunuh suaminya. Sejak awal, Alicia telah menyampaikan hal itu kepada suaminya, namun Gabriel menggap Alicia berhalusinasi akibat gangguan mental.

Novel ini menggunakan alur cerita paralel dengan sudut pandang orang pertama, melalui dua narator Theo Faber dan Alicia. Dua rangkaian cerita di mana di satu sisi fokus pada obsesi Theo Faber mengungkap sikap bungkam Alicia dan di sisi lain mengurai keretakan rumah tangganya karena perselingkuhan istrinya, Kathy. Wanita yang memberikan perhatian dan penerimaan kepada dirinya. Perhatian dan penerimaan yang sejak kecil tidak pernah Theo Faber peroleh dari orang tuanya.

Theo Faber tumbuh bersama perasaan waswas, takut, dan cemas. Kecemasan yang berasal dari penolakan dan ledakan-ledakan kemarahan ayahnya. Masa kanak-kanak dan remajanya didominasi ketakutan, kekerasan fisik serta ancaman.

Tanpa Theo sadari, sikap intimidatif ayahnya tertanam di alam bawah sadarnya menciptakan krisis nilai dan kepercayaan dirinya. Ia tak mampu keluar dari penilaian ayahnya jika dirinya tak berguna, gagal, dan memalukan.

Ketakutan itu pernah membawanya pada percobaan bunuh diri. Namun, aksinya gagal. Theo akhirnya berhasil keluar dari masa-masa berat itu berkat bantuan seorang psikoterapis.

Perselingkuhan istrinya membuatnya kembali hancur. Alur masa kanak-kanaknya kembali terulang; perasaan tidak dicintai dan diabaikan. Kendati demikian, Theo tidak mampu mengambil keputusan meninggalkan istrinya dan berusaha mempertahankan hubungannya dengan hidup berpura-pura.

Kedua rangkaian cerita ini pada akhirnya saling berkaitan. Di akhir cerita pembaca akan menemukan sebuah plot twist yang mengubah pandangan kita terhadap tokoh cerita. Penulis seolah memberi ruang kepada pembaca untuk menilai sendiri sikap Alicia dan Theo Faber.

Alur cerita menghibur, sebab sepanjang cerita kita berusaha menebak-nebak motif para tokoh. Menariknya kedua narator sama-sama pernah mengalami kekerasan emosional dari ayahnya yang menyisakan trauma.

Baca juga:

Novel ini akan mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap isu kesehatan mental. Tema ini sangat relevan dengan dinamika dunia modern yang penuh tekanan. Novel ini juga memberikan kita perspektif luas bagaimana trauma bisa berasal dari tindakan atau ucapan sederhana kepada anak. Pesan ini menjadi refleksi penting bagi orang tua untuk membangun pola asuh yang lebih bijaksana.

Pada akhirnya novel ini bukan hanya sekadar memberikan hiburan kepada pembaca, namun mendorong pembaca untuk merenungkan hubungan dengan masa lalu, trauma, dan bagaimana proses penyembuhan berlangsung. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Munawir Mandjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email