“Kae, klambine seng dienggo mung kuwi-kuwi wae, sampe mambu kecut kringet e tekan kene,” kata Ke pada Pa dan Rat. Ke meluapkan isi hatinya tentang baju Sa yang tak pernah ganti hingga menyebabkan aroma tak sedap selalu mampir di hidungnya saat perempuan itu lewat.
Pa lekas menjawab, “hooh, padahal lho tiap hari dia itu tiap hari pesen onlen-onlen.”
“Tahu dari mana kamu?” Rat mencolek mangga muda ke sambal di cobek. Ia meringis. Tangannya mengusap mulut seolah menadahi sesuatu yang akan keluar.
“Haiyo retilah. Tukang paket tiap hari datang ke sana. Aku lho saksinya kalau tiap hari paling enggak satu paket datang ke rumahnya,” kata Pa yang rumahnya memang bersebelahan dengan rumah Sa.
“Lha siapa tahu paketnya isi makanan atau kosmetik.” Rat melemparkan kemungkinan yang agak terkesan membela Rat.
“Yo, mosok dia nggak kepikiran buat beli baju onlen buat dirinya sendiri? Selembar dua lembar kan nggak apa-apa. Apa kamu nggak lihat Mang, suaminya Sa, dan anak-anaknya Sa itu bajunya ganti-ganti terus gitu, apik-apik lagi. Modis banget,” kata Pa.
Ke mengambil sepotong jambu. Diletakkannya jambu itu, lalu ia mengambil timun. “Hooh, aku setuju banget itu. Suami dan anak-anaknya bagus-bagus. Tapi, mbuh kok malah dia kucel gitu. Padahal lho ndek tiktok ada tutorial dandan. Saiki sudah gampang kalau mau tampil cantik, banyak yang ngajari,” katanya.
“Apa istilahnya … oh, pakar. Banyak pakar sekarang ini,” kata Pa sambil mengacung-acungkan bengkuang dengan sambal berleleran.
“Pakar yang digoblok-goblokkan itu?” tanya Rat dengan raut polos. “Jadi, yang sebenarnya goblok itu yang mana? Yang dikatai goblok atau yang bilang orang lain goblok?”
“Hust! Kamu itu mbok kalau ngomong jangan nyrempet-nyrempet gitu. Bahaya. Paling bener kita itu bahas yang ada di depan mata kita ini lho.” Ke menegur teman gibahnya.
“Tapi ngomongin si Sa, kalau dipikir-pikir, dia itu juga kok yo nggak mau srawung, bergaul, sama kita-kita. Ngobrol sama kita,” kata Rat sambil mengaduk-aduk sambal dengan sepotong bengkuang.
“Heleh, memangnya kalau dia ngobrol sama kita terus kamu tega bilang kalau bajunya nggak ganti-ganti sampai mambu apek gitu?” tanya Pa sambil menuding Rat dengan sepotong jambu.
“Yo, nek aku nggak tega ngasih tahu sejelas itu. Tapi Ke pasti bisa,” kata Rat sambil menujuk Ke yang sedang mengangkat gelas kopinya. “Hooh, to, Ke?”
“Lha kok aku?” Ke tampak tidak terima. Ia mengurungkan niat menyeruput kopi.
“Lho, yang bilang kalau baunya apek, eh kecut tadi kamu to? Kamu yang punya keluhan. Jadi, kamu yang bisa menyampaikan sama yang bersangkutan. Jangan bisanya rasan-rasan,” kata Rat santai.
“Lho, iya, memang aku yang mengawali bilang kalau Sa itu bajunya nggak ganti-ganti. Bau keringetnya itu nempel banget tiap dia lewat. Bener, aku yang bilang itu. Tapi bukan kewajibanku untuk ngomong sama dia tentang itu. Lha kamu, Pa, kamu itu tetangganya persis. Kok kamu nggak ngomong sama dia, misal pas dia lagi nyapu halaman atau pas njemuri pakaian. Kan kamu bisa basa-basi sambil bilang kalau yaa ada baiknya dia tampil apik dan resik seperti suami dan anak-anaknya.”
Ke tampak berapi-api menyampaikan gagasannya itu. Hal itu membuat kedua perempuan yang bersamanya untuk menikmati lotis dan kerupuk dipadu kopi itu mengangguk-angguk.
“Tapi ngomong-ngomong, iki aku tanya sama kalian berdua. Menurut kalian, Mang itu diguna-guna sama Sa enggak sih?” Ke mengajukan tanya setelah melihat dua temannya kembali menyuap buah potong.
“Eh, kok kamu berpikir gitu?”
“Aku nggak berpikir begitu. Aku tanya kalian berpikir gitu nggak?”
“Lho, gimana to? Kan kamu yang tanya apa kami berpikir gitu. Kalau gitu kan artinya kamu duluan yang mikir begitu,” kata Pa. “Hooh, ra, Rat?” katanya mencari dukungan.
Rat tidak menjawab. Ia hanya mengangguk-angguk. Perempuan itu sibuk menjejalkan bengkuang disusul jambu ke mulutnya.
Begitulah ketiganya menghabiskan waktu hampir setiap hari. Topik tentang Mang dan Sa berpindah pada tetangga yang lain. Begitu sambung-menyambung hingga waktu tengah hari, saat anak-anak pulang dan mereka harus membubarkan diri.
Topik yang sama kadang dibahas di hari yang lain. Berulang-ulang. Tapi mereka tidak tampak bosan. Kadang ada informasi baru. Selebihnya hanya spekulasi tentang ini dan itu.
Namun, pada suatu pagi mereka bertiga tidak melakukan rutinitas biasa. Subuh pecah oleh teriakan anak Sa yang menemukan ibunya tak lagi bernyawa. Entah apa yang mendorong Sa untuk menghentikan hidupnya di seutas tali. Tali itu melingkar di sebuah palang rumah setengah jadi, yang dibangun menempel di rumahnya.
Setidaknya selama seminggu mereka bertiga tidak berkumpul dan berdiskusi. Di hari kedelapan ketiganya menikmati urap sayur dilengkapi peyek teri di teras rumah Ke.
“Aku mau usul sama Mang buat masang lampu di rumah itu,” kata Ke mengawali obrolan. Dia menggerakkan dagu ke arah rumah setengah jadi itu.
“Iyo e. selama ini gelap di situ nggak masalah. Tapi sejak Sa nganu di sana, aduh, rasanya merinding-merinding ini,” kata Pa sambil mengusap-usap tangannya.
“Hooh, aku kebayang Sa di sana terus. Rasanya kalau gelap gitu aku denger suara Sa minta tolong,” kata Rat tak mau kalah.
“Minta tolong apa? Bukannya mengakhiri hidup dengan cara begitu ya keputusannya Sa sendiri?” Baik Ke maupun Pa tampak heran dengan pernyataan Rat.
Rat mengibaskan tangan. “Dia itu kebanyakan menahan diri. Kamu tahu nggak kalau dia ternyata punya utang banyak. Pinjol!”
“Heh, mosok? Aku kok nggak percaya. Mang kan kerja kantoran. Mosok gajinya kecil?”
“Eh, tapi kalian itu mikir sesuatu yang aneh nggak? Gini lho, si Mang itu kan bagus wajahnya. Priyayi sekali. Kerjaannya juga kelihatan bagus. Kamu liat nggak, dia kalau berangkat, masio cuma naik sekuter tua, tapi pakai dasi segala. Jas mantennya itu dipakai terus juga. Rapi necis kayak pegawai negeri. Sementara kamu liat sendiri Sa itu luthuk, kumel, kucel,” kata Ke mencoba memaparkan data.
“Lha tapi kan dulunya Sa itu ya ayu, kinyis-kinyis, dan wangi. Dia kan pernah kerja di perusahaan apa gitu to?” Pertanyaan Pa itu membuat Ke dan Rat mengingat masa lalu Sa. Ke dan Rat mengangguk tanda bahwa di masa lalu memang demikianlah keadaan Sa.
“Lha itu artinya si Mang biang masalahnya?”
“Sa berkorban demi suami dan anak-anaknya? Jadi, dia mendahulukan mereka dibandingkan dirinya sendiri? Itu mungkin yang bikin dia diam-diam pinjol.”
“Atau jangan-jangan yang pinjol itu si Mang, bukan Sa?”
Ke menggigit peyek terinya. “Bisa jadi itu,” katanya. Sepotong teri meloncat dari mulutnya.
“Kasihan bener Sa. Padahal kalau dia mau keluar dan kumpul sama kita kan bisa aja ringan penderitaannya. Kita-kita kan bisa memberi saran. Kita bisa ngobrol-ngobrol ngurangi stres. Hooh to?” kata Pa. Dia meringis dan sepotong daun nyelip di antara giginya.
Mereka diam sesaat. Tapi benar hanya sesaat. Pembicaraan selanjutnya beralih pada tetangga sebelah rumah Ke yang baru saja membeli mobil. Lalu berganti pada tetangga Pa yang dikabarkan hamil di luar nikah dan tetangga Rat yang diduga selingkuh dengan janda kampung sebelah.
Begitu terus hingga menjelang tengah hari. Sambung menyambung hingga waktu tengah hari, saat anak-anak pulang dan mereka harus membubarkan diri.
*****
Editor: Moch Aldy MA
