Saya masih ingat, beberapa waktu lalu, duduk di kursi plastik di sebuah aula kampus, menunggu acara organisasi mahasiswa dimulai. Spanduk besar terbentang di depan: logo warna-warni, jargon motivasional, ditambah sederet sponsor yang logonya tak kalah besar dari judul acara. Panitia sibuk mondar-mandir dengan kaos seragam yang seragam betul, headset terpasang di telinga, clipboard di tangan, seolah sedang menyiapkan konser musik. Lampu, proyektor, kamera, dan dekorasi tampak lebih diprioritaskan daripada isi acara itu sendiri.
Saya bertanya pada diri sendiri: benarkah ini wajah organisasi mahasiswa sekarang?
Yang saya lihat bukan ruang belajar kolektif atau wadah perlawanan, melainkan event organizer yang kebetulan berlabel organisasi. Rasanya organisasi mahasiswa kini lebih sering dikenal lewat seminar sehari, lomba desain poster, festival musik, atau webinar yang bertebaran pamfletnya di Instagram. Aktivisme—roh yang dulu membakar organisasi mahasiswa—kian tergeser oleh aktivitas seremonial.
Dari Aktivisme ke Kepanitiaan
Organisasi mahasiswa, alih-alih menjadi ruang untuk mengasah kesadaran kritis, kini lebih mirip pabrik panitia. Kita dididik untuk jago membuat proposal, mengatur rundown, mencari sponsor, membuat laporan pertanggungjawaban, hingga mengatur dokumentasi agar terlihat bagus di media sosial. Tidak salah memang—semua itu bagian dari keterampilan manajerial. Tapi bila semua berhenti di situ, organisasi mahasiswa kehilangan makna yang paling mendasar: memperjuangkan suara mahasiswa, menjadi ruang diskusi intelektual, dan menjalankan peran sosial-politik di luar ruang kelas.
Baca juga:
Barangkali ada yang berkata: zaman sudah berubah, jangan samakan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa era sebelumnya. Saya sepakat bahwa kita memang tak bisa sekadar romantis dengan cerita mahasiswa ‘66 atau ‘98 yang turun ke jalan menentang kekuasaan. Tapi bukankah perubahan zaman tidak otomatis berarti hilangnya sikap kritis? Justru di tengah perubahan inilah, mahasiswa seharusnya semakin membutuhkan organisasi yang mampu membentuk sikap, bukan hanya keterampilan administratif.
Organisasi yang Dijinakkan Kampus
Yang terjadi justru sebaliknya: organisasi mahasiswa digiring untuk menjadi jinak. Saya melihat sendiri bagaimana kampus begitu ketat mengatur segala bentuk kegiatan: harus ada proposal, harus ada persetujuan birokrasi, harus ada laporan resmi, harus ada dokumentasi rapi. Proses ini memang tampak wajar, tapi perlahan-lahan ia mengekang. Organisasi mahasiswa hanya diberi ruang sejauh mereka sibuk mengurus acara yang “aman”: seminar dengan narasumber tokoh publik, lomba yang menghibur, atau acara kebudayaan yang menambah citra positif kampus.
Sementara itu, diskusi kritis, kajian politik, atau aksi solidaritas sering dipandang sebagai ancaman. Bahkan untuk sekadar menggelar diskusi tentang isu masyarakat, sering kali ada intervensi: surat izin dipersulit, ruang tidak diberikan, atau label “mengganggu ketertiban” dengan cepat ditempelkan. Tidak heran jika akhirnya banyak organisasi memilih jalur aman: mengalihkan energi ke dunia event, bukan aktivisme.
Mahasiswa yang Kehilangan Ruang
Saya jadi resah melihat arah ini. Sebab jika organisasi mahasiswa hanya sibuk dengan event, mahasiswa akan terbiasa menjadi panitia yang profesional tapi apolitis. Kita terbiasa menjadi pengatur acara, bukan pengatur strategi perubahan. Kita pandai menata kursi untuk tamu undangan, tapi lupa bertanya: kursi-kursi itu sebetulnya untuk siapa?
Lebih jauh, kondisi ini membuat mahasiswa kehilangan ruang berlatih memperjuangkan kepentingan bersama. Mahasiswa tidak lagi terbiasa menyusun sikap kolektif, melakukan kajian isu, atau menyuarakan aspirasi di luar forum resmi kampus. Padahal, di situlah letak pendidikan politik yang sesungguhnya.
Baca juga:
Organisasi mahasiswa mestinya bukan sekadar sekolah kepanitiaan, melainkan arena untuk belajar berpolitik dalam arti yang paling sederhana: menyadari kepentingan, mengartikulasikannya, dan memperjuangkannya secara kolektif. Dari ruang itu, mahasiswa seharusnya belajar bahwa kampus bukanlah ruang steril yang terpisah dari persoalan masyarakat. Justru kampus dan masyarakat terhubung erat, dan mahasiswa adalah salah satu jembatan penghubungnya.
Administrasi yang Membelenggu
Sayangnya, organisasi mahasiswa kini terjebak dalam logika birokrasi kampus yang menjadikan mereka sekadar perpanjangan tangan administrasi. Saya melihat banyak kawan yang awalnya bergabung karena ingin berdiskusi, akhirnya lelah karena pekerjaannya hanya mengurus proposal, tanda tangan pejabat, atau sibuk mencari sponsor. Aktivisme yang semestinya lahir dari kegelisahan, berubah menjadi aktivitas yang lahir dari kewajiban formalitas.
Lambat laun, organisasi mahasiswa kehilangan imajinasi tentang perannya yang lebih besar. Mereka tidak lagi berani membayangkan kampus yang lebih demokratis, apalagi masyarakat yang lebih adil. Mereka puas dengan foto dokumentasi yang penuh senyum, jumlah likes yang banyak, dan sertifikat kepanitiaan yang bisa ditaruh di CV.
Masih Ada Harapan
Namun di balik keresahan ini, saya masih menyimpan sedikit harapan. Masih ada kelompok-kelompok kecil mahasiswa yang memilih untuk bertahan dengan cara berbeda: berdiskusi di kantin, menggelar kajian di ruang seadanya, atau menulis catatan kritis meski tidak populer. Mereka memang tidak sering muncul di spanduk atau mendapat spotlight dari kampus, tapi justru di sanalah aktivisme tetap hidup—dalam bentuk yang kecil, sunyi, tapi jujur.
Saya percaya, organisasi mahasiswa masih bisa kembali menemukan maknanya. Tapi syaratnya jelas: keberanian untuk melepaskan diri dari jebakan seremonial dan kembali pada roh kolektifnya. Tidak mudah memang, apalagi ketika kampus sendiri ikut mendorong arah eventual itu. Tetapi tanpa upaya ke sana, organisasi mahasiswa hanya akan menjadi EO berlabel intelektual, dan mahasiswa akan kehilangan kesempatan untuk sungguh-sungguh belajar politik.
Kursi yang Ditata
Ketika mengingat kembali pengalaman duduk di kursi plastik itu, saya jadi bertanya: untuk siapa sebenarnya kursi-kursi itu ditata rapi? Apakah untuk mahasiswa yang ingin belajar, atau hanya untuk tamu yang datang, berfoto, lalu pulang?
Organisasi mahasiswa, seharusnya, bukan sekadar tempat menata kursi. Ia adalah ruang untuk menata arah, menata kepentingan, menata masa depan. Jika kita hanya puas dengan acara meriah tanpa makna, maka kita sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: keberanian untuk kritis dan menjadi bermakna di luar ruang aula itu sendiri. (*)
Editor: Kukuh Basuki
