Charlie Kirk tertembak, dan sebagian orang merasa seperti baru pulang dari Bukit Golgota. Dalam kisah penyaliban Yesus yang menggetarkan iman seperempat penduduk bumi itu, orang-orang Yahudi tampak memukul-mukul dirinya sesudah Yesus, anak tukang kayu dari Nazareth yang menjadikan tiga setengah tahun terakhir hidupnya menyampaikan Sabda Bahagia, tewas tergantung diapit dua penyamun. Dua ribu tahun kemudian, sebagian orang mengulangi perasaan yang sama, dengan kekhawatiran yang serupa. Jangan-jangan, seorang Mesias telah dikirim dari langit untuk kedua kali, dan kali ini, umat manusia membunuhnya sekali lagi.
Tentu. Charlie bukan Yesus. Separuh dari tiga puluh satu tahun hidupnya tidak dia gunakan untuk mewartakan cinta kasih, walau sama-sama mengumpulkan “jemaat” yang kini bagai anak ayam kehilangan induk. Dia dipuja sekaligus dibenci. Orang mengucapkan namanya dalam satu tarikan napas dengan mendaftar kebenciannya, atau mengusung kebajikannya. Di tengah tsunami woke yang melanda Negeri Paman Sam, Charlie tampil seperti nabi salah tempat: berseru-seru di padang gurun, meluruskan jalan untuk bangsa yang tersesat, dan di usia yang teramat muda, mendirikan gerakan politik yang mengajak semua orang balik kanan merengkuh “Watak Amerika Sejati” seakan yang disebut terakhir itu pernah ada dalam sejarah umat manusia.
Kematian Charlie mengingatkan orang pada cara tercepat, paling purba, sekaligus paling dibenci orang untuk menyelesaikan masalah: kekerasan, yang tidak selalu berdasarkan prasangka. Bukankah peluru muntah tanpa mengenal warna kulit? Tersangka pembunuhnya, Tyler Robinson, adalah orang yang seringkali Charlie gunakan sebagai subjek pembicaraan di berbagai panggung Turning Point USA: laki-laki kulit putih konservatif konstituen Partai Republik yang mulai tersisih dari masyarakat akibat perputaran dunia yang tidak memihak mereka.
Baca juga:
Dalam dunia yang semakin berwarna dan kebangkitan politik identitas sebagai senjata kaum marginal untuk menyuarakan keberadaan mereka (Fukuyama, 2018), laki-laki kulit putih semakin kehilangan tempat. Mereka dianggap relik dari masa lalu yang berkuasa secara tidak adil. Sebab tiang-tiang gantungan sudah dilebur sejak zaman Washington berkuda, dominasi mereka cukup dilawan dengan ide-ide pertukaran tempat bersalut gula-gula Keragaman, Kesetaraan, dan Inklusi (Diversity, Equity, and Inclusion). Kaum marginal menghendaki tempat dan ruang terbuka, bukan cuma untuk menyintas, tetapi juga untuk hidup sepenuhnya, termasuk menyebarluaskan gagasan-gagasan mereka dalam bilik gema (echo-chamber) yang direproduksi algoritma media sosial.
Umbul-umbul revolusi kaum marginal tidak lagi dikibarkan dengan pekik politik yang menggelegar, malah sebaliknya. Cerita-cerita sedih keluar dari laci. Anak-anak imigran bercerita tentang diskriminasi yang mereka alami di sekolah. Laki-laki dan perempuan nonheteroseksual mengisahkan pengalaman mereka keluar dari kungkungan norma demi menjadi diri sendiri.
Orang-orang Hispanik dan kulit hitam melantunkan elegi tentang masa depan yang berkhianat, atau sebuah sesal bahwa mereka terlahir dalam sebuah zaman yang memaksa mereka jadi pariah. Transpuan dan transpria mengusung cerita mereka tidur di penampungan karena diusir keluarga mereka. Pengidap HIV dan AIDS menyematkan pita-pita tanda kepedulian. Penyintas kekerasan seksual mengungkap trauma dan melantangkan pencarian ruang aman. Perempuan-perempuan pelaku aborsi tidak takut lagi berseru bahwa membunuh janin bernyawa dalam rahim adalah hak setiap perempuan mengandung.
Baca juga:
Kisah-kisah sedih itu tidak sekadar diobral untuk menarik empati, tetapi juga memperoleh dukungan. Berkat media sosial, kampanye mulai gencar untuk membangunkan orang-orang dari tidur panjang, menyingkap tabir ketidakadilan dunia pada mereka yang lahir sebagai orang-orang kalah. Karena jumlahnya besar, gelombang kemarahan mereka dapat menjadi sesuatu yang benar-benar mengancam. Kaum marginal memiliki senjata berupa media sosial dan budaya penghancuran cancel culture, semacam upacara penyaliban tanpa paku untuk orang-orang yang tidak sepandangan dengan mereka. Mata dan telinga mereka ada di mana-mana, seperti Big Brother Orwellian tanpa partai.
Itu sebabnya, daripada celaka, orang-orang terpaksa mulai berkompromi. Keberagaman, betapapun anehnya, harus diterima. Ruang-ruang aman harus ada di semua tempat. Kepedulian pada minoritas menjadi bahasa baru di dunia pendidikan dan pekerjaan. Terimalah orang-orang kalah itu, sekadar cukup untuk menyaur utang sejarah, sedikit langkah afirmatif yang memungkinkan orang-orang kalah dapat bersaing walau tirani ketidakadilan struktural menghambat mereka berprestasi cemerlang dan menjadi kampiun dalam satu kali putaran roda kehidupan.
Dalam dunia yang semakin berwarna itu, sayangnya, hitam dan putih juga hadir dalam bentuk baru: kami atau kalian. Polarisasi menyeruak. Kebenaran menjadi barang sengketa. Semua orang benar, dalam derajat relatifnya masing-masing. Kebenaran absolut dihujat. Sejarah harus ditulis ulang, kali ini, dengan menuliskan bahwa orang-orang kalah tidak pernah melawan takdir sejarah yang menjadikan mereka debu di bawah karpet. Anak-anak sekolah harus diajarkan tentang “kebenaran sejarah” yang sesungguhnya: tentang kekerasan, perbudakan, dan kezaliman para tuan tanah kulit putih; tentang perburuan homoseksual pada zaman McCarthy; tentang agama Kristen yang menjadi tonggak penjajahan, dan seterusnya.
Boleh jadi, kalau Gubernur Pontius Pilatus yang menyalibkan Yesus lahir kembali, sekarang dia tidak akan sanggup lagi bertanya. Lehernya tercekat sebelum mengatakan, “Quid est veritas? Apakah kebenaran itu?”
Satu generasi, yang lahir sesudah Menara WTC Kembar dibombardir Al-Qaeda, menemukan diri mereka tumbuh dalam dunia yang seperti itu. Orang tua mereka limbung. Nilai-nilai keluarga harus direvisi. Patriarki silakan tenggelam di Samudera Atlantik. Pembagian kerja tradisional secara seksual harap ditinjau kembali. Laki-laki tidak lagi berhak atas perempuan. Jenis kelamin apapun harus dicatat sesuai kehendak pemiliknya, kalau perlu sampai 47 macam, dari laki-laki, perempuan, kaki meja, sampai pohon pisang. Bukankah saya berhak mengidentifikasi dan menjadi diri sendiri, protes mereka.
Sebagian orang menilai Charlie tidak punya tempat dalam dunia yang berwarna ini. Kata-katanya terlalu tajam. Pandangan politiknya seperti seorang keturunan ningrat dari zaman Ratu Victoria. Hitam dan putih bagi Charlie jelas, dan ruang abu-abu tidak boleh ada. Dari akar rumput, suara Charlie mulai naik ke panggung politik lokal, negara bagian, hingga Donald Trump pun menjadikannya ujung tombak kampanye untuk ceruk suara orang muda.
Bagi Trump, di tengah warna dunia yang belang-bonteng dan demokrasi yang memberi ruang pada kelompok marginal secara berlebihan, Charlie adalah juru bicara gagasan-gagasannya mengembalikan orang-orang yang sesat jalan. Dia benar, tetapi tidak secara politik. Karena sekarang kebenaran tidak lagi ditentukan pada prinsip dan pembuktian, tetapi dari seberapa banyak orang yang mendukung Anda, Charlie menjadi suar di tengah zaman kegelapan untuk laki-laki kulit putih yang terancam. Sebaliknya, bagi kaum marginal yang telah bersusah-payah mengobral kisah-kisah mereka untuk menarik dukungan para politikus, Charlie adalah hantu dari dalam lemari, alarm perlawanan yang mengancam mereka, penyeru kebencian, pewarta kekerasan.
Dalam keadaan semacam itu, Tyler Robinson menjadi anomali. Separuh hidup Charlie dia dedikasikan untuk melawan deprivasi dan peminggiran terhadap laki-laki kulit putih yang “tersisih” karena revolusi kaum marginal. Tyler jelas salah satunya. Tetapi bahwa pembelaan Charlie selama ini tidak menghalangi Tyler menembakkan senjata di pangkal leher Charlie pagi itu, buku sejarah tahun 2050 sepertinya butuh beberapa puluh halaman untuk bisa menjelaskan penyebabnya. Mungkinkah Tyler menganggap Charlie menghancurkan hidupnya yang baru 22 tahun? Ataukah Charlie yang terus berbunyi dia anggap kaset rusak yang tidak bisa berhenti? Seluruh dunia masih bertanya, juga penulis catatan ini.
Secara politik, belum ada orang yang berani mengatakan dirinya pemenang dari kematian ini. Lawan dan kawan politik Charlie sama-sama mengecam keras terjadinya pembunuhan itu, mengecam pembunuhnya, dan tidak lupa mengecam ayah Tyler yang menyerahkan anaknya ke polisi. Konon, karena semua orang masih terkejut, lebih-lebih mahasiswa Utah Valley University yang menyaksikan darah memancar deras dari leher Charlie pagi itu. Seperti biasa, ketika kekerasan dikecam, orang selalu lupa menanyakan: mengapa kekerasan? Tertutupkah dialog? Tersumbatkah nalar? Sungguhkah gayung tidak lagi bersambut, sehingga kini kata berjawab peluru?
Sebagian orang mulai berspekulasi: ini adalah pembunuhan politik. Orang Amerika khawatir, jangan-jangan kebebasan berbicara yang dimuliakan Bapa Bangsa mereka, sekarang benar-benar terancam. Jangan-jangan, orang-orang harus mulai merunduk untuk bisa mewartakan kebenaran yang diyakininya, terlebih jika kebenaran itu tidak memiliki massa. Hati nurani boleh jadi terusik, tetapi jangan-jangan, diam bisa bersaksi lebih keras daripada bunyi yang mendadak dibungkam kekerasan. Jangan-jangan, Amerika dan kebebasan berbicaranya sudah tamat. Semua orang merunduk, dan bersama-sama mereka melantun seperti Wiji Thukul, istirahatlah kata-kata, jangan menyembur-nyembur.
Terlepas apakah Charlie akan menjadi martir atau tidak, sesungguhnya dia berhasil membuat kita bertanya kembali sesudah 2.000 tahun: Quid est veritas, apakah kebenaran itu? (*)
Editor: Kukuh Basuki
