Setiap Lebaran, jutaan orang pulang kampung membawa rindu. Mereka membawa oleh-oleh, cerita, dan harapan disambut hangat keluarga. Namun ada satu “tradisi tak tertulis” yang sering ikut pulang bersama pemudik. Tradisi itu bernama pertanyaan yang kadang terasa seperti interogasi keluarga besar. Mulai dari pertanyaan sederhana sampai yang bisa membuat seseorang ingin kembali ke terminal.
Fenomena mudik sendiri tetap menjadi peristiwa sosial terbesar di Indonesia. Kementerian Perhubungan memproyeksikan sekitar 143,7 juta orang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran 2026. Jumlah itu setara sekitar 50,6 persen populasi Indonesia. Angkanya bahkan sedikit turun sekitar 1,7 persen dibanding tahun sebelumnya (ANTARA, 7 Maret 2026).
Baca juga:
Penurunan kecil itu sering dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Biaya perjalanan meningkat. Banyak pekerja juga menghadapi ketidakpastian kerja dan ancaman pemutusan hubungan kerja. Dalam situasi seperti itu, pulang kampung tetap dilakukan banyak orang karena alasan emosional. Lebaran menjadi satu-satunya momen ketika keluarga besar berkumpul dalam jumlah lengkap.
Namun ada persoalan lain yang jarang masuk statistik transportasi. Persoalan itu muncul setelah pemudik sampai di rumah nenek, ruang tamu paman, atau meja makan keluarga besar. Di sanalah muncul pertanyaan klasik yang legendaris. Pertanyaan yang sering membuat generasi muda tersenyum kaku sambil mengunyah opor ayam.
Pertanyaan itu biasanya dimulai dengan nada ramah. “Kapan nikah?” adalah pembuka yang paling populer. Jika jawaban masih mengambang, pertanyaan berikutnya lebih tajam. “Pacarnya mana?” atau “Kok masih sendiri?” sering muncul dengan wajah penuh kepedulian. Padahal bagi yang ditanya, pertanyaan itu bisa terasa seperti sidang skripsi keluarga.
Jika kebetulan sudah menikah, babak baru dimulai. Pertanyaan berikutnya biasanya berbunyi, “Kapan punya anak?” Jika sudah punya anak satu, babak berikutnya lebih menantang. “Kapan nambah lagi?” Seolah-olah kehidupan seseorang adalah proyek pembangunan yang harus selalu diperbarui progresnya setiap lebaran.
Fenomena pertanyaan sensitif ini sebenarnya pernah menjadi perhatian psikolog sosial. Dalam kajian komunikasi interpersonal, pertanyaan mengenai pernikahan, pekerjaan, atau pendapatan sering masuk kategori intrusive questions. Pertanyaan seperti ini bisa menimbulkan tekanan psikologis jika diajukan tanpa mempertimbangkan konteks personal seseorang. Psikolog Susan Newman menulis dalam buku The Book of No (2006) bahwa pertanyaan personal yang berulang dapat menciptakan rasa tidak nyaman karena melanggar batas privasi individu.
Di Indonesia, situasinya sering dibungkus budaya kekeluargaan yang hangat. Banyak orang yang bertanya sebenarnya tidak berniat menyakiti. Mereka sekadar memulai percakapan. Namun niat baik tidak selalu menghasilkan perasaan baik bagi penerima pertanyaan. Terutama jika topik tersebut berkaitan dengan hal sensitif seperti jodoh, pekerjaan, atau kondisi ekonomi.
Sosiolog Arlie Russell Hochschild menjelaskan fenomena serupa dalam kajian hubungan keluarga modern. Dalam buku The Managed Heart (1983), ia menjelaskan bagaimana individu sering melakukan “emotional labor”. Mereka menahan emosi demi menjaga harmoni sosial. Dalam konteks mudik, banyak anak muda akhirnya memilih tertawa atau bercanda untuk meredakan situasi.
Namun tidak semua orang mampu mengelola situasi itu dengan santai. Di beberapa kasus, konflik keluarga bahkan pernah muncul dari percakapan semacam itu. Media pernah melaporkan pertengkaran yang dipicu komentar tentang pekerjaan atau pernikahan. Hal kecil bisa menjadi besar ketika seseorang merasa dihakimi di depan keluarga besar.
Padahal esensi mudik sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar sesi tanya jawab keluarga. Banyak peneliti melihat mudik sebagai ritual sosial yang memperkuat identitas dan hubungan keluarga. Dalam buku Mudik: Migrasi Sirkuler Orang Jawa karya Niels Mulder (1996), tradisi pulang kampung dipahami sebagai upaya menjaga keterhubungan emosional dengan akar sosial seseorang.
Baca juga:
Mudik juga memberi kesempatan refleksi. Orang kembali ke tempat mereka tumbuh. Mereka melihat rumah lama, sekolah dasar, dan jalan yang dulu sering dilewati. Kenangan itu sering menjadi semacam pengingat tentang perjalanan hidup yang telah dilalui. Dalam suasana seperti itu, percakapan keluarga sebenarnya bisa menjadi ruang berbagi pengalaman, bukan sekadar ruang evaluasi hidup.
Karena itu, mungkin sudah waktunya tradisi bertanya saat lebaran sedikit diperbarui. Daripada bertanya kapan menikah, mungkin lebih menarik bertanya tentang hal yang membuat seseorang bahagia. Daripada menanyakan gaji atau mobil baru, mungkin lebih hangat menanyakan pengalaman hidup selama setahun terakhir. Percakapan semacam itu lebih membuka ruang cerita daripada tekanan sosial.
Akhirnya, mudik adalah perjalanan pulang menuju rumah, bukan menuju ruang ujian keluarga. Orang pulang untuk merasa diterima, bukan untuk diadili. Lebaran seharusnya menghadirkan kehangatan, tawa, dan cerita. Jika pertanyaan harus tetap ada, mungkin cukup satu saja yang paling penting. “Apa kabar kamu sekarang?”
Karena kadang pertanyaan sederhana itu jauh lebih bermakna daripada seratus pertanyaan yang membuat orang ingin cepat-cepat kembali ke kota. (*)
Editor: Kukuh Basuki
