Suka berkelana dan bercelana. Ig: @wahyuagil_azv

Bertukar Sementara, Bermakna Selamanya, Batal Mudik ke Sumatra

Wahyu Agil Permana

2 min read

Semenjak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi berhasil mempopulerkan program Kampus Merdeka dengan segudang iming-iming keuntungannya, mahasiswa berbondong-bondong mendaftar program tersebut. Ada beberapa sub program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dapat diikuti oleh mahasiswa, mulai dari Kampus Mengajar, PMM, MSIB, IISMA, dan lain-lain. Salah satu program yang banyak diminati adalah PMM, kependekan dari Pertukaran Mahasiswa Merdeka antarkampus di seluruh Indonesia.

Terlebih, bagi mahasiswa gen z, berkegiatan di luar organisasi intrakampus merupakan sebuah pilihan yang perlu dipertimbangkan. Daripada sekadar ikut-ikutan dan cuma jadi pion organisasi, lebih baik memutuskan untuk sekalian tidak berkecimpung di dalamnya. Toh, Kemendikbud sudah memberi wadah pengembangan diri yang variatif di luar perkuliahan biasa.

Bagi banyak orang yang enggan nelangsa di organisasi intrakampus, mengikuti program PMM adalah salah satu jalan ninja mengisi CV. Pasalnya, di samping bisa merasakan pengalaman mengenyam pendidikan di perguruan tinggi lain, mahasiswa juga mendapatkan uang saku berupa bantuan biaya hidup (BBH) yang besarnya lumayan. Ongkos mendaftarnya pun tak semahal IISMA yang mensyaratkan sertifikat kemampuan bahasa Inggris hingga talangan tetek bengek keberangkatan seperti visa.

Baca juga:

Marbun (nama samaran), mahasiswa berumur 21 tahun asal Lampung, adalah salah satu peserta program PMM di Universitas Padjadjaran. Tentu sebuah hal yang membanggakan baginya bisa berkesempatan merasakan iklim akademik di salah satu kampus top nasional tersebut, belum lagi berbagai macam benefit juga turut menyertainya. Namun, alih-alih mendapat keuntungan, mengikuti PMM justru berujung kebuntungan buat Marbun.

Biaya Hidup yang Tak Sebanding

Sebagai orang Sumatra yang baru pertama kali tinggal di Bandung, Marbun mengalami culture shock. Selain merasakan perbedaan cuaca yang sangat kontras, biaya hidup yang serba mahal juga menjadi permasalahan utama bagi dirinya ketika menjalani kehidupan di Kota Paris Van Java ini.

Biaya sewa kost di Bandung relatif mahal, serba-serbi kebutuhan sehari-hari lainnya pun kadang tak tercukupi oleh BBH. Hal itu tentu menjadi PR bagi Marbun yang terbiasa dengan biaya hidup murah di Lampung.

“Makan di Bandung butuh sekitar Rp15.000,00 sampai Rp20.000,00 sekali makan. Di Lampung, Rp10.000,00 udah bisa dapet nasi padang, bahkan Rp7.000,00 bisa buat makan di warteg,” ujarnya.

Di bulan puasa seperti ini, Marbun harus ekstra irit. Ia perlu me-manage uang saku semaksimal mungkin untuk sahur, buka puasa, ongkos ojol—mengingat jarak kostnya ke kampus lumayan jauh—serta sesekali memenuhi ajakan buka bersama teman-temannya.

“Jadi harus ekstra irit, apalagi saat bulan puasa seperti sekarang ini, sahur dan buka alakadarnya. Sahur kadang cuma pakai mi instan biar pas buka puasa bisa makan yang cukup. Belum lagi teman-teman yang ngajak buka bersama, kan nggak enak kalau nolak,” sambungnya. 

Dana BBH yang Tak Kunjung Cair

Dana BBH merupakan primadona yang ditunggu-tunggu oleh mahasiswa yang mengikuti program PMM ini. Pada umumnya, BBH ini berfungsi sebagai tunjangan, bukan sebagai dana primer untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, tak jarang mahasiswa justru mengharapkan BBH tersebut sebagai biaya primer guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-seharinya di lokasi pertukaran.

Namun, BBH yang diharap-harap menguntungkan justru malah membuntungkan. Sejumlah mahasiswa merasa digantung, baik oleh Kemendikbud maupun pihak penyelenggara PMM itu sendiri. Sebab, tidak ada kejelasan informasi terkait pencairan dana BBH ini. Bahkan, sampai tulisan ini dibuat pun belum ada konfirmasi atau informasi lanjutan terkait kapan pencairan dana BBH kali ini.

Marbun harus mengalami masa-masa sulit akibat pencairan dana BBH yang tak ada kejelasannya itu. Mahasiswa asal Sumatra ini berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Ia mengaku mendaftar program PMM hanya bermodalkan nekat dan hoki semata. Di perantauan pun ia tak memiliki sanak kerabat atau kenalan, hanya bermodalkan segumpal tanah yang diberi nyawa.

“Saya hidup di perantauan nggak punya siapa-siapa, uang pas-pasan juga. Jadi, satu-satunya yang bisa diharapkan, ya, dana BBH itu,” ungkapnya.

Ia turut mengungkapkan keprihatinannya terhadap pencairan dana BBH yang ngaret ini. Larut dalam situasi paceklik yang demikian membuat Marbun mau tidak mau harus pontang-panting ngutang sana-sini.

“Satu-satunya cara untuk bisa melanjutkan estafet hidup di perantauan, ya, mau tidak mau harus ngutang ke teman. Misal, minggu ini ngutang ke si A, minggu depan ngutang ke si B. Kalau dapat kiriman dari orangtua pun habis cuma buat bayar utang,” lanjutnya.

Baca juga:

Gagal Mudik Lebaran

Dana BBH yang tak kunjung cair menjadi alasan utama Marbun tidak mudik lebaran ke kampung halamannya di Lampung. Alasan lainnya adalah jatah cuti hari raya dari kampus yang cukup singkat. Belum lagi, tiket bus untuk pulang ke Lampung cukup lumayan harganya. Dirinya mengaku sedih karena terpaksa harus merasakan lebaran jauh dari orangtua.

“Dana BBH yang belum cair sampai sekarang membuat saya memutuskan untuk tidak mudik ke kampung halaman. Lagipula, cuti hari raya yang diberikan oleh pihak kampus cuma satu minggu,” ujarnya.

Keputusan Marbun untuk tidak mudik lebaran itu karena ia tidak ingin membebani orangtuanya dengan biaya tiket bus yang lumayan mahal.

“Belum lagi, biaya tiket bus pulang-pergi Bandung-Lampung lumayan mahal, kalau ditotal bisa habis satu juta. Daripada uang habis untuk biaya tiket, lebih baik untuk biaya hidup sehari-hari di sini,” tambahnya.

 

Editor: Emma Amelia

Wahyu Agil Permana
Wahyu Agil Permana Suka berkelana dan bercelana. Ig: @wahyuagil_azv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email