Aktivis perempuan di Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah dan peneliti di Surabaya Academia Forum Research Center and Humanities

Ketika Lebaran Mengajarkan Ketimpangan: Membaca Arga dalam “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Riska Rahayu Roisiah

2 min read

Lebaran sering dirayakan sebagai momen kebersamaan tanpa sekat. Tapi pengalaman tidak selalu seindah narasinya. Jika dilihat lebih jujur, kebersamaan itu tidak pernah benar-benar setara. Siapa yang duduk dengan nyaman di ruang tamu, dan siapa yang terus bergerak di dapur, bukanlah pembagian yang netral.

Dalam banyak kasus, posisi tersebut mencerminkan stratifikasi yang lebih dalam: status ekonomi, relasi kuasa dalam keluarga besar, hingga konstruksi gender yang telah lama mengakar. Mereka yang dianggap “berhasil” atau memiliki otoritas simbolik cenderung menempati ruang visibilitas untuk berbicara, didengar, bahkan menilai. Sementara yang lain mengambil peran domestik, bekerja di balik layar tanpa pengakuan yang sepadan.

Baca juga:

Film Tunggu Aku Sukses Nanti mengungkap ini bukan melalui konflik besar, melainkan melalui repetisi yang nyaris tak disadari. Arga, sebagai anak, menyaksikan bagaimana orang tuanya secara konsisten ditempatkan di dapur setiap kali acara keluarga berlangsung. Tidak ada paksaan eksplisit, tidak ada penolakan terbuka—justru karena itu, ketimpangan tersebut menjadi bagian dari “kebiasaan”.

Di titik ini, tradisi berfungsi bukan hanya sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai mekanisme normalisasi. Ketika ketidaksetaraan berlangsung dalam suasana hangat dan tanpa konflik, ia kehilangan sifat problematisnya dan berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar bahkan tak terelakkan.

Anak sebagai Subjek Sosial

Dalam kerangka Social Learning Theory Albert Bandura, anak tidak hanya belajar melalui instruksi verbal, tetapi melalui observasi terhadap relasi sosial di sekitarnya. Dalam hal ini, Arga tidak sekadar melihat aktivitas domestik; ia sedang merekam distribusi kuasa.

Yang lebih subtil, pengalaman ini membentuk apa yang dalam psikologi disebut sebagai vicarious shame. Arga tidak dipermalukan secara langsung, tetapi ia menyaksikan bagaimana orang tuanya diposisikan lebih rendah dalam struktur keluarga. Rasa malu ini tidak selalu hadir sebagai emosi yang eksplisit, tetapi sebagai kesadaran diam-diam bahwa ada sesuatu yang “kurang” dalam posisi keluarganya.

Dari sini, terbentuk dua kemungkinan psikologis yang sama-sama problematis. Pertama, dorongan kompensatoris untuk “naik kelas” melalui pencapaian, sebagai upaya keluar dari posisi yang dianggap rendah. Kedua, internalisasi inferioritas—keyakinan bahwa ketidaksetaraan tersebut memang layak diterima.

Dalam kedua skenario, anak tidak hanya mewarisi nilai keluarga, tetapi juga hierarki yang tidak pernah diakui secara terbuka.

Keluarga, Gender, dan Reproduksi Ketimpangan yang Tak Terlihat

Apa yang dialami Arga bukanlah anomali, melainkan bagian dari pola yang lebih luas. Dalam perspektif Family Systems Theory Murray Bowen, keluarga berfungsi sebagai sistem yang cenderung mempertahankan stabilitas termasuk dalam distribusi peran yang tidak setara.

Di dalam sistem ini, ketimpangan tidak selalu dipaksakan; ia direproduksi melalui kebiasaan. Peran domestik yang terus diambil oleh individu tertentu yaitu sering kali perempuan atau mereka dengan posisi ekonomi lebih rendah—menjadi bagian dari struktur yang sulit digugat.

Dengan demikian, dapur bukan sekadar ruang kerja, melainkan ruang simbolik di mana relasi kuasa dipraktikkan dan diwariskan. Ia menjadi lokasi di mana gender dan kelas sosial beririsan: perempuan bekerja lebih lama, lebih sunyi, dan lebih jarang diakui, sementara mereka yang memiliki posisi lebih tinggi menikmati ruang visibilitas dan otoritas.

Masalahnya bukan pada aktivitas membantu, tetapi pada absennya redistribusi peran. Ketika kerja domestik tidak pernah dibagi secara setara, dan ketika posisi sosial menentukan siapa yang “berhak” untuk beristirahat, keluarga justru berfungsi sebagai ruang reproduksi ketimpangan.

Baca juga:

Film ini, pada akhirnya, bekerja sebagai kritik sosial yang halus namun tajam. Ia tidak menawarkan solusi eksplisit, tetapi menghadirkan refleksi yang sulit dihindari: bahwa apa yang kita sebut sebagai tradisi bisa jadi adalah bentuk paling halus dari ketidakadilan yang terus dipertahankan.

Pertanyaannya kemudian menjadi tidak nyaman: dalam setiap pertemuan keluarga, apakah kita hanya berpartisipasi dalam kebersamaan, atau tanpa sadar juga ikut menjaga hierarki yang sama?

Karena yang diwariskan dalam keluarga bukan hanya nilai-nilai tentang cinta dan kebersamaan, tetapi juga struktur kuasa yang justru paling sulit diubah karena jarang diakui keberadaannya. (*)

Editor: Kukuh Basuki

Riska Rahayu Roisiah
Riska Rahayu Roisiah Aktivis perempuan di Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah dan peneliti di Surabaya Academia Forum Research Center and Humanities

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email