Liga Sepak Bola Putri Mati Suri

I Gede Ngurah Eka Dharmayudha

2 min read

Sudah hampir 6 tahun semenjak liga putri pertama kali digelar pada tahun 2019. Kala itu, penyelenggaraannya dianggap sebagai tonggak awal menciptakan iklim sepak bola putri yang modern. Tapi, hanya satu musim berjalan, liga putri berhenti bergulir. Hingga kini, tidak ada tanda-tanda bahwa kompetisi ini akan kembali digelar.

Sementara itu, PSSI begitu rajin menggelar turnamen-turnamen pramusim pria yang menghabiskan anggaran hingga miliaran. Liga putri seperti anak tiri. Sepak bola putri hanya jadi unggahan kala timnasnya meraih kemenangan, namun tidak pernah mendapatkan kejelasan, tidak memiliki rencana pembangunan yang berorientasi pada keberlangsungan karir pemainnya.

Sebaliknya, PSSI sibuk mengambil jalan pintas. Lewat proyek naturalisasi, mereka ingin menghipnotis publik agar terlihat seperti bekerja dengan memberikan prestasi secara instan. Dalam dua tahun terakhir, hampir seluruh skuad timnas pria adalah hasil proyek naturalisasi pemain keturunan.

Timnas Putri pun mengalami hal yang sama. Terakhir, PSSI menaturalisasi 4 pemain keturunan untuk memperkuat timnas putri Indonesia. Melakukan naturalisasi terhadap pemain keturunan tidak sepenuhnya salah, karena mereka adalah bagian dari Indonesia sehingga sudah menjadi haknya untuk memilih membela timnas Indonesia. Namun, ketika pembinaan dan kompetisi dalam negeri mati suri, proyek naturalisasi hanyalah pondasi yang rapuh dalam membangun sepak bola nasional.

Timnas Putri Pernah Kalah 28-0, Tapi Apa Yang Dilakukan Setelahnya?

Kita tidak melupakan sebuah fakta bahwa pada 2022, timnas putri Indonesia pernah mengalami kekalahan telak 28-0 dari Timnas Australia di kualifikasi Piala Asia. Hasil ini bukanlah sebuah kekalahan biasa, ini adalah alarm bahaya bahwa ada permasalahan struktural yang sangat serius.

Namun anehnya, setelah kekalahan tersebut, tidak ada langkah konkret apapun dari PSSI. PSSI tidak melakukan evaluasi secara sistemik, tidak ada perbaikan pada program pembinaan, bahkan liga putri sampai hari ini tidak digulirkan.

Baca juga:

Bandingkan saja dengan Fillipina, negara yang tidak memiliki tradisi sepak bola yang kuat, berhasil lolos ke Piala Dunia Wanita 2023 setelah secara serius membangun akademi dan kompetisi domestiknya. Bandingkan juga dengan Vietnam yang baru saja merilis roadmap sepak bola putrinya guna mencapai level perkembangan dan pencapaian level internasional di masa depan. Mereka bekerja dalam senyap, namun membangun pondasi. Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara tetangganya.

Minim Dukungan, Sepak Bola Putri Terabaikan

Tanpa sebuah liga yang kompetitif dan rutin, bagaimana pemain bisa berkembang? Bagaimana pelatih timnas bisa mencari talenta-talenta baru jika tidak ada wadah yang reguler? Padahal, dari sisi minat, bakat, dan semangat, sepak bola perempuan tidak kalah dengan pria. Banyak perempuan muda yang memiliki mimpi besar menjadi pemain profesional, tetapi mimpinya terbunuh oleh sistem yang tidak memihak mereka.

Menurut FIFA Women’s Report 2022, hanya 10 persen dari negara anggota FIFA yang tidak memiliki kompetisi liga putri reguler. Indonesia termasuk di dalam 10 persen tersebut. Ini tentu sangat menyedihkan bagi negara sebesar Indonesia.

Pada akhirnya, regenerasi pemain terhambat. Tanpa kompetisi yang reguler, klub jadi enggan untuk membentuk tim putri karena ketidakpastian dari federasi. Mereka akan kesulitan untuk mencari sponsor, dan eksposur media kecil terhadap sepak bola putri. Ini menjadi lingkaran setan; tidak ada liga karena tidak ada dukungan, tidak ada dukungan karena tidak ada liga.

Berhenti Prioritaskan Gimik dan Prestasi Instan

Sudah terlalu lama PSSI memprioritaskan proyek-proyek jangka pendek. Turnamen-turnamen penuh gimik dan pencitraan memang menarik perhatian, tetapi tidak membentuk pondasi yang kuat.

Membangun sepakbola tidak bisa diganggu oleh kepentingan politik jangka pendek pemimpin federasi yang ingin meraih posisi politik tinggi di kekuasaan. Sepak bola tidak bisa dibangun hanya dengan konferensi pers dan gemerlap timnas yang terus berprestasi dalam waktu singkat.

Baca juga:

Liga putri bukan sekadar kompetisi penghibur, melainkan sebuah komitmen terhadap keadilan, pembinaan jangka panjang, dan pengakuan bahwa wanita memiliki tempat dan mimpi yang sama pada sepak bola.

Jika federasi memang serius ingin meningkatkan level Indonesia seperti kata mereka dalam konferensi pers dan konten sosial media, maka sudah saatnya berhenti menganaktirikan sepak bola putri.

Membangun liga putri bukan soal teknis semata. Ini soal sikap, keberpihakan, dan visi besar. Jika PSSI benar-benar ingin melihat Indonesia memiliki masa depan cerah di ranah sepak bola, sudah saatnya memulai dari hal-hal dasar: kompetisi yang adil, pembinaan yang merata, dan keberanian untuk memberikan ruang pada seluruh pemainnya.

Kalau turnamen pra musim pria bisa digelar dengan biaya dan hadiah miliaran rupiah, mengapa liga putri yang hanya membutuhkan sebagian dari itu tetap tidak berjalan? atau sebenarnya permasalahan sesungguhnya bukanlah pada dana, tetapi pada niat dan pragmatisme politik semata?

 

 

Editor: Prihandini N

I Gede Ngurah Eka Dharmayudha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email