Aku adalah gambar yang berubah-ubah,tergantung bagaimana kamu memandangnya.

Ketika Totoro Kehilangan Rumahnya

Shankara Araknahs

2 min read

Malam itu, dua anak perempuan duduk di bawah pohon kamper raksasa. Ketika mereka menyusup ke rongga pohon dan bertemu sosok lembut bernama Totoro, hutan tiba-tiba terasa hidup, menjelma sebagai roh, sebagai rumah, sebagai saksi dunia yang lebih lama dari manusia. Hutan adalah dunia diam yang berdenyut, dunia yang tak semata soal pepohonan, melainkan tentang keanekaragaman, air, tanah, dan kehidupan bersama.

Namun hari ini, rumah itu kian menyusut, salah satunya tutupan hutan alam di banyak bagian Nusantara, termasuk di Pulau Sumatra terus tergerus. Dalam rentang 2002–2024, tercatat hilangnya 11 juta hektar hutan primer basah secara nasional. Hutan alam yang seharusnya menjadi penyangga ekologis dan sistem pendukung kehidupan kehilangan sebagian besar jaringannya.

Baca juga:

Kerugian hutan bukan sekadar soal pepohonan, ia juga merenggut habitat, mengikis ketahanan air, merusak kapasitas tanah untuk menahan curah hujan, dan melemahkan fungsi ekologis yang menjaga keseimbangan. Hutan bukan hanya latar, lebih dari itu adalah sistem yang saling terkait, antara flora, fauna, manusia, iklim, air, dan tanah. Saat rumah itu hilang, akar-akar kehidupan ikut terguncang.

Di lanskap yang dulu hijau, kini banyak bagian berubah, seperti lahan terdegradasi, sungai mengering, tanah rentan longsor, dan daerah hulu kehilangan kemampuan meresap air. Dan bagi roh seperti Totoro yang di film biasa muncul dari sudut-sudut gelap hutan, di dunia nyata ia mungkin tidak lagi bisa menemukan tempat bersembunyi.

Bencana Nyata 

Kerusakan hutan sudah bukan lagi konsekuensi masa depan, ini sudah jadi bencana alam yang memakan korban. Iwan Fals pernah menulis sepenggal lirik dalam lagu Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi (Album Opini –1982) bahwa;

“lestarikan alam hanya celoteh belaka, lestarikan alam kenapa tidak dari dulu?”

pertanyaan itu seakan tetap relevan hingga kini, ketika bencana datang lebih cepat daripada solusi.

Akhir November 2025 menjadi momen kelam ketika tiga provinsi di Sumatera, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda banjir bandang dan longsor dahsyat. Data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban tewas mencapai 1.178 orang, dengan ratusan lainnya masih hilang, serta ratusan ribu warga lain terdampak sehingga harus mengungsi karena rumah mereka tenggelam oleh lumpur dan hancur diterjang banjir. Jembatan dan fasilitas umum rusak berat.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menegaskan bahwa banjir dan longsor yang melanda provinsi tersebut bukan semata-mata akibat curah hujan yang tinggi, hal ini juga merupakan konsekuensi dari meningkatnya kerentanan ekologis. Perubahan bentang alam pada ekosistem penting, seperti kawasan hutan, ditambah dampak krisis iklim, disebut jadi faktor utama.

Bencana ini dilaporkan sebagai salah satu yang paling parah dalam satu dasawarsa. Dalam hitungan hari rumah, kampung, dan kehidupan hilang seperti hiruk-pikuk tak berujung. Ribuan orang mengungsi, dan pemulihan pun masih jauh dari kata selesai.

Fenomena itu menegaskan ulang apa yang para peneliti lingkungan sering katakan: deforestasi dan degradasi hutan bukan hanya soal kehilangan pohon, akan tetapi kehilangan daya tahan ekologis. Tanpa hutan untuk menyerap air, menjaga tanah, dan menstabilkan ekosistem, lewat hujan deras yang dulu hanya menyebabkan genangan kecil kini berubah jadi lumpur, tanah longsor, dan banjir bandang yang mematikan.

Totoro di era nyata adalah roh yang terusir

Jika di film My Neighbor Totoro masih bisa melihat roh hutan, di realitas sekarang roh itu semakin sulit terlihat. Bukan karena mata tak mampu melihat, tetapi karena rumahnya memang telah hancur. Deforestasi dan alih fungsi lahan mengikis ruang kehidupan secara sistemik. Hutan lama yang dulu dipandang sebagai misterius dan sakral kini dianggap “lahan kosong” yang siap untuk diubah jadi perkebunan, jalan, permukiman, atau pembangunan demi ekonomi cepat.

Baca juga:

Tapi apa artinya ekonomi ketika rumah bersama dan kehidupan bersama hilang? Apa artinya pertumbuhan jika ia dibayar dengan lumpur, banjir, dan nyawa manusia?

Tragedi banjir bandang di Sumatera akhir 2025 menjadi gambaran betapa rapuhnya tatanan ekologis kita ketika meremehkan hutan sebagai rumah. Roh itu tidak perlu desakan netizen atau kamera untuk hadir, ia hanya membutuhkan ruang untuk tumbuh, akar untuk menancap, dan manusia yang mau menjaga, bukan menggerus.

Kita Butuh Totoro

Kisah fiksi seperti milik Studio Ghibli bukan sekadar hiburan, tapi juga bisa menjadi alat refleksi. Ketika kita menonton Totoro muncul di balik pepohonan, kita diingatkan bahwa ada dunia lain selain jalan beton, jalur ekonomi, dan lajur kapitalisme. Dunia sunyi, hijau, hidup bersama yang substansinya jauh lebih penting dari konsumsi dan pembangunan sesaat.

Dan ketika kita mendengar deru banjir, gemuruh longsor, reruntuhan rumah dan nyawa yang tercabut, kita harus ingat bahwa itu bukan sekadar bencana alam. Itu adalah krisis ekologi yang lahir dari hilangnya rumah bersama. Rumah yang dulu diam, kini menangis. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Shankara Araknahs
Shankara Araknahs Aku adalah gambar yang berubah-ubah,tergantung bagaimana kamu memandangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email