Suka nulis, ngopi, dan jalan-jalan.

Guru PAUD: Antara Cinta Profesi dan Realita yang Mengiris Hati

Nur Anisa Budi Utami

2 min read

“Kalau di sana gajinya berapa, Mbak? Sampai UMR?”

Pertanyaan soal gaji seakan menjadi lagu wajib setiap kali saya bertemu guru-guru PAUD dari sekolah lain. Setiap ditanya seperti itu, saya hanya bisa tersenyum kecut, bingung harus menjawab apa. Karena kenyataannya, meskipun murid di sekolah kami cukup banyak dan SPP yang dibayarkan orang tua tergolong mahal, gaji guru PAUD—bahkan di sekolah swasta—masih jauh dari kata sejahtera.

Banyak yang mengira bekerja di sekolah swasta itu lebih enak, gaji besar, fasilitas lengkap. Nyatanya, justru di balik pagar sekolah yang tampak megah, guru-gurunya hidup dengan penuh perhitungan. Penampilan kami sederhana, seadanya, berbeda jauh dengan kepala sekolah yang mungkin sudah bisa membeli mobil baru. Kadang saya berpikir, bagaimana mungkin orang tua murid tidak memandang aneh ketika melihat kesenjangan seperti itu?

Namun di sinilah uniknya dunia PAUD. Kami yang bertahan di profesi ini biasanya bukan karena uang, tetapi karena mental yang kuat dan cinta terhadap dunia anak. Tidak jarang saya melihat rekan-rekan guru memilih keluar setelah beberapa bulan mengajar. Alasannya klasik: lelah secara mental, lelah secara finansial. Ya, menjadi guru PAUD itu butuh hati yang luas dan kesabaran yang berlapis-lapis.

Beban Administrasi yang Tak Ada Habisnya

Banyak orang berpikir tugas guru PAUD hanya bermain dan bernyanyi bersama anak-anak. Padahal, di balik keceriaan itu ada tumpukan administrasi yang harus diselesaikan. Setiap minggu, setiap bulan, selalu ada laporan yang harus diketik, disusun, dan dikirim. Kadang rasanya kami lebih banyak duduk di depan laptop daripada bermain bersama murid-murid.

Belum lagi kebijakan pemerintah yang sering berubah. Baru saja kami selesai mengikuti pelatihan untuk menerapkan kurikulum tertentu, tahu-tahu keluar aturan baru yang mengharuskan kami mengubah strategi mengajar. Akibatnya, guru harus terus ikut workshop dan pelatihan, yang ironisnya sering membuat kami meninggalkan kelas. Anak-anak akhirnya dititipkan ke guru lain atau hanya diberi kegiatan seadanya. Bukankah yang paling rugi adalah anak-anak itu sendiri?

Tantangan Mengajar di Kelas

Bayangkan satu guru harus mengajar 20 anak dalam satu kelas. Bukan hanya mengajar, tetapi juga memastikan semua anak aman, nyaman, tidak berebut mainan, tidak saling memukul, dan tetap mau mengikuti aturan. Menghadapi 20 anak usia 3-5 tahun sendirian itu seperti mengawal pasukan kecil yang energinya tak pernah habis. Selesai jam sekolah, rasanya seluruh tenaga sudah terkuras habis.

Baca juga:

Namun sayangnya, besarnya tanggung jawab itu tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima. Gaji guru PAUD, baik di sekolah negeri maupun swasta, masih belum menyentuh taraf sejahtera. Tidak sedikit guru yang akhirnya harus mencari pekerjaan sampingan: ada yang menjual makanan ringan, ada yang membuka jasa les privat, bahkan ada yang berjualan online setelah pulang sekolah. Semua itu dilakukan demi menutup kebutuhan sehari-hari.

Stigma Masyarakat

Masalah lain yang kerap membuat hati para guru PAUD semakin perih adalah stigma dari masyarakat. Banyak yang menganggap guru PAUD hanya “penjaga anak” atau “babysitter berseragam.” Padahal, kami bekerja tidak hanya menjaga, tetapi juga mendidik. Setiap hari kami membantu anak-anak mengenal huruf pertama mereka, belajar berbagi, belajar disiplin, bahkan belajar mengelola emosi.

Ironisnya, ketika mendengar bahwa gaji guru PAUD kecil, ada yang menganggap itu wajar. Seolah-olah profesi ini memang tidak layak dihargai lebih tinggi. Padahal, bukankah masa emas perkembangan anak justru terjadi di usia PAUD? Bukankah dari sinilah karakter, kepercayaan diri, dan keterampilan dasar mereka terbentuk?

Harapan untuk Perubahan

Saya menulis ini bukan untuk mengeluh semata, tetapi untuk menyuarakan harapan. Guru PAUD layak mendapatkan apresiasi yang lebih baik, bukan hanya pujian, tetapi juga penghargaan secara finansial. Guru yang sejahtera akan mengajar dengan lebih fokus dan penuh semangat. Jika guru masih sibuk memikirkan bagaimana membayar listrik, bagaimana membeli buku untuk anaknya, tentu energi untuk mengajar akan berkurang.

Pemerintah, yayasan, dan masyarakat perlu membuka mata. Pendidikan anak usia dini bukan sekadar tempat bermain. Ini adalah pondasi pendidikan bangsa. Jika pondasinya rapuh, bagaimana mungkin generasi yang dibangun akan kokoh?

Baca juga:

Selain itu, perlu ada kebijakan yang berpihak pada guru PAUD. Pelatihan memang penting, tetapi sebaiknya dijadwalkan dengan bijak agar tidak mengorbankan jam belajar anak. Administrasi juga bisa dipangkas atau disederhanakan agar guru lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak, bukan di depan layar laptop.

Menghargai Guru PAUD, Menghargai Masa Depan

Menjadi guru PAUD adalah pilihan yang penuh dedikasi. Kami mungkin tidak bisa membeli mobil baru setiap tahun, tetapi kami menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga: tawa dan pelukan tulus dari anak-anak. Namun apresiasi moral saja tidak cukup. Kami butuh kebijakan yang membuat profesi ini lebih layak dijalani.

Karena pada akhirnya, masa depan anak-anak kita dimulai dari sini. Dari ruang kelas kecil yang penuh warna. Dari guru-guru yang sabar mengajarkan cara memegang pensil, cara antri, cara meminta maaf. Jika guru PAUD dibiarkan terus berjuang sendirian, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi masa depan.

 

 

Editor: Prihandini N

Nur Anisa Budi Utami
Nur Anisa Budi Utami Suka nulis, ngopi, dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email