Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Fenomena Jumbo dan Masa Depan Film Animasi Indonesia

Rido Arbain

2 min read

Sejak resmi dirilis secara luas pada 31 Maret 2025, film animasi Jumbo karya sutradara Ryan Adriandhy langsung mencuri perhatian publik dan sedikit demi sedikit melahirkan berbagai fenomena baru.

Dalam tiga minggu penayangannya, Jumbo sudah berhasil menjadi film animasi terlaris bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Bahkan film tersebut menjadi semacam anomali. Kurang dari satu bulan diputar di bioskop, film produksi Visinema Pictures bersama Springboard dan Anami Films itu langsung menduduki peringkat ketiga film Indonesia terlaris sepanjang masa yang sebelumnya didominasi oleh film-film bergenre horor dan komedi.

Baca juga:

Dalam konteks ini, ukuran keberhasilan Jumbo tak bisa hanya dilihat berdasarkan angka dan data saja. Tujuh juta lebih penonton tentu capaian yang fantastis, bahkan di luar prediksi. Namun, banyak sekali momen unik yang juga menyertai kesuksesan Jumbo. Misalnya, cerita tentang SD di Purwokerto yang rela menyewa 47 angkot untuk mengangkut para pelajar yang ingin nobar di bioskop. Ada pula cerita tentang bupati di Sumsel yang sampai menyewa bus demi mengajak nobar puluhan anak yatim-piatu untuk menonton kisah Don dan teman-temannya di layar lebar.

Selain elemen animasinya, ketenaran Jumbo pun dipengaruhi oleh original soundtrack (OST) alias lagu latarnya yang menjadi satu tren tersendiri. Lagu tema berjudul “Selalu Ada di Nadimu” ciptaan Laleilmanino yang dinyanyikan dalam dua versi oleh Bunga Citra Lestari dan juga duet Prince Poetiray dan Quinn Salman, mulai terdengar di mana-mana sampai menduduki puncak tangga lagu di beberapa platform musik. Lirik lagu yang sarat makna membuat banyak kalangan sontak ingin menyanyikan dan mengunggahnya di media sosial, mulai dari orang dewasa hingga balita. Tak kalah fenomenal, bahkan lagu tersebut sampai berkumandang di Gereja Katedral Semarang ketika Romo Yosafat Dhani Puspantoro menyanyikannya di tengah khotbah dalam misa Kamis Putih.

Dari sederetan fenomena itu, rasanya tak adil jika kita hanya melihat Jumbo sebagai momentum keberuntungan semata atau sekadar dukungan semesta. Tentu saja kita tak bisa menihilkan kerja keras 200 lebih animator di balik pencapaian visualnya yang memukau. Ditambah lagi, ada proses yang sangat panjang dan penuh tantangan. Bukan hanya fakta bahwa filmnya dikerjakan selama lima tahun, tetapi juga Ryan Adriandhy, sang sutradara, dengan konsisten membagikan proses kreatif pembuatan animasi Jumbo sejak tahun 2021 melalui akun Twitter (X) miliknya.

Baca juga:

Dalam satu sesi obrolan siniar bersama Raditya Dika, Ryan sempat menyinggung satu buku yang pernah ia baca, yaitu Show Your Work! karya Austin Kleon. Dengan menyebut judul buku itu, secara tidak langsung ia mengamini bahwa audiens atau calon penonton Jumbo memang sudah dibangun selama proses kreatif pembuatannya rutin ia bagikan hingga filmnya benar-benar tayang di layar lebar.

Melalui Show Your Work!, Austin Kleon tak hanya mengajak para seniman atau pelaku kreatif untuk “memamerkan” karyanya, tetapi juga menegaskan bahwa di dunia kerja kreatif, perbedaan antara karya baik dan buruk sangatlah luas. Penilaian sebuah karya tidak berasal dari ukuran-ukuran kecil yang absolut. Selalu ada ruang dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, begitu pun yang dialami Jumbo.

Sejak masa perilisannya, tidak sedikit kritik yang ditujukan kepada Jumbo. Mulai dari kontroversi tentang isu penyimpangan akidah oleh karena kemunculan karakter “hantu” dalam wujud peri, sampai kritik mengenai subplot-nya yang dirasa terlalu politis dan berat untuk dicerna anak-anak mengingat filmnya memang diberi label semua umur (SU).

Sebuah film, ketika dilempar ke publik, sudah sewajarnya mendapatkan dua macam respons: apresiasi atau kritik. Hebatnya, Jumbo mendapatkan keduanya—dan mungkin itulah yang menjadi penyebab mengapa filmnya makin banyak dibicarakan dari mulut ke mulut. Tagar #BuzzerJumbo pun muncul secara organik di media sosial, yang menandakan bahwa filmnya dipromosikan secara sukarela oleh banyak orang.

Fenomena yang dialami Jumbo jelas menjadi penanda era baru dalam perfilman Indonesia, terutama bagi produksi film animasi. Mungkin di titik inilah rumah produksi Visinema melalui lini animasinya dapat mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Walt Disney, “We don’t make movies to make money, we make money to make more movies.” Bahwa dibuatnya film Jumbo (mungkin) bukan untuk menghasilkan uang, tetapi pemasukan yang dihasilkan dari kesuksesan Jumbo sudah semestinya dimanfaatkan untuk memproduksi lebih banyak lagi film animasi berkualitas.

Melihat apa yang sudah dicapai Jumbo, apakah kita setuju kalau masa depan film animasi Indonesia tampaknya sangat cerah? (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Rido Arbain
Rido Arbain Nenek moyang kita bukan pelaut, tapi ketiadaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email