Dengan Kesadaran Penuh Memilih menjadi Ibu Rumah Tangga

Kristia Ningsih

4 min read

Resign setelah menikah adalah jalan yang saya pilih. Namun ini bukan soal IRT pick me yang mengerdilkan kaumnya yang berkarir ya.

Perempuan, besar tanggung jawabnya. Perempuan juga diuji dengan tubuhnya. Tanpa kehamilan saja, perempuan identik ‘berkepribadian ganda’ pada saat sebelum haid—haid—selesai haid. Kalau penulis pribadi, menstruasi berarti sakit perut bak kain yang dibilas secara klasik: digiling, diperas.

Untuk menghadirkan kehidupan manusia di dunia ini, perempuan harus merasakan “anugerah”. Penulis sendiri demam tinggi selama tiga hari berturut—yang belum pernah dirasakan selama gadis—ketika positif hamil. Setelahnya, sehat saja berarti lemas, ingin berbaring, merasa lelah.

Baca juga:

Memasuki bulan ketiga, semua hal menjadi super bau: nasi yang sedang dimasak, sabun, pasta gigi, parfum suami. Makanan yang sedang digoreng, bau minyaknya seperti dimasukkan ke lubang hidung. Makan pun menjadi super pemilih karena menunya terasa super asin, super amis. Buah adalah pilihan, tetapi kemudian dimuntahkan kembali. Namun, makan harus tetap diulang demi nutrisi calon bayi dalam rahim.

Di bulan ketujuh hingga hampir melahirkan, badan seperti membawa gunung: berat! Tidur harus miring tak bisa tengkurap, segalanya pegal-pegal. Ketika hendak melahirkan, rasa mules bagi ibu muda sungguh tak tertahankan. Pembukaan jalan lahir dari sebesar kelereng menuju ukuran buah melon bukan perkara waktu belaka melainkan soal “rasa”. Sakit tersebut akan sedikit lebih nyaman jika dibantu elusan suami pada bagian pinggang. Ada perempuan yang cepat melahirkan, ada perempuan yang harus menunggu dua hari. Untuk melahirkan diminta fokus, bernapas, jangan tutup mata, mengejan sebelum akhirnya terdengar suara tangis seseorang yang baru pertama melihat dunia dan cahaya.

Tidak sampai di situ, perempuan harus menjaga tubuhnya yang ‘remuk’ sekaligus menjaga mood bayi yang masih kaget dengan dunia: serba menangis di malam hari(kurang lebih tiga bulan lamanya). Perempuan harus pintar menggantikan tidur malamnya yang tercuri sembari harus tetap makan dan merasa bahagia walau rasanya seperti “neraka”. Itu syarat kalau perempuan ingin memberikan minuman dan makanan terbaik untuk si bayi: ASI.

Stres? Jangan coba-coba, ASI menjadi surut. Kejam ya, bersyarat bahagia di saat terpaksa menjadi tidak bahagia (bayi hanya dapat bergantung pada ibunya, komunikasi dengan tangisan in every moment). Sederhananya, menyusui adalah keterampilan tingkat tinggi: mengelola pikiran, perasaan demi alasan biologis. Sulit? Tentu, tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Di kehidupan perempuan beruntung—tak peduli seberapa pun kecilnya penghasilan sang suami—bila suami pengertian, ibu, atau ibu mertua yang empatik, itu sudah seperti anugerah. Bayangkan jika berada pada pernikahan yang “menguji” seperti support system yang berdalih A hingga Z membuat busui (ibu menyusui) merasa begitu sendirian. Inilah yang menjadi sebab begitu banyak tragedi nahas terkait anak kecil dan sang ibu: depresi. Demikian pula dengan membersamai tumbuh kembang anak menjadi siap sekolah: tetap “anugerah” dan level kesabaran tinggi.

Sekian seri tentang perempuan ini—hanya dengan menjadi dirinya sendiri saja sudah bak membawa gunung di atas pundak—apalagi jika ia bekerja. Tidak bisa dipungkiri, dengan tubuh yang ‘tidak selalu sehat’, absen bekerja adalah kebutuhan. Bukan hanya cuti tiga bulan melahirkan atau dua hari untuk menstruasi yang sudah legal; di luar itu pun perempuan membutuhkan banyak alpa dari ngantor.

Alasan anak sakit, suami sakit, orang tua sakit tidak serta-merta membangun empati para bos. Mirisnya, karena keadaan lapangan ini, perempuan memilih “tidak sakit” meskipun ia sakit. Sederhananya, meski sudah bersama keluarga positif pun, perempuan masih akan dicap tidak profesional bila mencintai keluarganya. Bila ia menutup mata akan kebutuhan orang terdekatnya, ia mendapat gelar “tak punya hati”. Karenanya, penulis pribadi memilih menjadi ibu rumah tangga. Biarlah jika dipandang sebelah mata. Yang utama ialah memiliki waktu dan usaha nyata untuk keluarga dengan membersamai mereka meski zero rupiah.

Tugas mengasuh dan mendidik anak-anak adalah milik saya. Mendelegasikannya pada orang lain memunculkan kekhawatiran. Jika tidak membersamai semasa kecil, value yang saya pegang dapat saja tak ada warnanya sama sekali untuk anak-anak. Value seperti parfum: bisa melekat pada kita baunya meski kita tidak memakainya.

Jika anak-anak lebih banyak tidak bersama kita, mereka terciprat value orang lain yang menang frekuensi di dekatnya. Tak peduli seberapa pun ibunya mendidik, orang lain akan lebih menang personal branding-nya.

Saya tak mau kehilangan waktu untuk menanamkan value. Kepribadian yang terbentuk akan membukakan akal positif. Namun, jika hanya akal yang diasah ditambah kurangnya jati diri hasilnya sangat mungkin di luar prediksi. Ini lebih menyeramkan daripada pertanyaan bagaimana menghasilkan tabungan pendidikan anak. Yang ini, saya sungguh berserah pada Yang Maha Kuasa.

Baca juga:

Kalaupun ada pihak yang meragukan bahkan menekan pilihan saya, I just let them be. Respons-respons oposisi tersebut justru membukakan perspektif baru. Rupanya, kalau seseorang tidak punya apa-apa—gelar, status, atau uang—umumnya ia tidak akan pernah diinginkan.

Kedua orang tua saya tidak ragu atas pilihan saya. Ideologi keperempuanan ini tidak membuat orang tua saya merasa buang-buang keringat, air mata, dan darah setelah mengirim saya ke perguruan tinggi. Keduanya menghormati putusan tersebut. Inilah bukti bahwa memang orang tua saya bijak lagi tanpa pamrih. Jadi, pihak selain orang tua yang tak ada kontribusi nyata dalam hidup saya sebelum sekarang, tidak perlu diperhatikan pendapatnya. Inilah value sekaligus  privilege.

Akhirnya, saya bekerja tiga tahun sekali. Setiap putri kami berusia cukup mandiri, ada saja jodoh pekerjaan mengajar yang menghampiri. Terakhir bekerja, saya dan suami difasilitasi rumah singgah gratis untuk mengajar di sebuah pondok pesantren. Jadwal kami dibagi rata. Saya bekerja, suami mengasuh anak dan begitu pun sebaliknya.

Tahun lalu resign ternyata kami dianugerahi putri ketiga. Saat ini saya sedang tidak bekerja. Saya membangun komunitas dari kesenangan saya: bahasa Inggris gratis. Dari sana, ada permintaan orang tua untuk les. Kegiatan mengasuh tiga anak diselingi curi-curi waktu untuk menulis. Tulisan-tulisan kesastraan saya dimuat di media cetak. Walau belum tingkat nasional, honornya cukuplah berguna. Tanpa disadari, sedikit demi sedikit saya pun bisa membeli barang sendiri.

Saat mengetik tulisan ini, putri sulung kami yang belum sekolah dasar ikut menatap layar. Ia bergumam, membaca kata yang pernah ia pelajari. Saya mengetik, ia menikmati pemandangan ibunya yang bekerja. Sembari tiba-tiba bertanya, “Mak, beruang kutub beranak, ya?” Tanpa menatap matanya, saya mengiyakan. Ia masih ingin berlanjut, “Kalau manusia, beranak juga, ya?” Saya mengangguk. Ia mengambil kesimpulan. Katanya, “Kalau manusia beranak, mamak-lia… T-rex bertelur, abang-lia…

Saya tersenyum dan menoleh. Dalam pikirannya, jika yang melahirkan bernama ‘mama-lia’, maka  yang bertelur dan belum bernama, bisa saja bernama “abang-ia”. Ia kembali asyik bermain. Saya pun belum sempat menjelaskan bahwa mamalia itu bukan bermaksud mamanya Lia.

Putri tengah kami yang bulan ini genap empat tahun juga menatap. “Mamak…, ini ya anggurnya…” ia menunjuk pada sedotan yang sudah ia gunting kecil-kecil di atas tutup stoples bak sebuah piring. “Oke, terima kasih ya,” jawab saya sambil menatapnya. Ia sumringah dan melanjutkan permainannya. Saat anak-anak bermain, putri bungsu kami sedang tidur, ayahnya sedang salat Jumat (jadwal kosong tiap Jumat), itu adalah privilege yang tidak datang setiap hari. Saya jadi memiliki waktu menulis.

Ya, selama anak-anak sehat, suami sehat, orang tua saya sehat, orang tua suami sehat, saudara-saudara saya dan suami sehat, keponakan-keponakan suami bergaul dengan baik pada anak-anak kami, atasan, rekan, dan murid suami di pondok pesantren tempatnya bekerja baik juga, teman-teman saya dari bekerja dulu masih concern dengan saya. Saat putri ketiga kami lahir, meski sibuk dengan kerja dan keluarganya, mereka sempat berkunjung. Nikmat apa lagi yang bisa saya dustakan? (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Kristia Ningsih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email