Pendiri IDWRITERS. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai konsultan komunikasi dan paruh waktu sebagai penyunting lepas.

Best Seller Bukanlah Sinonim Kualitas: Menggugat Salah Kaprah Jurnalistik Buku

Valent Mustamin

5 min read

Dalam lanskap media dan kultur digital kita hari ini, ada sebuah kesalahan leksikal—kalau boleh saya sebut sebagai kemalasan leksikal—yang terus-menerus dibiarkan hidup, terutama saat jurnalis atau kreator konten gaya hidup membicarakan literatur. Kata sandang “Penulis Best Seller” sering kali dilemparkan begitu saja sebagai puja-puji generik. Label ini seolah menjadi stempel sapu jagat untuk mendeskripsikan penulis yang karyanya dianggap bagus, memenangkan penghargaan, rajin wara-wiri di media sosial, atau sekadar sedang banyak dibicarakan oleh circle sang pembuat konten.

Sepintas, menyebut seseorang sebagai “Penulis Best Seller” terdengar seperti sanjungan tertinggi. Namun, bagi ekosistem perbukuan yang sehat, pencampuradukkan ini adalah sebuah sesat pikir yang cenderung merugikan. Praktik ini seperti mereduksi makna, mengaburkan fakta objektif, dan mendidik pembaca dengan standar pengukuran yang sepenuhnya salah.

Dalam industri penerbitan, best seller bukanlah kata sifat untuk menilai kualitas narasi, kedalaman riset, atau keindahan tata bahasa. Best seller adalah kata benda yang murni mewakili metrik matematis dan pergerakan logistik buku.

Sebuah buku menjadi best seller jika ia terjual dalam volume yang masif kepada pembaca akhir di titik-titik ritel dalam periode waktu tertentu. Titik. Ia adalah indikator pergerakan mesin kasir, bukan indikator pencapaian artistik apalagi kualitas sastra. Sebuah buku bisa saja memiliki plot yang berlubang, logika karakter yang berantakan, dan tata bahasa yang mengerikan. Namun, jika ia ludes dibeli oleh ratusan ribu orang karena sensasi viral, buku itu secara sah memegang takhta best seller.

Baca juga:

Di kutub yang sepenuhnya berseberangan, kita mengenal istilah critically acclaimed (diakui secara kritis) atau award-winning (pemenang penghargaan). Metrik ini sama sekali tidak diukur dari angka penjualan di toko buku. Kesuksesan kritis diukur dari apresiasi kuratorial: telaah dewan juri penghargaan bergengsi, ulasan mendalam dari kritikus sastra, dan pengakuan peer review. Banyak mahakarya pemenang Nobel Sastra, Booker Prize, atau Pulitzer yang angka penjualannya di bulan-bulan pertama rilis jauh di bawah novel roman populer picisan. Karya-karya tersebut adalah literatur tingkat tinggi yang critically acclaimed, namun mereka tidak lantas otomatis mencetak rekor best seller. Keduanya berada di sumbu ekuator yang berbeda.

Ilusi Bestseller di Indonesia

DI Indonesia sendiri, kekacauan definisi ini semakin diperparah dengan realita infrastruktur perbukuan yang bisa dibilang memiliki ruang abu-abu. Berbeda dengan pasar Amerika Serikat atau Inggris yang memiliki sistem pelacakan data penjualan nasional terintegrasi secara real-time (seperti Circana BookScan1 yang menarik data barcode langsung dari kasir berbagai toko buku dan e-commerce), Indonesia—sejauh yang saya ketahui—belum memiliki pusat data penjualan buku yang transparan dan dapat diakses publik. Ketiadaan wasit independen inilah sering kali dimanfaatkan.

Namun, secara de facto, pelaku industri perbukuan di Indonesia memiliki parameter logis dan terukur untuk menentukan apakah sebuah buku layak diberi sabuk best seller atau tidak.

Parameter pertama adalah kecepatan absorpsi cetak ulang atau reprint. Sebuah buku secara sah bisa diklaim sebagai best seller nasional jika oplah cetakan pertamanya—katakanlah rata-rata industri saat ini berada di angka 2.000 hingga 3.000 eksemplar—habis terserap oleh pasar (sell-out) dalam kurun waktu yang sangat singkat, biasanya 1 hingga 3 bulan sejak tanggal rilis. Kecepatan perputaran stok inilah yang memaksa penerbit langsung naik cetak kembali (reprint). Tapi jika baru habis dalam kurun waktu dua tahun, penamaannya cukup sebagai steady seller, karena “haram” hukumnya melabelinya sebagai best seller

Parameter kedua adalah peringkat retail jaringan besar (major bookstore rankings). Indikator ini menyaratkan buku tersebut menempati rak pamer Top 10 atau Top 15 di jaringan toko buku utama berskala nasional, seperti contohnya Gramedia. Data ini valid karena ditarik langsung dari akumulasi Point of Sale (POS) di seluruh cabang mereka se-Indonesia. Jika sebuah buku menduduki peringkat atas di jaringan retail ini selama berminggu-minggu, volume penjualannya sudah pasti berada di angka yang masif.

Sayangnya, media arus utama dan kreator konten lokal sering kali abai terhadap metrik industri ini. Kerap kali, kita melihat media membuat daftar kurasi (listicle) dengan parameter yang bisa dibilang ngawur. Klasifikasinya dicampur aduk secara serampangan: memasukkan buku yang benar-benar best seller secara data kasir, digabungkan dengan karya yang murni critically acclaimed, disatukan dengan penulis yang rajin membuat thread viral di media sosial, atau lebih buruknya lagi, daftar tersebut dibuat semata-mata berdasarkan selera pribadi penulisnya dan sebatas nama-nama yang kebetulan lewat di linimasa mereka.

Lalu, dengan entengnya, daftar gado-gado tersebut dipublikasikan dengan tajuk bombastis: “Daftar Penulis Best Seller Indonesia yang Wajib Dibaca”.

Tidak heran jika saat daftar tersebut diunggah, kolom komentarnya langsung dibanjiri komentar dari publik. Pembaca dengan mudah mempertanyakan akurasinya: “Lho, kok penulis si A tidak ada di daftar?”, “Padahal buku si C terbukti selalu top 10 di toko buku, kenapa kalah sama si B yang bukunya saja jarang kelihatan?”. Reaksi penolakan ini adalah bukti nyata bahwa publik—terutama pembaca aktif—sebenarnya memiliki radar literasi yang jauh lebih tajam daripada media yang menyuapi mereka. Mereka tahu ada manipulasi saat popularitas internet, kualitas sastra, dan preferensi personal disembunyikan secara paksa di balik tameng kata best seller.

Skandal Global Manipulasi Penjualan

Di tingkat global, terutama di pasar perbukuan yang sangat matang, penjagaan terhadap muruah kata best seller dilakukan dengan sangat militan. Ketika ada penulis atau penerbit yang mencoba memanipulasi metrik penjualan demi mencuri label ini, komunitas literatur dan jurnalis investigasi akan mengeksposnya tanpa ampun. Sejarah mencatat serangkaian skandal besar yang membuktikan betapa status best seller adalah metrik kuantitatif yang rentan diretas, dan sama sekali tidak berkorelasi dengan pujian kritis.

Skandal Handbook for Mortals adalah salah satu kudeta literatur paling absurd di era modern. Pada 2017, sebuah novel fantasi Young Adult (YA) aktris Lani Sarem ini, tiba-tiba muncul dari antah berantah dan langsung menduduki posisi nomor satu di daftar The New York Times (NYT) Best Seller, menggeser buku fenomena The Hate U Give karya Angie Thomas. Kejanggalan ini langsung disadari oleh komunitas Penulis YA di Twitter. Tidak ada ulasan awal (Advanced Reader Copies), tidak ada promosi di media besar, dan buku itu bahkan kehabisan stok di situs Amazon. Penyelidikan independen mengungkap modus operandinya: pihak penerbit (atau pihak yang berafiliasi) secara sistematis menelepon toko-toko buku independen di seluruh Amerika—khususnya toko-toko yang datanya ditarik oleh algoritma NYT untuk kalkulasi best seller. Mereka kemudian memborong buku tersebut secara massal (bulk buying) untuk menciptakan lonjakan penjualan artifisial. Setelah terbukti adanya manipulasi, The New York Times segera merevisi daftarnya dan mencabut Handbook for Mortals kurang dari 24 jam setelah daftar itu rilis. 

Untuk melawan praktik culas seperti yang dilakukan dalam kasus Handbook for Mortals, The New York Times menciptakan sebuah sistem penanda yang ditakuti dalam industri: tanda belati atau dagger (†). Sering kali, penulis buku-buku motivasi bisnis, kepemimpinan, atau tokoh politik membeli buku mereka sendiri dalam jumlah ribuan untuk dibagikan di seminar atau kampanye. Jika algoritma NYT mendeteksi adanya pembelian institusional secara massal yang mencurigakan—bukan murni dibeli secara organik oleh pembaca eceran di toko—NYT tetap akan memasukkan buku tersebut ke daftar peringkat jika angkanya masuk, tetapi mereka akan menyematkan simbol belati di sebelah judulnya. Di kalangan insan perbukuan, mendapat “tanda belati” ini adalah sebuah aib; sebuah deklarasi publik bahwa buku tersebut masuk daftar terlaris karena penulisnya membeli kesuksesannya sendiri. 

Baca juga:

Bukti paling telak bahwa best seller adalah soal teknis kalkulasi ditunjukkan oleh pemasar Brent Underwood3 pada 2016. Ia merasa muak dengan banyaknya “pakar” di Instagram yang menempelkan gelar “#1 Amazon Best Seller” di bio mereka. Untuk membuktikan betapa cacatnya sistem ini, ia menerbitkan “buku” di Amazon yang hanya berisi satu halaman foto kakinya sendiri dan mengategorikan buku tersebut di ceruk genre yang sangat sunyi peminat: Psikologi Transpersonal, menetapkan harga $0.99, dan meminta tiga temannya untuk membeli buku tersebut. Dalam beberapa jam, algoritma Amazon memberikan stiker best seller dan Underwood sukses membuktikan bahwa gelar prestisius itu bisa dibajak hanya dengan foto kaki dan modal kurang dari tiga dolar.

Dalam tulisannya yang membongkar eksperimen tersebut, Underwood menuliskan epilog yang menohok:

“Saya melakukannya karena saya muak dengan gelar-gelar narsistik dan kesuksesan tanpa kualitas. Saya ingin menunjukkan betapa mudahnya menyebut diri Anda sebagai penulis ‘best seller’, dengan harapan para pembeli buku bisa menjadi konsumen yang lebih kritis. Ingat, jika saya bisa membuat kaki saya menjadi ‘penulis best seller’ dengan modal kurang dari tiga dolar dan kerja beberapa menit, Anda harus mulai meragukan siapa pun yang memamerkan gelar tersebut.”

Mengembalikan Integritas Kata

Fenomena-fenomena di atas seharusnya menjadi teguran keras bagi ekosistem media kita. Memaksakan label best seller pada karya yang sebenarnya critically acclaimed—apalagi hanya berdasarkan vibes media sosial semata—justru merendahkan pencapaian artistik sang penulis. Seolah-olah, satu-satunya jalan agar seorang penulis diakui eksistensinya oleh media adalah jika mereka menghasilkan banyak uang dan mencetak angka fantastis. Padahal, kontribusi terhadap wacana intelektual, eksplorasi estetika bahasa, dan keberanian membongkar tabu sosial adalah pencapaian yang jauh lebih abadi dibandingkan grafik penjualan tiga bulanan.

Sudah saatnya pewawancara, jurnalis, dan pembuat konten literatur di Indonesia melek data dan presisi dalam berbahasa. Jangan jadikan best seller sebagai pujian malas. Jika seorang penulis menghasilkan mahakarya yang mengubah paradigma dan memenangkan penghargaan komite sastra, berikan mereka panggung penghormatan yang tepat: sebut mereka sebagai penulis yang critically acclaimed, award-winning, atau celebrated author.

Biarkan best seller tetap menjadi representasi dingin dari mesin kasir. Biarkan kualitas sastra dinilai dari kedalaman karyanya, dan biarkan pembaca mendapatkan informasi faktual yang mencerdaskan, bukan sekadar daftar kompilasi yang menipu akal sehat. Ketepatan dalam menyematkan gelar bukan sekadar soal pedanteri leksikal; ini adalah soal menghargai integritas dari literatur itu sendiri. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Valent Mustamin
Valent Mustamin Pendiri IDWRITERS. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai konsultan komunikasi dan paruh waktu sebagai penyunting lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email