Seorang awam yang senang menuliskan keresahannya untuk berbagi dan belajar bersama tentang permasalahan, relasi, komunikasi, dan dinamika sosial di masyarakat

Etika, Estetika, dan Eksotika

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

2 min read

Etika, estetika, dan eksotika sering diperlakukan seperti tiga kata yang berdiri sendiri. Padahal di Indonesia, ketiganya saling bertabrakan dalam realitas yang kasar. Estetika menjadi alat pembungkus. Eksotika menjadi komoditas. Etika sering kali dikorbankan diam-diam. Di ruang publik, relasi ini tidak netral. Ia sarat kepentingan, kuasa, dan pasar yang lapar visual. Fenomena ini bukan teori kosong. Ia hadir dalam industri hiburan, pariwisata, media sosial, hingga politik tubuh. Indonesia sebagai negara yang kaya budaya justru sering terjebak dalam paradoks. Keindahan dijual, keunikan dipoles, tetapi manusia di baliknya diabaikan. Di titik ini, etika bukan lagi fondasi, melainkan sekadar formalitas yang bisa dinegosiasikan.

Kontroversi menjadi bukti paling telanjang. Kasus ajang kecantikan nasional pada 2023 membuka luka yang sulit ditutup. Dalam gelaran Miss Universe Indonesia, muncul tuduhan pelecehan seksual terhadap finalis. Mereka diduga diminta menjalani body checking dengan cara yang tidak pantas, bahkan melibatkan pihak lawan jenis dalam proses tersebut. Ada pula laporan tentang sesi foto tanpa busana yang memicu trauma bagi peserta. Estetika tubuh perempuan dijadikan standar, eksotika tubuh dijadikan nilai jual, tetapi etika runtuh di belakang panggung.

Baca juga:

Di sinilah problem utama muncul. Estetika yang seharusnya merayakan keindahan berubah menjadi alat objektifikasi. Eksotika yang seharusnya menghargai keunikan berubah menjadi komoditas pasar. Ketika tubuh manusia direduksi menjadi objek visual, etika kehilangan pijakan. Ini bukan sekadar kasus tunggal. Ini gejala sistemik.

Industri kecantikan di Indonesia memperlihatkan pola yang sama. Tahun 2024, isu penjualan skincare ilegal berbahan obat keras menjadi sorotan nasional. Produk dengan etiket biru, yang seharusnya digunakan dalam pengawasan medis, justru diperjualbelikan bebas di pasaran. Estetika kulit putih, glowing, tanpa cela menjadi obsesi massal. Eksotika wajah “sempurna” diproduksi secara instan. Etika kesehatan ditinggalkan.

Dorongan menjadi cantik bukan lagi kebutuhan personal. Ia telah menjadi tekanan sosial. Media sosial mempercepat proses ini. Standar estetika diseragamkan, algoritma memperkuatnya, dan publik mengonsumsi tanpa filter. Eksotika lokal, seperti warna kulit gelap atau fitur wajah khas Nusantara, justru tersingkir. Yang muncul adalah imitasi global yang seragam, dingin, dan kehilangan identitas. Masalah ini semakin kompleks ketika eksotika budaya ikut diperdagangkan. Pariwisata Indonesia sering menjual “keaslian” budaya sebagai daya tarik utama. Tari tradisional, pakaian adat, hingga ritual lokal dikemas ulang untuk konsumsi turis. Namun, di balik itu, sering kali masyarakat lokal hanya menjadi pelengkap. Mereka hadir sebagai objek eksotika, bukan subjek yang dihargai.

Eksotika dalam konteks ini berubah menjadi eksotisasi. Ada pergeseran makna. Bukan lagi tentang keunikan yang dihormati, tetapi keanehan yang dipertontonkan. Budaya dilihat dari kacamata luar. Nilainya ditentukan oleh pasar, bukan oleh masyarakat itu sendiri. Etika kembali tersingkir. Media sosial memperparah keadaan. Konten viral sering mengandalkan sensasi visual. Tubuh, kemiskinan, bahkan penderitaan dijadikan bahan estetika digital. Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam ujaran kebencian dan toksisitas di ruang online dalam beberapa tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa etika komunikasi juga mengalami erosi. Estetika konten lebih penting daripada dampaknya.

Fenomena viralitas menciptakan logika baru. Yang penting terlihat. Yang penting menarik. Yang penting berbeda. Eksotika menjadi strategi untuk menonjol. Banyak konten kreator mengeksploitasi perbedaan, baik budaya maupun kondisi sosial, demi mendapatkan perhatian. Ini bukan lagi soal kreativitas. Ini soal ekonomi perhatian. Dalam konteks politik, estetika juga memainkan peran besar. Citra visual menjadi alat utama untuk membangun persepsi publik. Kampanye tidak lagi berbicara substansi, tetapi tampilan. Eksotika identitas digunakan untuk menarik simpati. Etika sering kali menjadi korban manipulasi citra. Publik disuguhi visual yang indah, tetapi kosong makna.

Baca juga:

Indonesia berada dalam situasi yang rapuh. Di satu sisi, ia memiliki kekayaan estetika dan eksotika yang luar biasa. Di sisi lain, ia belum memiliki fondasi etika yang kuat untuk mengelolanya. Ketika pasar menjadi penentu utama, nilai-nilai moral mudah tergeser. Keindahan tidak lagi netral. Ia menjadi alat kuasa. Kasus-kasus yang muncul bukan kebetulan. Mereka adalah konsekuensi dari sistem yang membiarkan estetika dan eksotika berjalan tanpa kontrol etika. Ajang kecantikan, industri skincare, pariwisata budaya, hingga media sosial menunjukkan pola yang sama. Ada eksploitasi yang dibungkus keindahan. Ada ketimpangan yang disamarkan oleh visual.

Masalah ini tidak sederhana. Ia berakar pada struktur sosial, ekonomi, dan budaya. Kapitalisme visual mendorong semua hal menjadi komoditas. Tubuh, budaya, bahkan identitas dijual. Indonesia sebagai negara berkembang berada dalam posisi rentan. Ia menjadi pasar sekaligus objek. Etika seharusnya menjadi penyeimbang. Namun dalam praktiknya, ia sering kalah. Regulasi lemah. Pengawasan longgar. Kesadaran publik terbatas. Semua ini menciptakan ruang bagi penyimpangan. Estetika dan eksotika berjalan liar tanpa arah.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar muncul. Untuk siapa keindahan itu diciptakan? Siapa yang diuntungkan dari eksotika yang dipamerkan? Dan siapa yang dirugikan ketika etika diabaikan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak nyaman. Tetapi di situlah realitas Indonesia hari ini berdiri. Etika, estetika, dan eksotika bukan sekadar konsep. Ia adalah cermin yang menunjukkan bagaimana sebuah bangsa memperlakukan tubuh, budaya, dan identitasnya sendiri. Dan dalam cermin itu yang terlihat bukan hanya keindahan, tetapi juga retakan yang semakin sulit disembunyikan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Marselinus Eligius Kurniawan Dua Seorang awam yang senang menuliskan keresahannya untuk berbagi dan belajar bersama tentang permasalahan, relasi, komunikasi, dan dinamika sosial di masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email