Dosen di IAIN Langsa

Kala Rokok Membakar Nalar

Romario

2 min read

 

Menegur orang yang merokok hanyalah buang-buang waktu, mendebat orang merokok juga buang-buang waktu, dan masalahnya aku senang membahasnya. Seorang penulis biasanya adalah perokok, setiap kali ada argumen serangan soal bahaya merokok, dengan sigap seorang penulis memberikan argumen tentang tak masalahnya merokok, dari soal konspirasi farmasi, dokter, dan seterusnya. Seolah argumen ilmiah yang telah diuji oleh sains soal bahaya rokok diabaikan begitu saja, kebenaran soal rokok tidak pernah dipercayai secara saintifik, malah argumen spekulatif yang muncul.

Walaupun di kotak rokok sudah terpampang nyata akibat dari merokok, kerusakan tenggorokan, paru-paru, mengganggu kesehatan balita, hingga berbahaya untuk ibu hamil. tapi tetap saja orang-orang merokok. Gila, tak masuk logika.. meminjam lirik fourtwnty.

Persoalan merokok adalah soal agama, masalah paling fundamental adalah kebolehan merokok yang dipertontonkan oleh kyai, tengku, ustaz dari kalangan Islam tradisionalis. Menjadi contoh bagi umat untuk mengikuti, walaupun kebenaran sains sudah membuktikan betapa bahayanya merokok. Peliknya adalah saat ada yang menentang rokok disebut Wahabi atau Muhammadiyah karena telah mengharamkan rokok, padahal argumen yang dibangun Muhammadiyah masuk akal karena rokok telah membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Baca juga:

Kita bisa buktikan betapa bahayanya rokok dari sejumlah orang yang mengalami sakit akibat merokok, menurut data WHO ada 300.000 orang yang mati karena rokok mulai dari penyakit jantung, stroke, dan kanker. Tapi buat apalah argumen ini, para perokok tetap tak percaya. Padahal kebenaran sudah terang benderang, yang terjadi adalah mereka berkisah yang entah dari mana muasalnya, ada seorang kakek yang merokok dan bertahan hidup lama. Tapi masalahnya klaim itu tak bisa dibuktikan.

Ada banyak alasan orang-orang merokok, mereka bilang lagi banyak pikiran,makanya merokok, atau biar dapat inspirasi makanya merokok, dan seterusnya dan seterusnya. Dan aku pikir mereka orang-orang lemah, karena banyak pikiran tak mesti merokok dan dapat inspirasi tak perlu merokok. Lagipula mereka hanyalah orang-orang yang kecanduan karena nikotin dalam rokok yang memaksa untuk dihisap terus-menerus.

Kecanduan inilah yang dimanfaatkan perusahaan rokok. Kita bisa melihat betapa kayanya pemilik perusahaan rokok, dengan pembeli yang candu terus menerus, bahkan menyasar masyarakat miskin. Kalimat ‘lebih baik tidak makan daripada tidak merokok’ terbukti pada kenyataan. Orang miskin terjebak dengan rokok dan memilih rasa candunya dibanding mengisi perut, menunjukkan bagaimana cara kerja nikotin.

Hal paling menyebalkan soal perokok adalah merokok sambil berkendaraan, baik sepeda motor dan mobil semuanya sama. Padahal yang mereka lakukan sungguh membahayakan pengendara, percikan api dari rokok sungguh mengganggu pengendara di belakang. Dan masalahnya saat perokok ditegur, mereka merasa tak bersalah. Rasanya memang perlu hukum tegas soal ini, biar perokok yang berkendara tak ada lagi.

Hal lain yang menyebalkan dari merokok, efeknya bagi anak-anak dan ibu hamil. Selalu ingin marah rasanya setiap melihat seseorang dengan santainya merokok di dekat anak-anak atau bahkan ibu hamil. Padahal bahayanya jelas, asap rokok bagi anak-anak mulai dari pneumonia, bronkitis, asma, infeksi telinga, hingga sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS). Begitupun dengan ibu hamil menyebabkan risiko keguguran, kelahiran prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), kelainan bawaan, hingga stillbirt (kematian janin dalam kandungan).

Tapi sekali lagi, para perokok tak akan pernah bisa menerima argumen ini. Soal bahayanya bagi diri sendiri dan orang lain, mereka tetap saja bebal merokok. Dan konyolnya mereka menyebut kampanye soal anti-rokok adalah bentuk konspirasi. Aku pernah menonton tiga pembicara yang membahas tentang rokok merujuk pada buku Nicotine War karya Wanda Hamilton, untuk argumen mereka bahwa kampanye rokok adalah persoalan ekonomi yang dikampanyekan para pedagang obat dan menguntungkan farmasi.

Beruntunglah aku menemukan antitesis buku Nicotine War, yaitu buku berjudul Perusahaan Rokok Untung Besar. Buku karya Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa itu menjelaskan bahwa rokok adalah persoalan struktural. Para pengusaha rokok dapat untung yang besar. Iklan rokok, meski tidak eksplisit, mereka di mana-mana, mulai dari iklan dan spanduk di jalan. Tak hanya itu, perusahaan rokok menjadikan event sebagai tempat mempromosikan rokok, menciptakan berbagai rasa varian dan produk untuk memikat perokok.

Baca juga:

Ironisnya pemerintah membiarkan begitu saja, karena rokok menguntungkan negara. Pemilik perusahaan rokok jadi orang terkaya di dunia, sedangkan mayoritas perokok mustahil bisa seperti mereka.

Sampai detik ini aku tidak menemukan argumen secara saintifik bahwa merokok itu baik. Para penulis yang mendukung argumen merokok tak punya data yang bisa divalidasi. Mereka hanya mengambil opini sembarang comot yang entah dari mana, atau karangan cerita soal orang yang sembuh karena rokok, soal kakek yang tetap hidup walau merokok, dan berbagai karangan yang tak berdasar. Tentunya hal itu bertentangan dengan kajian epidemiologi yang mengulas soal penyakit di masyarakat yang telah menunjukan soal bahayanya merokok, dan tentu peringatan bahayanya sudah terpampang di kotak rokok. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Romario
Romario Dosen di IAIN Langsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email