Apakah Musik Termasuk Kebutuhan Primer Hari Ini?

satria shendy

2 min read

Berbicara tentang kebutuhan primer, kita mungkin sepakat bahwa sandang, pangan, dan papan adalah jawaban yang paling tepat, mengingat ketiganya adalah aspek fundamental yang sekurang-kurangnya harus ada guna keberlangsungan hidup seseorang. Namun, dalam perkembangannya, khususnya hari ini, saya rasa kita harus mulai mempertimbangkan musik sebagai pendatang baru dalam rubrik kebutuhan primer.

Bukan tanpa alasan, kita kerap mendapati musik dapat dengan mudah masuk ke berbagai ruang zaman ini dan tak jarang memiliki pengaruh serta peranan yang cukup besar. Di café dan kedai kopi tiam misalnya, pernah saya jumpai pertanyaan seputar playlist dan lagu-lagu hits disodorkan sebagai penutup pada sesi wawancara kerja yang saya lakukan. Setelahnya, barulah saya ketahui lewat media sosial bahwa pertanyaan tersebut sudah menjadi hal yang lumrah.

Sebelumnya memang sering terpikirkan oleh saya bahwasanya musik memiliki dunia mereka sendiri. Mereka tampak demikian hidup, mengikuti aliran waktu yang terus menggandeng bait-bait nada dalam peradaban umat manusia.

Baca juga:

Musik dalam Lingkup Universitas

Di lingkungan kampus, musik bahkan bisa menjadi tolak ukur karakter dan kepribadian seseorang. Berdasarkan pengalaman pribadi, mahasiswa sekarang cenderung menciptakan ruang tertentu guna mengklasifikasikan sifat seseorang berdasarkan playlist mereka. Sebut saja dangdut, genre yang populer di kalangan masyarakat Indonesia ini, menjadi salah satu aliran musik yang paling sedikit diminati oleh mahasiswa. Mereka yang menunjukkan ketertarikan dengan genre tersebut secara tidak langsung akan dicap aneh dan nyentrik.

Padahal jika mau berpikir lebih jauh, seharusnya vonis sepihak terhadap selera dan aliran musik tertentu tidak boleh dilakukan. Rasanya kurang bijaksana jika menempatkan musik ke dalam koridor yang sangat sempit. Ia seharusnya dibiarkan bebas untuk dipilih, disukai, dan diekspresikan oleh semua orang. Musik adalah bahasa universal; ia tidak boleh kehilangan fleksibilitas dengan terikat oleh aturan dan stigma tertentu.

Hal ini tentunya bertolak belakang dengan citra mahasiswa yang seharusnya memiliki sudut pandang luas dan menghargai perbedaan. Jika kebiasaan seperti ini terus berlanjut dan terpelihara, maka saya rasa wacana soal kemunduran pola pikir mahasiswa masa kini bukanlah isapan jempol belaka, melainkan fakta mutlak yang berdiri tegak di hadapan kita.

Sebagai Refleksi Perasaan

Musik bukan hanya membentuk identitas sosial, tapi juga ruang refleksi emosional. Bagi generasi muda, musik telah menjadi salah satu alternatif untuk menyampaikan perasaan. Mereka memiliki kacamata tersendiri, tafsirnya pun beraneka ragam. Perlahan, musik menjelma simbol yang mewakili gambaran perasaan serta situasi tertentu. Simbol-simbol tersebut kemudian dikirim dan dibagikan dengan cara masing-masing, terus menerus dieja serta diterjemahkan dengan banyak sudut pandang yang tak jarang bermuara pada makna yang sama.

Baca juga:

Lewat obrolan kecil yang saya lakukan dengan beberapa orang, mayoritas berpendapat bahwa musik selalu mampu mewakili hal-hal yang tak terucap oleh kata, termasuk saya. Ia menawarkan cara yang unik untuk berekspresi, mengalir bebas di antara batas khayal dan ketertarikan, untuk kemudian berhasil menyuguhkan ketenangan.

Prioritas di Sela Kegiatan

Dewasa ini, musik cenderung menjadi teman setia dalam setiap kegiatan atau aktivitas. Dentum lagu yang pas akan menghadirkan suasana yang pas pula. Jika kita amati lebih lanjut, musik juga turut meramaikan fenomena “Demam Jogging” yang tengah melanda Indonesia. Anak muda sering terlihat menggunakan earphone saat sedang melakukan aktivitas tersebut. Alasannya beraneka ragam, ada yang sekadar mencari ketenangan di tengah puluhan orang, ada yang mencari asupan tenaga tambahan lewat musik-musik beraliran keras dan semacamnya.

Berdasarkan hal tersebut, tidak berlebihan rasanya jika kita mulai mempertimbangkan musik bukan sebatas hiburan belaka, melainkan variabel baru yang perlahan muncul ke permukaan sebagai prioritas banyak orang.

Pada perhelatan akbar seperti Piala Dunia misalnya, musik telah menunjukkan bahwa ia memang layak diperhitungkan untuk ada dalam posisi dan kedudukan yang tinggi. Sebut saja “Waka-waka” yang dinyanyikan Shakira, yang menjadi lagu resmi Piala Dunia FIFA 2010. Anthem wajib yang pertama kali diputar 15 tahun lalu itu mampu menambah euforia dan kemeriahan dalam perhelatan akbar yang digelar setiap empat tahun sekali. “Waka-waka” sukses menyihir para pecinta bola untuk berpendapat bahwa Piala Dunia 2010 adalah salah satu event terbaik dalam dunia olahraga.

Mungkin, kita memang tidak bisa makan musik saat lapar, atau tidur di atasnya ketika lelah. Namun dalam kepungan distraksi dunia modern, musik hadir sebagai ruang sunyi yang memberi jeda, menenangkan, bahkan menyelamatkan. Bukankah dengan segala daya yang ia tawarkan, musik sudah layak berdiri sejajar dengan kebutuhan-kebutuhan mendasar lainnya?

 

 

 

Editor: Prihandini N

satria shendy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email