Aku Menulis, Aku Menyembuhkan Diri

Aditya Firmansyah

2 min read

Bagi banyak orang, belajar menulis sering dimaknai sebagai upaya menyampaikan ide atau gagasan agar lebih terstruktur, konkret, dan dapat dikomunikasikan kepada publik. Menulis menjadi jembatan antara pikiran dan dunia luar, sebuah medium ekspresi yang kuat.

Namun bagi saya, fungsi menulis jauh melampaui itu semua. Saya menulis bukan demi didengar orang lain, apalagi untuk dikagumi. Saya menulis sebagai jalan untuk menyelami dan memahami diri sendiri—cara yang paling jujur dan masuk akal untuk mengenal siapa saya sebenarnya.

Ketika Tak Ada yang Mendengar, Saya Menulis

Saya tumbuh dengan keyakinan pahit bahwa tidak ada satu pun orang yang benar-benar mampu menjadi pendengar yang baik. Berbicara kepada orang tua sering berakhir dengan penghakiman. Sementara ketika bersama teman; ada rasa canggung, takut disepelekan, atau malah dianggap terlalu banyak “drama.” Kekhawatiran akan oversharing, dan tidak dimengerti, perlahan membentuk dinding yang tebal dalam diri saya. Trauma masa kecil membuat saya kesulitan menemukan ruang aman untuk sekadar berkeluh kesah.

Ketika tak ada satu pun tempat yang layak untuk menyuarakan isi hati, saya akhirnya menemukan menulis sebagai ruang alternatif. Di atas kertas putih yang kosong, saya bisa bersuara tanpa takut disela, dikoreksi, atau dipatahkan. Yang mendengarkan adalah saya sendiri—dan itu, ternyata, sangat melegakan.

Saya pernah berada di titik gelap depresi. Bahkan, untuk berbicara jujur kepada orang terdekat pun terasa sangat berat. Apalagi membayangkan harus membuka diri di hadapan orang asing—meski mereka seorang psikolog atau psikiater sekali pun.

Baca juga:

Kenapa menakutkan? Karena membuka diri kepada seseorang yang belum kita kenal, terutama dalam konteks terapi, bukan hanya tentang keberanian mengungkapkan isi hati. Tapi juga tentang ketakutan akan dihakimi, disalahpahami, atau dianggap berlebihan.

Ada tekanan sosial yang diam-diam menyempitkan ruang napas saya agar memaksa untuk senantiasa kuat. Terlebih, hidup di lingkungan yang masih kental dengan nilai-nilai patriarki, bahwa laki-laki yang mengaku depresi juga kerap dicap lemah, terlalu melankolis, dan tidak sesuai dengan citra maskulinitas yang termanifestasi dengan kuat.

Menulis sebagai Jalan Keluar

Lalu, bagaimana saya mencurahkan semua keresahan dan kegelisahan itu? Jawabannya sederhana: dengan menulis. Menulis memberi saya ruang aman untuk berbicara jujur, tanpa batas, tanpa format, dan tanpa takut dikoreksi. Dengannya, saya bisa menangis tanpa air mata, berteriak tanpa suara, dan berdamai dengan luka tanpa harus menjelaskannya ke siapa pun. Saya menulis untuk mendengarkan diri saya sendiri. Dan ternyata, itu cukup.

Dalam proses ini, saya tidak terbebani dengan keharusan membuka tulisan dengan kutipan bijak dari filosof, tidak perlu membumbui tulisan dengan satire yang menggelitik. Tidak. Saya hanya butuh satu hal: kejujuran. Menulis sebebas-bebasnya, tanpa rasa takut. Dalam dunia tulisan saya, tidak ada yang menilai. Tidak ada yang mengoreksi atau menyela. Tidak ada ekspektasi untuk tampil tangguh atau terlihat tegar.

Setiap kali saya selesai menulis, saya membacanya kembali. Saya menjadi pendengar yang sabar bagi diri sendiri—sebuah pengalaman yang nyaris tidak pernah saya temukan dalam komunikasi dengan orang lain. Sebab, ketika berhadapan dengan orang lain, saya menyadari bahwa saya tidak mampu mengontrol bagaimana reaksi mereka. Saya memperhatikan tiap kalimat, merenungi tiap emosi yang tertuang, dan mencoba memahami sisi-sisi yang sering saya abaikan. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menerima.

Mengenal Diri, Mengakui Luka

Sebelum saya menemukan tulisan sebagai sarana penyembuhan, saya sering memanipulasi diri sendiri. Saya menolak mengakui rasa sakit, menyangkal kesedihan, bahkan menyangkal bahwa saya sedang depresi. Itu mungkin adalah bentuk pertahanan diri—strategi untuk bertahan hidup di tengah luka yang tak terlihat. Tapi ketika saya mulai menulis, saya belajar untuk tidak lagi menyangkal.

Baca juga:

Tulisan membantu saya mengidentifikasi sumber luka dengan lebih jeli. Saya mulai memahami bahwa depresi bukan sekadar kesedihan biasa. Ia adalah kondisi mental yang nyata dan kompleks. Sayangnya, di masyarakat, terutama di lingkungan yang patriarkis, depresi masih distigmatisasi. Laki-laki yang mengaku depresi dianggap lemah, tidak maskulin, dan terlalu melankolis. Label seperti itu membuat banyak dari kami terjebak dalam kesunyian yang menyakitkan.

Menulis Tidak Menyembuhkan Seketika, Tapi…

Menulis tidak serta-merta menyembuhkan saya dalam semalam. Ia bukan obat ajaib. Tapi ia adalah proses. Setiap kata yang saya tulis adalah langkah kecil menuju pemulihan. Menulis membuat saya sadar akan luka-luka yang saya pendam selama ini, membuat saya berani mengakui bahwa saya tidak baik-baik saja—dan bahwa itu bukanlah kelemahan.

Menulis mengajarkan saya untuk tidak takut terlihat lemah, tidak takut dianggap berbeda, dan yang paling penting: tidak takut untuk mengenali diri sendiri apa adanya. Di dunia tulisan saya, saya adalah subjek penuh. Saya memiliki kendali atas kisah saya sendiri. Tidak ada yang lebih membebaskan dari itu.

Pada akhirnya, menulis memberi saya sesuatu yang sangat berharga: rasa aman. Dalam tulisan, saya merasa didengarkan tanpa perlu berkata-kata. Saya merasa hadir. Saya merasa utuh. Dan saya tahu, selama saya terus menulis, saya akan selalu punya tempat untuk pulang—tempat di mana saya bisa menjadi diri sendiri, sepenuhnya.

 

 

 

Editor: Prihandini N

Aditya Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email