Penderitaan Manusia: Menerawang Kegelisahan atas Realitas yang Tak Menguntungkan

Tito Suroso

2 min read

Mengapa orang yang tidak bersalah harus menderita? Dan mengapa orang yang menderita selalu diasumsikan sebagai orang bersalah.  Kenapa tidak menyelesaikan penderitaannya saja,—mati? Lalu bagaimana jika ada menyukai atas penderitaan itu?

Penderitaan manusia secara umum dapat diartikan sebagai kondisi kesengsaraan fisik maupun psikologis yang dialami baik oleh individu maupun oleh kelompok sosial akibat ketidakmampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar yang sangat penting, menghadapi berbagai bentuk penindasan yang bisa datang dari banyak sumber, atau akibat kondisi lain yang merugikan yang menimpa mereka.

Penderitaan ini sering kali timbul dari berbagai faktor yang kompleks seperti ketidakadilan sosial yang merajalela, kemiskinan yang menggerogoti harapan hidup, perang yang menghancurkan kehidupan serta infrastruktur, bencana alam yang membawa kerugian besar, dan penyakit yang tidak memandang usia maupun status.

Baca juga:

Pada dasarnya, penderitaan manusia berkaitan dengan hilangnya martabat sebagai manusia yang berharga dan melemahnya kemampuan individu untuk mencapai aktualisasi diri yang mereka harapkan.

Realita akan tetap menjadi realita. Meskipun sudah diupayakan sedemikian maksimal namun jika realita menghendaki yang sebaliknya, akan timbul rasa kecewa. Atau bahkan sejak dilahirkan, penuh kondisi fisik maupun psikologis yang tidak baik. Misalnya dilahirkan dengan kondisi orang tua yang kurang dalam finansial, atau broken home, atau realitas sosial lainnya yang tak menguntungkan.

Yang jahat akan respon tersebut adalah meninabobokan seperti “kita baru diuji”, “kita kuat, makanya diberi cobaan” dan sebagainya. Tanggapan tersebut seolah sudah yang kalah dan tidak ada pemberontakan. Lantas bagaimana jika (akan) terus ada sepanjang peradaban berlangsung?

Gencarnya Arus Dominan: Ruang Hidup (kian) Sempit

Majunya peradaban manusia sering kali ditandai oleh transisi sosiologis. Semula permaknaan manusia berdasarkan per-tubuhan (physically), kini berubah ke based on teknologi. Katakanlah masyarakat agraris ke masyarakat industri. Dan arus itu tentu berakhir dengan keuntungan kapital.

Ada studi mengatakan bahwa masyarakat modern jauh lebih rentan mengalami penderitaan, ketimbang masyarakat primitif yang saat itu masih menyatu dengan alam (nature).  Bukti akan kompleksnya penderitaan masyarakat modern adalah seperti tidak memiliki tempat tinggal, tidak dapat mengakses pendidikan, pekerjaan dan kerumitan lainnya. Sementara, masyarakat primitif sekadar mengalami kecemasan seperti ancaman predator di alam liar.

Arus evolusi tersebut tidak bisa disanggah karena hal itu merupakan dampak dari majunya peradaban manusia. Dan hal itu sebenarnya upaya untuk menjinakkan manusia dengan menuntut keteraturan, ketaatan, dan ketertiban. Namun kemajuan hanyalah kemajuan. Manusia modern dinilai tak bisa menjalani hidup yang lebih baik dibandingkan dengan manusia primitif sehingga menyempitnya ruang-ruang hidup manusia.

Teodise: Iman dalam menghadapi Penderitaan Manusia

Sering kali orang religius memahami penderitaan selalu dikaitkan dengan hal yang transendental atau mengenai Tuhan. Simplikasi dalam mengaitkan Tuhan adalah, manusia berusaha memahami Tuhan dan usaha tersebut menghasilkan pemahaman. Pemahaman itu menghasilkan buah pemikiran yang disebut teodise.

Narasi mengenai teodise bermula dari keinginan manusia yang mendalam untuk memahami bagaimana cara mengatasi penderitaan dan kejahatan yang ada di dunia ini, tanpa mengabaikan keyakinan yang kuat terhadap Tuhan yang baik dan berkuasa.

Baca juga:

Konsep teodise telah diinterpretasikan dengan beragam cara dalam konteks agama dan filsafat, di mana setiap tradisi memberikan pandangannya sendiri tentang bagaimana menjelaskan keberadaan penderitaan di dunia yang kompleks dan penuh tantangan ini.

Dalam agama Kristen, teodise sering dibahas melalui konsep penderitaan sebagai bagian integral dari rencana Tuhan yang lebih besar, yang mencakup proses pendewasaan spiritual individu. Penderitaan kaum Kristen dilihat sebagai sarana yang berharga untuk membentuk karakter dan menguatkan keyakinan seseorang terhadap Tuhan yang diyakini mahakuasa.

Beberapa filsuf terkemuka seperti Leibniz memperkenalkan teodise sebagai sebuah upaya berani untuk membela kebijakan ilahi dengan argumen bahwa dunia ini adalah ‘dunia terbaik yang mungkin ada,’ meskipun terdapat banyak kejahatan dan penderitaan di dalamnya yang sulit dipahami.

Dalam perspektif Islam, penderitaan dipahami dengan sangat mendalam sebagai bentuk ujian yang pada akhirnya dapat memurnikan jiwa manusia dan mendekatkan mereka kepada Allah yang Maha Pengasih, sekaligus menyadarkan mereka akan sifat sementara dan fana dunia ini serta pentingnya iman yang kokoh.

Kemudian, Buddhisme mempunyai pandangan yang cukup berbeda dengan mengajarkan bahwa penderitaan merupakan bagian dari empat kebenaran mulia yang menjelaskan tentang sifat penderitaan, asal-muasalnya, cara penghapusannya, dan jalan untuk mengatasinya. Dalam tradisi Buddhisme, upaya untuk mengatasi penderitaan dilakukan melalui pemahaman mendalam dan praktik meditasi yang sistematis.

Saat diperhadapkan dengan fenomena penderitaan manusia, sering kali yang dilakukan adalah melihat semua berdasarkan kedaulatan dan providensia Tuhan yang tidak terelakkan. Terdapat keterbatasan manusia secara ontologis untuk mengenal Tuhan secara utuh. Keterbatasan itu kemudian memunculkan alasan untuk pasrah dalam menghadapi penderitaan. Dan kepasrahan itu sering kali disebut “iman”. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Tito Suroso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email