Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

Melihat Realitas Ekonomi Indonesia dari SPBU

Faiz Al Ghiffary

3 min read

Beberapa bulan terakhir saya punya kebiasaan yang agak menyedihkan: mengisi bensin tidak pernah penuh.

Bukan karena tangki motor saya besar, bukan juga karena saya sedang menjalankan prinsip hidup hemat yang sering diajarkan influencer keuangan, alasannya jauh lebih sederhana: saya merasa lebih aman kalau uang di rekening tidak langsung habis sekaligus.

Jadi saya mengisi bensin 20 ribu rupiah dulu, besok kalau perlu, isi lagi. Kalau ada sisa uang, tambah lagi. Kalau habis gajian dan sedang merasa hidup cukup baik, baru sesekali berani bilang: “Penuh, Mas.” Kalimat yang terdengar biasa saja, tetapi belakangan terasa seperti sebuah kemewahan kecil. Dan ternyata saya tidak sendirian.

Semakin sering mampir ke SPBU, semakin saya merasa tempat ini menyimpan lebih banyak ceeita tentang kondisi ekonomi Indonesia dibanding seminar-seminar yang pernah saya ikuti. Bukan karena SPBU memiliki data yang lebih lengkap daripada Badan Pusat Statistik, melainkan karena di sinilah orang-orang menunjukkan kondisi hidupnya tanpa banyak bisa disembunyikan.

Pagi hari, antrean biasanya dipenuhi pekerja yang terburu-buru. Mata yang belum sepenuhnya terbuka, tetapi mereka sudah harus berangkat mengejar presensi, target, pelanggan, atau rapat yang entah kenapa selalu dijadwalkan terlalu pagi.

Sementara malam hari suasananya berbeda; Lebih pelan, Lebih lelah.

Kadang saya melihat driver ojol meminta bensin sepuluh ribu rupiah sambil terus memandangi layar ponselnya. Pernah juga melihat bapak-bapak yang beberapa kali mengubah nominal pengisian. Awalnya tiga puluh ribu, lalu dua puluh ribu, kemudian akhirnya lima belas ribu saja.

Mungkin uangnya kurang, mungkin masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak, atau mungkin besok anaknya harus bayar sekolah. Saya tidak tahu, tetapi pemandangan seperti itu rasanya semakin sering saya lihat.

Baca juga:

Dan anehnya, saya merasa sedang melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar orang membeli bensin. Saya sedang melihat bagaimana orang-orang berusaha membuat hidupnya tetap berjalan.

Kadang saya berpikir, ekonomi sebenarnya bukan sesuatu yang rumit. Bagi sebagian besar orang Indonesia, ekonomi adalah pertanyaan sederhana yang muncul hampir setiap hari: Apakah uang yang saya punya cukup sampai akhir bulan? Karena pada akhirnya, sehebat apa pun istilah ekonomi yang dipakai para ahli, yang dirasakan masyarakat tetap hal-hal sederhana. Harga beras naik, gas melon susah dicari, giaya kontrakan bertambah, tagihan listrik datang, motor harus diservis, dan bensin harus diisi lagi.

Belakangan, saya merasa semakin banyak orang hidup dalam wilayah yang aneh. Mereka tidak bisa disebut miskin, tetapi juga tidak pernah benar-benar tenang.

Ada motor, ponsel, internet, dan kadang masih bisa nongkrong. Sesekali masih bisa membeli kopi yang harganya lebih mahal dari makan siang. Namun hampir semua hal itu datang bersama cicilan. Motor cicilan, ponsel cicilan, paylater, pinjaman online, tagihan bulanan. Hidup seperti terlihat berjalan baik-baik saja dari luar, tetapi di balik itu ada banyak orang yang diam-diam menghitung pengeluaran sebelum tidur.

Kita hidup pada zaman ketika kemiskinan tidak selalu terlihat miskin. Seseorang bisa tampak baik-baik saja di media sosial, tetapi tetap merasa panik ketika saldo rekening mulai menipis seminggu sebelum gajian. Dan SPBU sering kali menjadi tempat kepanikan kecil itu muncul ke permukaan, sebab di depan dispenser bensin, tidak ada filter Instagram. Tidak ada caption motivasi. Dan tidak ada unggahan tentang work-life balance. Yang ada hanya pilihan sederhana: Isi penuh atau secukupnya.

Kadang saya merasa kondisi ekonomi seseorang bisa terlihat dari cara ia berdiri di depan petugas SPBU. Orang yang tenang biasanya langsung menyebut nominal. Sementara yang sedang menghitung-hitung hidup akan berhenti sebentar sebelum menjawab, seolah sedang melakukan rapat kecil dengan isi dompetnya sendiri. Saya tahu karena saya pernah berada di posisi itu, dan mungkin masih sampai sekarang. Dan saya yakin banyak orang juga pernah mengalaminya.

Kita sering mendengar kabar bahwa ekonomi tumbuh sekian persen, investasi meningkat, atau konsumsi masyarakat membaik. Saya tidak mengatakan itu salah. Angka-angka memang penting. Tetapi kadang saya merasa ada sesuatu yang tidak tertangkap oleh statistik.

Ada kecemasan yang tidak masuk laporan, ada kekhawatiran yang tidak tercatat dalam grafik, ada jutaan orang yang setiap hari bekerja keras, tetapi tetap merasa hidupnya hanya berjarak satu masalah dari kesulitan.

Baca juga:

Motor rusak, anak sakit, orang tua perlu bantuan, pekerjaan hilang. Dan seluruh perencanaan keuangan yang selama ini dijaga bisa langsung berantakan. Mungkin karena itu, banyak wajah di SPBU terlihat lelah. Bukan karena mereka malas bekerja, justru karena mereka terus bekerja. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan. Tetapi garis akhir yang mereka kejar terasa semakin jauh.

Beberapa hari lalu saya kembali mengisi bensin sebelum pulang. Di depan saya ada seorang pengendara yang meminta 10 ribu rupiah. Di belakang saya ada yang meminta isi penuh, saya tahu karena selepas bagian saya mengisi, saya dorong motor ke depan sedikit jauh dari pengisian, sambil membetulkan tutup tangki saya mendengar permintaan “penuh, Mas,” dari orang di belakang saya.

Motor mereka tidak jauh berbeda. Helmnya juga tidak jauh berbeda. Kalau berpapasan di jalan, mungkin saya tidak akan bisa membedakan siapa yang lebih mapan.

Tetapi di depan dispenser bensin itu, masing-masing orang akhirnya harus jujur pada keadaan hidupnya sendiri. Dan mungkin itu sebabnya saya selalu merasa SPBU adalah tempat yang aneh.

Orang datang hanya untuk membeli bensin. Tetapi tanpa sadar, mereka juga sedang memperlihatkan bagaimana hidup mereka berjalan akhir-akhir ini.

Dan dari semua tempat yang ada di kota, mungkin tidak banyak ruang yang sejujur itu. Karena di sana, sebelum melanjutkan perjalanan, setiap orang harus terlebih dahulu berdamai dengan isi dompetnya masing-masing.

 

 

Editor: Prihandini N

Faiz Al Ghiffary
Faiz Al Ghiffary Juru tulis perusahaan swasta. Hobi ngopi dan baca apa saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email