Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Kamus Rumah dan Tangga dan Puisi Lainnya

Salman Alade

2 min read

Ketika Namamu Menjadi Alamat

suatu pagi, semua surat yang datang ke rumah ditujukan kepadamu. tagihan listrik, undangan pernikahan, iklan pinjaman, kartu ucapan dari seseorang yang tidak kukenal. bahkan surat dari kantor pajak mencantumkan namamu. aku membawanya ke kantor pos. petugas memeriksa alamat kami lalu berkata, “benar. rumah ini memang milik orang yang kau cintai.”

aku pulang. kau sedang menyiram tanaman. aku tidak mengatakan apa-apa. ada beberapa hal yang terlalu benar untuk dijelaskan. aku hanya mengambil selang dari tanganmu dan menyiram halaman. air jatuh ke kakimu. kau tertawa. rumah itu tiba-tiba terasa sangat luas.

Kamus Rumah dan Tangga

1.
sendok:
benda kecil
untuk mengaduk kopi
dan perasaan
yang terlalu pahit.

2.
piring:
tempat nasi,
sayur,
dan percakapan
yang kadang pecah
lebih dulu.

3.
kasur:
wilayah netral
bagi dua orang
yang sepanjang hari
saling berperang
dengan pekerjaan.

4.
lampu:
mata kedua
yang tetap terbuka
ketika kita sudah
tidak sanggup
saling melihat.

5.
rumah:
sebuah kata
yang semakin lama
semakin mirip
namamu.

Pukul 04.17

kau tidur.
aku belum.

jam dinding
terlalu berisik.

aku menghitung
napasmu.

satu.
dua.
tiga.

pada napas keempat
aku lupa angka.

aku melihat wajahmu.
seorang asing.
seorang kekasih.
seorang anak kecil.
sebuah rumah.

semuanya
bergantian.

aku menyentuh rambutmu.
kau bergerak.
aku menarik tangan.

takut
membangunkan cinta.

pukul 04.17.
dunia masih ada.
kau masih ada.
aku masih mencintaimu.

dan itu
sangat aneh.

Aku Ingin Menjadi Hal yang Kau Lupakan

aku ingin menjadi
sesuatu yang kecil
dalam hidupmu:
kunci yang tertinggal
di atas meja,
nota belanja,
nama jalan

yang pernah kita lewati.

sesuatu yang sesekali
kau temukan
tanpa sengaja
dan membuatmu berhenti
selama beberapa detik.

bukan untuk membuatmu sedih.

cukup membuatmu berkata,
oh, ternyata dulu
aku pernah bahagia
di sana.

aku ingin menjadi
kenangan yang tidak mengganggu.

seperti bau nasi
dari rumah tetangga
pada sore hari.

tidak terlihat.
tidak dicari.

tetapi diam-diam
membuat seseorang
ingin pulang.

Sebuah Peta

aku menggambar jalan
menuju rumahmu.
jalan itu terlalu panjang.
aku hapus.

aku menggambar sungai.
di atas sungai
kutulis namamu.
air membawa
huruf-huruf itu pergi.

aku menggambar gunung.
di puncaknya
ada kursi.

kau duduk di sana.
aku memanggil.
kau tidak mendengar.

aku menggambar laut.
laut menutupi
semua yang telah kugambar.
termasuk aku.
termasuk kau.

peta itu selesai.
tidak ada jalan.
tidak ada rumah.
hanya selembar kertas
dengan bekas penghapus.
aku melipatnya.
memasukkannya

ke saku.

pulang.

Struk Belanja yang Menyimpan Hari Minggu

kemarin aku menemukan struk belanja di saku celanamu. tanggalnya sudah pudar, tetapi daftar barangnya masih terbaca: beras, sabun, kopi, dua apel, satu cokelat yang tidak pernah kau makan. kau bilang cokelat itu untukku. aku tertawa karena aku tidak ingat pernah memintanya. kau bilang memang tidak perlu meminta untuk mendapatkan sesuatu dari orang yang mencintaimu. aku menyimpan struk itu di dompet. bertahun-tahun kemudian, harga semua barang sudah berubah. beras lebih mahal, kopi lebih mahal, hidup juga entah sejak kapan menjadi mahal. hanya satu hal yang masih sama: namamu di ujung struk, ditulis terburu-buru dengan pulpen biru. seperti seseorang yang takut kasir keburu menutup kenangan.

Orang yang Bangun dengan Sebuah Laut di Dalam Dada

pagi itu seseorang bangun dan menemukan laut di dalam dadanya. ketika ia bernapas, ombak kecil bergerak di antara tulang rusuk. ketika ia batuk, seekor ikan jatuh ke lantai. ia memasukkannya ke dalam gelas dan pergi bekerja. sepanjang hari ia merasa sedikit asin. dokumen-dokumen di mejanya basah. tanda tangannya luntur. atasannya bertanya apakah ia sedang sakit. ia menggeleng. ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa setiap manusia mungkin menyimpan sesuatu yang terlalu luas untuk tubuhnya. sore hari, laut itu semakin tinggi. air keluar dari mulutnya ketika ia mencoba bicara. ia pulang sebelum malam. berdiri di depan cermin. membuka kemeja. tidak ada luka. tidak ada bekas jahitan. hanya suara ombak yang pelan sekali. ia menempelkan telapak tangan ke dada dan mendengar seseorang dari tempat yang sangat jauh memanggil namanya.

(Agustus, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email