Ketika tombak saling mengadu, peluru terhempas menuju jantung, buntung dan terlarung. Darah mengalir menembus hara menyuburkan koloni koloni Barat. Di titik tertinggi cekaman, diam, menutup mulut, menolak tunduk adalah sikap.
Di tanah gersang India, di bawah popor tantara Inggris, ia menunduk, menghadap ke atas, dan berdiri tegak. Mulutnya diam, tatapnya damai dan tajam. Tekanan membuat pikirannya makin haus kemerdekaan dan kebebasan. Atas dasar ini Mahatma Gandhi memulai pembangkangan.
Lain di India lain di Blora. Di Tengah hutan jati, yang kelak akan menjadi sumber daya unggulan Blora dengan kualitasnya. Ia mencangkul, mengais di atas batu kapur. Bertani di atas tanah tanpa jaminan hasil melimpah. Tapi dari bulir padi yang dipelihara sendiri, ia sedang membentuk dirinya sendiri. Raden Kohar yang namanya abadi dikenal dengan Samin Surosentiko.
Samin bukan priyayi dan bukan bangsawan. Hanya orang yang menjaga padi tetap berdiri tegak, mengusir tikus dan hama, dan bersandar di gubuk kecilnya. Samin adalah representasi padi yang ditanam sendiri. Berangkat dari hal kecil yang kelak namanya tercatat dalam sejarah.
Dalam garis waktu yang sama, Belanda dengan gagah tiba di sana. Di alas Blora dengan sepatu militer yang menginjak daun jati kering. Bunyinya nyaring dan menggetarkan jiwa-jiwa lemah yang tak mampu melawan. Mereka datang dengan haus kekuasaan dan kekayaan. Memaksa rakyat tunduk menjilati mengkilap sepatunya. Memajak tanah rakyat, menuntuk bayar atas apa yang bukan hak mereka. Padi yang menunduk, sejajar dengan tunduknya rakyat. Padi yang memanggil meminta dinikmati tuannya. Tapi harus raib di telan kolonial, sementara rakyat hanya bisa menelan ludah sendiri yang berasa getir, pahit, dan sakit.
Namun Samin memilih jalan berbeda. Dengan pakaian serba hitam, penutup kepala sederhana, tanpa alas kaki, ia tegak berdiri. Menolak tunduk di atas tanahnya. Ia tak punya senjata, tak punya belati di samping pinggangnya. Yang ia punya hanyalah keberanian dan hak untuk melawan. Dari detik itu, ia memulai perjalanan perlawanan. Memulai perlawanan dengan caranya sendiri.
Baca juga:
Ia tak mampu mengokang kaliber dan memandai pedang. Ia hanya diam. Menolak berkompromi, bersinggungan, dan kerja sama dengan kolonial. Ia hanya ingin membesarkan padinya dengan tenang. Menolak membayar pajak dan membagi hasil padi ke kolonial. Ini adalah cara Samin melawan. Tanpa suara tembakan dan hunusan pedang, tanpa aliran darah di atas tanah kapur. Hanya melawan dengan diam.
Samin bukan orang yang bodoh, ia jenius dan visioner. Ia sadar tindakannya yang seorang diri tak mampu memberi dampak besar. Dari sini ia memulai perjalan panjang, menyibak ranting jati dan keluar menuju kekuatan kolektif besar. Ia mengajari dan menyebarkan pemikirannya. Mengajak petani tanpa menggurui karena pada dasarnya mereka sama. Menolak tunduk pada kolonial dengan diam dan tidak menuruti kemauan mereka. Samin menyebarluaskan ajarannya dan membentuk komunitas yang seiring berjalannya waktu membesar dan menjadi kekuatan masyarakat ada dengan nama Suku Samin. Atau yang jika menggunakan istilah populer menjadi Saminisme.
Benda dan Castles (1968) dalam tulisannya berjudul The Samin Movement, menjelaskan bagaimana Suku Samin melawan. Awalnya mereka para Saminis membayar menyebutnya sebagai (voluntary contributions). Namun gerakan menolak pajak pada perkembangannya semakin diikuti para pengikut Samin. Ini menunjukkan terjadi perkembangan sebelum menjadi gerakan universal. Menjadi sebuah gerakan perlawanan pasif (lijdelijk verzet) yang sabar dan tenang, tetapi memberikan dampak yang mencekam bagi kolonial
Baca juga:
Ajaran Samin sederhana, tidak menuntut banyak hal. Garis besarnya adalah kejujuran dan kesederhanaan. Menjadi poros dalam segala tindakan para pengikutnya. Biacara apa adanya tanpa kurang dan lebih. Bicara pada siapapun dengan sama, tanpa perbedaan bahasa, karena tidak ada yang namanya kasta. Ajaran Samin berisi pantangan Drengki (membuat fitnah), Srei (serakah), Panasten (mudah tersinggung), Dawen (mendakwa tanpa bukti), Kemeren (Iri) dan Nyiyo Marang Sepodo (berbuat Nista terhadap sesama).
Samin mengajarkan cara menjadi dan memanusiakan manusia. Menolak pertentangan dan konflik yang menimbulkan perpecahan dan pertumpahan darah. Konsep ini yang menjadi dasar penolakan Samin terhadap segala bentuk praktik kolonialisme. Ia sadar, ketika kalah senjata, ia masih bisa melawan dengan prinsip.
Aksi Samin dan pengikutnya menjadi petunjuk bahwa dari hutan pedalaman Blora bisa menunjukkan perlawanan luar biasa. Pemerintah kolonial awalnya abai, menganggap angin lalu belaka. Padahal pemikiran kolonial yang salah kaprah. Ajaran Samin meluas, praktik ajarannya makin menjadi-jadi. Akhirnya kolonial melihat ini sebagai ancaman nyata. Mereka merasakan dampak luar biasa ketika rakyat menolak bayar pajak, bagi hasil, atau pun kerja sama. Segala bentuk perbudakan tidak dikerjakan, yang ada hanya sunyi, sepi, dan diam yang mencekam. Pemerintah kolonial akhirnya sadar mereka menghadapi musuh yang kuat. Bukan hanya petani mogok kerja, tapi pembangkangan sipil yang jadi simbol ketidakadilan, penindasan, dan hierarki sosial yang menekan.
Dalam praktik kolonial, selalu ada pihak yang menindas dan tertindas. Ada yang kuat ada yang lemah. Dalam hal ini Suku Samin mewakili pihak yang lemah dan tertindas yang melawan. Martin Luther King Jr. menyampaikan bahwa tragedi terbesar bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang jahat, tetapi diamnya orang-orang baik terhadap kejahatan tersebut. Ketika sistem timpang, maka perlawanan harus digelorakan. Jika tidak memungkinkan perlawanan fisik, maka diam adalah perlawanan terbaik.
Samin Surosentiko masuk ke dalam daftar tokoh berpengaruh yang menginiasi pembangkangan sipil. Ia bergerak dari titik terendah dan terdalam di hutan jati Blora. Dari seorang petani, ia tak hanya mampu memelihara dan membesarkan bulir padi. Ia adalah motor penggerak perlawanan dan pembangkangan terhadap sistem timpang. Perlawanannya berhasil, konsepnya berhasil menyebar ke wilayah luar, dan namanya harum. Namun sebagaimana akhir tokoh revolusioner lainya, keberadaanya adalah ancaman bagi penguasa. Ia diburu, ditangkap, dan diasingkan jauh.
Raga Samin memang berhasil dilumpuhkan. Namun bagi warga Blora yang secara historical menurunkan darah Samin, dia menjadi simbol abadi. Tokoh besar yang layak disebut pahlawan. Hutan jati Blora menjadi saksi bagaimana ia menegakkan prinsip demi sebuah konsep bernama keadilan. Samin tetap hidup sampai sekarang di sudut masyarakat pengikutnya. Namanya harum, semangatnya terus mendengung, mengalir di setiap mereka yang merasa haus keadilan dan terinjak sistem yang timpang. (*)
Editor: Kukuh Basuki
