Membaca novel Brothers karya Yu Hua menyisahkan kesan mendalam bagi saya. Bagaimana pada akhirnya ikatan persaudaraan yang begitu kuat bubar karena masalah wanita. Meski menyisakan akhir tak bahagia, kisah itu dibalut dengan adegan ataupun dialog-dialog jenaka para tokoh cerita yang akan mengocok perut. Kesan serupa muncul saat kita menyaksikan film-film yang dibintangi Stephen Chow.
Li Gundul dan Song Gang merupakan dua saudara tiri. Setelah ayah Li Gundul tewas tenggelam di kakus saat mengintip bokong wanita, ibu Li Gundul, Lin Lan, menikah dengan ayah Song Gang, Song Fanping. Song Fanping punya sifat berbeda dengan suami Li Lan sebelumnya. Dia terpelajar dan berasal dari keluarga tuan tanah. Kelak statusnya itu membuat Song Fanping harus mendapatkan hukuman sosial saat terjadi revolusi kebudayaan di era kepemimpinan Mao Zedong.
Revolusi kebudayaan merupakan kampanye politik yang bertujuan untuk menghapus unsur-unsur berbau borjuis dan kapitalis dari masyarakat Tiongkok. Kampanye ini melibatkan pembersihan ideologis, penghancuran pemikiran, budaya, kebiasaan, dan adat istiadat lama, serta munculnya kelompok Garda Merah yang melakukan kekerasan.
Baca juga:
Kedua bersaudara ini hidup dalam masa sulit itu. Bagaimana mereka harus menyaksikan kejamnya Garda Merah menyiksa orang-orang yang dianggap sebagai musuh kelas, termasuk melihat ayah mereka dikeroyok tanpa bisa melawan. Kelak Song Fanping juga harus mati mengenaskan di tangan Garda Merah saat ia berusaha pergi menjemput Lin Lang yang berobat ke Shanghai.
Yu Hua menceritakan dengan baik gambaran penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan kelompok Garda Merah terhadap musuh kelas. Bahkan mereka yang menjadi tawanan Garda Merah lebih memilih mengakhiri hidup ketimbang merasakan kembali penyiksaan-penyiksaan itu.
Sejak Song Fanping ditahan Garda Merah, sementara Lin Lan, bertolak ke Shanghai untuk berobat karena penyakit yang dideritanya, Li Gundul dan Song Gang hidup dengan bergantung satu sama lain. Meski saudara tiri, ikatan mereka sangat kuat.
Menariknya selain peristiwa-peristiwa tragis dihadapi dua bersaudara ini, Yu Hua berhasil membalut kisah tragis kedua saudara ini secara jenaka. Kejenakan tergambar misalnya saat Li Gundul mengintip Lin Lan dan Son Fanping berhubungan intim, lantas menginspirasi Li Gundul untuk mulai menggerayangi bangku hingga seluruh tiang listrik yang ada di kota Liu.
Di waktu lain, Li Gundul berhasil mengintip bokong gadis paling cantik kota itu, Ling Hong, dan menjadikannya komoditas bisnis untuk menjual rahasia bokong Ling Hong. Tak kalah menghibur saat Li Gundul menjabat kepala pabrik dan memimpin empat belas karyawannya yang pincang, idiot, buta, dan tuli.
Meski sebelum kematian Li Lan, ia yakin hidup Li Gundul akan lebih sulit dari hidup Song Gang yang lebih idealis, kenyataannya malah sebaliknya. Li Gundul yang ambisius dan materialistik ini kelak menjadi orang paling sukses di kota Liu.
Hubungan persaudaraan mereka lantas diuji saat mereka harus mencintai wanita yang sama, Ling Hong, wanita paling cantik di kota Liu. Meski Li Gundul sudah berjuang setengah mampus mengejar hati Ling Hong, tapi cintanya tetap bertepuk sebelah tangan. Ling Hong malah berpaling memilih Song Gang. Di sisi lain, meski Song Gang telah bersama Ling Hong, Song Gang tetap peduli dengan Li Gundul.
Kehilangan Ling Hong, tak membuat Li Gundul larut dalam kesedihan, ia lantas menjadi orang yang ambisius untuk mulai membangun bisnisnya. Meski sempat mengalami kegagalan, Li Gundul berhasil menjadi orang terkaya di kota Liu. Berbeda dengan nasib Li Gundul, Song Gang harus berjuang keras bekerja mengumpulkan uang, sampai harus mengorbankan dirinya pada penyakit.
Pada kondisi itu, bukannya Li Gundul sudah tak peduli lagi dengan kehidupan Song Gang. Li Gundul pernah menawari pekerjaan, tapi Song Gang menolak. Li Gundul bahkan menyesalkan keputusan Song Gang yang tak meminta bantuannya dan lebih memilih mengandalkan usaha sendiri.
Kisah persaudaraan Li Gundul dan Song Gang tak menemui akhir bahagia. Kelak, ketika Song Gang mengetahui perselingkuhan antara istrinya dan saudaranya sendiri. Song Gang lantas memutuskan untuk bunuh diri. Saat mengetahui kenyataan itu Song Gang tak menyalahkan Li Gundul atau Ling Hong, ia malah menyalahkan dirinya yang tak seharusnya berada di antara hubungan mereka.
Yu Hua sangat apik menggambarkan saat-saat sebelum kematian Song Gang sehingga mampu menimbulkan perasaan sentimentil bagi pembaca. Mulai dari surat yang ia buat untuk Ling Hong dan Li Gundul, kenangan-kenangan masa lalu mereka yang berkelebat, sampai keberanian menghadapi kematian.
Kematian Song Gang tentu mengubah hidup Li Gundul, ia tidak tertarik lagi dengan wanita hingga ambisinya pun ikut surut. Yang menjadi cita-citanya saat itu, ia ingin berwisata ke luar angkasa untuk menaruh kotak abu Song Gang pada orbit di luar angkasa, sehingga Song Gang bisa melihat enam belas kali matahari terbit dan enam belas kali tenggelam. Ketika tujuannya tercapai saat itulah menurut Li Gundul, Song Gang menjadi orang luar angkasa.
Baca juga:
Novel ini ringan dan sangat menghibur. Saya menyukai kecerdikan dan ambisiusitas Li Gundul tapi menolak sifatnya yang liar dan kadang mementingkan diri sendiri. Itu terlihat saat Li Gundul menjalin hubungan dengan Ling Hong, istri saudaranya sendiri. Saya menyukai kesetiaan dan kebaikan Song Gang, tapi menyayangkan sifat keras kepalanya. Salah satunya tampak saat ia tetap pergi mencari pekerjaan bersama penipu Zhou Kelana meski Ling Hong dengan keras melarangnya. Namun kelebihan dan kekurangan masing-masing karakter inilah yang akan mengocok perut pembaca. (*)
Editor: Kukuh Basuki
