Menjadi Manusia di Tengah Terlalu Banyak Standar

rizal priangga

3 min read

Suatu ketika saya berjalan kaki, lalu melambatkan langkah saat pandangan saya teralih ke sebuah kafe di seberang jalan. Suasananya tampak ramai. Para pengunjung duduk santai di tepi trotoar menghadap jalan, sesekali diselingi gelak tawa. Mayoritas mengenakan pakaian olahraga serba hitam dengan sepatu berwarna kontras. Di sudut kafe, deretan sepeda kalcer terparkir rapi. Pemandangan itu terasa familier. Saya baru ingat bahwa beberapa waktu lalu kafe ini sempat lewat di FYP media sosial saya.

Belakangan ini memang lazim kita temui kafe-kafe yang buka sejak pagi, lengkap dengan promo buy one get one. Fenomena ini berjalan beriringan dengan tren baru bertajuk “ngopag” alias ngopi pagi. Sambil memperhatikan keramaian itu, saya mulai membayangkan rasanya duduk di kursi trotoar kafe setelah selesai berolahraga, menyeruput segelas ice butterscotch, dan menikmati sepotong donat gula bubuk dari paket bundling. Seketika timbul perasaan bangga: betapa kalcernya saya sekarang

Baca juga:

Namun, lamunan itu tak berlangsung lama. Lamunan saya buyar bukan karena merasa terganggu oleh orang-orang yang menikmati paginya dengan cara tersebut. Setiap orang tentu berhak menikmati akhir pekan sesuai selera. Tapi dalangnya adalah perasaan ganjil di benak saya ketika kesadaran muncul bahwa perlahan-lahan pola semacam ini bergeser menjadi sebuah pakem.  Standar tentang bagaimana cara menikmati pagi yang “ideal” dan “seharusnya”.

Tentu, betapa gilanya situasi saat ini. Bahkan untuk urusan sarapan dan menikmati pagi di akhir pekan, hidup kita seolah-olah didikte oleh standar sosial yang kaku. Seakan ada bisikan halus yang mengintimidasi: “Jika kamu tidak melakukan ini, kamu tidak akan dianggap keren di lingkunganmu.”

Kita hidup di era di mana semakin beragam ruang sosial yang dapat kita masuki dan komunitas mikro yang juga punya standar normanya sendiri tentang apa yang dianggap baik, berkelas, mapan, dan masih banyak lagi. Tak hayal, terjadilah ledakan multi-standar. Celakanya, bayang-bayang standar lama pun belum sepenuhnya lenyap. Seseorang yang berusaha melepaskan diri dari standar konvensional atau standar lamanya sering kali malah tanpa sadar terjebak dalam standar baru subkultur yang ia masuki.

Kopi, misalnya, tidak lagi dinilai semata-mata dari cita rasanya, melainkan dari di mana kita meminumnya. Olahraga tidak hanya dipahami sebagai upaya menjaga kesehatan, tetapi juga sebagai sarana menunjukkan identitas dan status sosial. Liburan bukan lagi sekadar beristirahat dari penat, melainkan bentuk pembuktian bahwa kita memiliki gaya hidup yang seimbang. Bahkan, buku-buku yang kita baca kerap kali bergeser menjadi simbol intelektualitas dan tingkatan selera.

Singkatnya, hampir setiap pilihan hidup manusia hari ini seakan-akan membawa pesan tersirat tentang siapa diri kita. Manusia tak lagi dinilai oleh standar tunggal utama masyarakat, melainkan dibombardir oleh multi-standar yang telah terfragmentasi ke berbagai ruang dan komunitas yang diaksesnya. Kita dituntut memenuhi serangkaian standar tersebut agar dianggap berhasil, dewasa, menarik, bijaksana, mapan, atau sekadar layak dihormati. Kalau sudah begitu, seolah-olah menjadi manusia biasa saja tidak pernah cukup.

Namun, jika kita sejenak menghentikan langkah dan memikirkan ulang fenomena ini, mungkin saja masalah utama sebenarnya tidak terletak pada keberadaan standar sosial itu sendiri. Bagaimanapun, kehidupan bermasyarakat memang tidak bisa lepas dari norma atau standar. Masalah yang sesungguhnya muncul ketika kita tanpa sadar menyerahkan seluruh nilai diri kepada standar-standar tersebut.

Penyerahan diri secara total bisa terlihat ketika seseorang membeli barang yang tidak terlalu ia butuhkan, atau bahkan seseorang  yang  terpaksa memilih jalan hidup tertentu hanya karena takut dipandang sebelah mata. Penilaian yang dangkal ini sering kali mereduksi kedalaman diri manusia. Seseorang yang memakai pakaian dengan corak tertentu, misalnya, bisa langsung diberi stempel sebagai “orang ndeso”. Padahal, pakaian pada dasarnya hanyalah selembar kain. Manusialah yang secara agresif menempelkan makna dan simbol di atasnya, lalu kemudian menjadikannya alat ukur untuk menilai kelayakan orang lain.

Dari sudut pandang sosiologi, keterikatan manusia pada standar sosial ini sejatinya memperlihatkan sifat dasar kita sebagai makhluk sosial yang rapuh apabila terisolasi. Kita sebagai manusia sejatiya membutuhkan rasa aman dan dorongan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok. Mengikuti apa yang dilakukan mayoritas orang menjadi semacam bentuk  refleks pertahanan diri agar tidak dianggap aneh atau disingkirkan.

Tentu saja, semua tidaklah terjadi secara spontan, melainkan bekerja dengan mekanismenya yang bertahap: awal mulanya masyarakat membentuk gambaran ideal tentang apa yang disebut berhasil, cantik, atau mapan. Ketika individu berusaha memenuhi standar tersebut, ia akan memperoleh pengakuan sosial. Pengakuan ini kemudian mengokohkan penerimaan dan menentukan posisi individu tadi dalam relasi sosial.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang membuat seseorang tadi berusaha memenuhi sebuah standar?

Standar dapat terinternalisasi menjadi bagian dari habitus yang merupakan sekumpulan disposisi yang membuat individu memandang, menilai, dan bertindak terhadap dunia dengan cara-cara tertentu. Inilah yang membuat manusia pada akhirnya merasa perlu terus-menerus memenuhi standar demi mendapatkan pengakuan, bahkan tanpa ada yang memerintah. Kita bahkan sering kali mengejar sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena menginginkan pengakuan yang melekat pada benda atau perilaku tersebut. Sebagai contoh, seseorang membeli kendaraan roda empat bukan sekadar untuk alat transportasi atau agar tidak kehujanan,  melainkan demi meraih status “orang sukses” yang secara sosial diasosiasikan dengan kepemilikan mobil itu.

Lantas, ketika manusia mulai merasa lelah secara mental akibat himpitan berbagai standar ini, ke manakah harus melangkah?

Baca juga:

Jalan keluarnya tentu bukan sekadar bersikap sinis atau mengisolasi diri dari lingkungan sosial. Tantangan terbesar bagi kita hari ini adalah bagaimana tetap hidup di tengah ribuan standar tanpa kehilangan kemerdekaan batin.

Dalam hal ini, pandangan keilmuan dan tradisi keagamaan tampaknya bertemu pada satu titik perenungan yang sama. Manusia yang merdeka bukanlah manusia yang hidup menyendiri tanpa pengaruh dari siapa pun. Ia tetap mendengar penilaian orang lain, tetapi tidak membiarkan seluruh arah hidupnya didikte oleh penilaian tersebut. Ia tetap menjadi bagian utuh dari masyarakat, namun kompas hidupnya dipegang teguh oleh nilai-nilai yang ia yakini secara sadar, bukan semata-mata mengejar simbol yang sedang dipuja-puja oleh kerumunan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

rizal priangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email