Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Menggambar Pohon Keluarga dan Puisi Lainnya

Salman Alade

2 min read

Papa Jangan Dulu Mati Muda

setiap malam
papa membuka satu botol.

aku mendengar
ada suara kecil
seperti kancing seragamku
yang terlepas satu-satu.

mungkin begitu bunyi umur
ketika keluar dari tubuh seseorang.

aku percaya
kematian hafal alamat rumah kami,
seperti ia hafal jalan pulang ke kamar mama yang kosong.

ia tidak pernah mengetuk pintu.

ia masuk
bersama bau yang kubawa sampai tidur,
yang kata orang dewasa
bernama cap tikus.

aku belum pernah melihat tikus
pandai berenang di dalam botol.

tapi setiap papa meneguknya,
aku merasa
ada seekor tikus kecil
menggerogoti kalender di dinding.

tanggal-tanggal
jatuh ke lantai.

umur papa
ikut berkurang.

guruku mungkin akan bertanya lagi
apa cita-citaku,
dan aku ingin menjawab:
membuat semua botol
kehabisan jalan pulang.

supaya papa tetap sempat
mengantarku ke hari
ketika seragam merah putihku
tak muat lagi.

supaya nanti,
di wisudaku,
aku masih bisa menunjuk
seorang laki-laki
yang rambutnya mulai memutih,

lalu berkata,
“itu papaku.”

bukan fotonya.

Menggambar Pohon Keluarga

bu guru membagikan kertas kosong,
menyuruh kami
menggambar pohon keluarga.

katanya,
setiap cabang
adalah jalan pulang menuju nama.

aku menggambar mama lebih dulu.
lalu teringat
bahwa orang yang sudah meninggal
tidak boleh terlambat masuk surga.

aku menghapusnya pelan-pelan.

penghapusku
menjadi lebih pendek.

besok-besok,
kalau terus begini,
apa penghapus
akan habis lebih dulu
daripada keluargaku?

aku menggambar papa.
diam-diam
aku memberi akar
lebih banyak daripada cabang.

barangkali
pohon yang akarnya panjang
tidak mudah tumbang.

teman sebangkuku
menggambar kakek,
nenek,
paman,
bibi,
sepupu.

kertasnya seperti hutan.

punyaku
pelan-pelan
berubah menjadi halaman sekolah
setelah upacara selesai.

sebelum mengumpulkan tugas,
aku menulis
namaku
di bawah batang pohon.

supaya kalau suatu hari
ada yang harus dihapus lagi,
setidaknya
penghapus itu
ingat,
aku masih ingin tinggal
di dalam gambar ini.

Rapor

“bilangan tidak pernah benar-benar hilang,”
kata bu guru suatu hari di depan kelas,
“ia hanya berpindah tempat
setelah dikurangi.”

aku tidak begitu mengerti.

sebab angka satu
di rumah kami
sudah lama pergi,
dan tidak pernah kembali.

di buku matematika,
2 – 1 = 1.
mudah sekali.

tetapi di rumah,
tiga piring
dikurangi satu,
meja makan
tetap terlalu besar.

dua pasang sandal
dikurangi satu—
tetap menunggu suara
yang tidak pulang.

kata papa,
aku harus belajar lebih giat.

barangkali
supaya nanti
aku pandai menghitung.

tapi semakin sering
aku belajar pengurangan,
semakin takut
aku pulang.

takut
rumus itu
sedang mengerjakan
keluargaku.

hari pembagian rapor,
nilai matematikaku
turun.

bu guru menulis,
“perlu lebih banyak latihan.”

aku ingin bertanya,
latihan yang bagaimana
agar orang
tidak terus berkurang?

Cap Tikus

aku sering melihat tikus.

tapi tak pernah
melihatnya
mabuk.

yang kutahu,
setiap malam
ada botol bening
datang bertamu.

mula-mula
ia meminum suara papa.

rumah kami
menjadi pelan.

lalu
ia meminum langkah papa.

jalannya
tidak lagi lurus
menuju kamarku.

setelah itu
ia meminum mata papa.

padahal
aku sengaja
mendapat nilai seratus
agar matanya
berkilau seperti dulu.

kadang-kadang
aku ingin menyembunyikan
semua botol.

tetapi aku takut.

bagaimana kalau
botol-botol itu
pandai mencari jalan pulang,
seperti kematian
yang sudah hafal
alamat rumah kami?

semalam
aku bermimpi

ada seekor tikus kecil
berdiri
di bibir botol.

ia menangis.
katanya,
“aku hanya dipinjam namaku.”

ketika aku bangun,
botol itu masih ada.

papaku juga.

aku memeluknya
lebih lama

sebelum
malam
datang menjemput
siapa
yang akan diminum
lebih dulu.

Doa Sebelum Tidur

aku menghafal
doa
lebih pelan
daripada semalam.

barangkali
Tuhan
lebih suka
anak yang tidak terburu-buru.

setelah amin,
aku menunggu.

“Tuhan mendengar semua doa,”
kata ustaz suatu kali.

aku menunggu.

aku ingin memastikan
doaku
benar-benar sampai.

Tuhan,
kalau boleh,
besok
jangan kirim
siapa-siapa
ke rumah kami.

biarkan pintu
bosan
karena tak ada kabar.

biarkan jendela
hanya menghafal
angin.

dan biarkan
papaku
bangun pagi
dengan bau kopi,
bukan
bau yang membuat
rumah kami
pelan-pelan
kehilangan suara.

kalau pun
Malaikat
harus mencari seseorang,

tolong,
salahkan saja
alamatnya.

aku akan
menghapus
nomor rumah kami
dari semua mimpi.

supaya
besok pagi,
aku masih bisa
mencium tangan papa

sebelum berangkat sekolah.

(Gorontalo, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email