Mahasiswa Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta

Rara Mendut Meretas Batas

Beda Holy Septianno

2 min read

Tahun 2004 pelukis G. Sidharta pernah berkata bahwa perempuan tidak pernah selesai untuk dieksplor karena begitu banyak sudut pandang dan perspektif yang belum terungkap. Sidharta memang memvisualisasikan perempuan setidaknya dalam dua rupa: “yang rasional” dan “yang simbolik”. Kedua rupa itu tidak mengatasi perempuan sepenuhnya. Tetapi, dua dekade lebih awal dari pengakuan Sidharta, melalui novel Rara Mendut kita sudah bisa menyimak betapa luasnya jaringan kehidupan yang beririsan dengan eksistensi perempuan. 

Rara Mendut bukan saja merupakan protes atas penindasan dan ketimpangan dengan berlaga sebagai gadis pejuang, tetapi ia per se adalah narasi atau gagasan yang menantang kita memandang segalanya baru dari perspektif perempuan. Lebih lanjut, gagasan itu semakin dibidik oleh Romo Mangun sebagai sesuatu yang mempertimbangkan pembelaan kawula alit. Dalam permulaan ceritanya, Mendut adalah gadis rampasan perang saat Mataram menaklukan Kadipaten Pati. Namun, secara bertahap pada pribadi Mendut yang dipenjara itu bertubi-tubi adalah upaya mencari pembebasannya. 

Mendut yang berkarakter mandiri dan nakal yang bukan-bukan (tetapi kaya akal) misalnya, merupakan target pembebasan yang dimaksud oleh pengarang. Ia hadir di luar batas-batas netra manusia tentang perempuan. Mendut lebih diasosiasikan mirip Pinisi bugis dan angin samudera daripada penari yang gemulai dan sopan. Namun, pada dirinya juga ada yang tetap bagi seorang yang bereksistensi sebagai perempuan. Bagaimana ia juga memerlukan kesalingan afeksi dan intimitas yang dalam, terutama dengan Ni Semangka dan Genduk Duku (tokoh utama novel kedua dari Trilogi Rara Mendut). 

Titik Bidik

Sartre dikenal sebagai filsuf yang menggagas “sastra yang membebaskan”. Baginya, penulis yang baik tidak seperti bermain pistol-pistolan, tetapi harus melesatkan kata-kata secara tepat sasaran. Romo Mangun agaknya dengan sadar melancarkan tujuannya untuk mengungkapkan ‘objek telanjang’ dari  gap antara raja dan rakyat biasa (kawula alit). Ia sebenarnya sangat serius mengisahkan Mendut, supaya orang-orang yang belum tahu bahwa pada masa Kerajaan Mataram begitu jamak ketimpangan sosial-ekonomi antara raja dan rakyat, menjadi sadar dan mengetahui ‘objek’ tersebut. 

Maka, sebagai objek rampasan perang, Mendut harus dikurung. Harus menjalani pranata budaya kerajaan Mataram, di mana perempuan patuh seluruh raga jiwa kepada laki-laki yang mengambilnya sebagai istri. Tetapi, mendut keluar sebagai “rakyat yang terwakilkan” dan ingin terus melawan stabilitas pejabat/ penguasa. Mendut menyangkal banyak harapan Tumenggung Wiraguna, panglima Sri Baginda Mataram yang sudah tua tapi masih mengharapkan kehangatan dara perawan muda. Dalam diri Mendut selalu bersikeras ingin pulang, yaitu kembali ke tanah masa tumbuh kembangnya di pesisir Pati. 

Namun, keinginannya untuk pulang selalu digagalkan oleh Wiraguna. Bagi Wiraguna, apabila Mendut melarikan diri itu sama artinya pelecehan terhadap kewibawaan Mataram, sebab ia sudah menjadi milik Mataram semenjak Pati ditaklukan. Wiraguna sendiri adalah sisi yang mewakilkan state of culture dalam konteks cerita ini. Ia mewakilkan kesan tentang kebudayaan dalam segi-segi ini: keluhuran, predestinasi harus ini-itu dan dalam arti tertentu bertahan dalam kekolotan.

Baca juga:

Sebaliknya, ada Mendut berarti sebuah eksperimen perlawanan yang ternamai sebagai fajar peradaban. Ada kisah menarasikan Mendut berjualan puntung rokok dengan diarak memakai tandu berselubung kain. Orang-orang berebut membeli puntung yang sudah bercumbu dengan bibir mendut. Tentu, kawula alit tergambarkan kalah dari segi ekonomi. Namun, Wiraguna yang kaya dan wibawa itu disimbolkan tak berdaya menyaksikan Mendut yang menjadi “milik semua orang” dan mematahkan pandangannya bahwa Mendut hanya miliknya satu-satunya. 

Penutup

Saya berpandangan bahwa Novel Mendut bisa bercerita kepada pembaca pada dasarnya dalam tiga hal ini: intimitas persahabatan, tumpang tindih perspektif banyak tokoh perempuan dan nilai keibuan yang secara khusus dibawa oleh Ni Semangka selaku pengasuh Mendut. Banyak pelajaran kehidupan dialami Mendut dalam persahabatan bersama Genduk Duku. Kelak, Genduk Duku mengaku ia belajar banyak juga dari Mendut. Keibuan juga hadir bagai surya. Dari atas menyinari Mendut untuk keputusan-keputusannya yang merdeka. 

Bila ingin suatu imajinasi yang lebih dari rupa kemerdekaan Mendut, bacalah Rara Mendut bersama puisi “A song of the sea” karangan Hsu Chih-Mo yang terkenal itu. Penyair Chairil Anwar telah menerjemahkannya sebagai “Hilang Dara, Datang Dara”. Dara (sebutlah juga Mendut) dirayu-rayu pulang lantaran ‘ke-dara-annya’. Tapi sang Dara justru bersorak bertindak, sebagai berikut dalam terjemahan Chairil Anwar:

 

“Tidak, aku tidak mau!

Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu

Padaku sampai ke kalbu

Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,

Bernyanyi dara dengan kebebasan lagu”

“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut

Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang”.

 

Karena novel Mendut diramu dari mata seorang ahli arsitektur bangunan, maka segala wujud pemandangan dalam kata-kata bisa tervisualisasikan dengan detail dan menawan. Tak heran penggambaran tentang perjalanan dari Pati ke Bumi Mataram bagai melihat lukisan S. Bardi berjudul Rumpun Bambu (1978). Bagaimana dari Pati harus melewati hutan yang masih ditinggali macan liar dan menyebrangi arus sungai yang deras untuk sampai di Bumi Mataram. Tambah lagi harus diakui bagaimana sang pengarang berhasil menyusun sifat-sifat kepribadian tokoh secara kuat dan berkarakter, terutama si Rara Mendut itu sendiri. 

Namun, seperti kita tahu,  klise tersirat dari kisah atau riwayat tentang perjuangan kebebasan dalam kehidupan biasanya menyuratkan tentang “kejatuhan cinta” dan “kemendesakan mengambil kematian”. Pungkasnya, Mendut juga memilih klise tersebut. Ia mati dalam saat-saat penuh cinta bersama Pranacitra selaku kebebasan yang sudah terwakilkan

***

Johar Baru

(*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Beda Holy Septianno
Beda Holy Septianno Mahasiswa Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email