Nahdliyin, alumni Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Menyukai kajian-kajian keislaman dan filsafat.

Ramadan dan Kesalehan Sosial

Salman Akif Faylasuf

2 min read

Momentum bulan Ramadan sudah biasa kita dapati sebagai sarana untuk melakukan kebaikan. Berbagai keutamaan yang ada pada bulan suci tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi umat Islam dalam beribadah. Di dalam agama, ada ibadah yang sifatnya individual dan ada pula yang sifatnya sosial. Keduanya sama-sama menjadi tren dalam bulan suci Ramadan.

Tak hanya itu, bulan Ramadan juga merupakan bulan yang penuh keberkahan dan kemuliaan. Karena itu, hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tak hanya mementingkan moral dan spiritual serta membentuk kesalehan individual saja, melainkan juga membentuk dan membangun kesalehan sosial. Karena dalam kenyataannya, masih kita jumpai ketimpangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Artinya masih ada orang yang saleh secara individual, namun kurang saleh secara sosial.

Baca juga: Mudik, Migrasi Akbar Umat Islam di Indonesia

Kesalehan individual kadang disebut juga dengan kesalehan ritual, karena lebih menekankan dan mementingkan pelaksanaan ibadah ritual. Pun juga disebut kesalehan individual, karena hanya mementingkan ibadah yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan, dan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri tanpa membantu masyarakat sekitar.

Sementara, pada saat yang sama mereka tidak memiliki kepekaan sosial, diskomunikasi, dan kurang menerapkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan kesalehan sosial menunjuk pada perilaku yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, dalam hal ini yang bersifat sosial. Oleh karena itu, dalam Islam, kedua corak kesalehan (individu maupun sosial) adalah suatu keniscayaan dan kewajiban yang harus dimiliki oleh seseorang, khususnya kaum Muslim. Lebih dari itu, kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual dan individualnya saja, tetapi juga dilihat dari output (hasil) sosialnya.

Islam bukanlah agama individual, melainkan sebagai agama rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin), agama yang interaksi sosial. Meminjam bahasa Jurgen Habermas yaitu “komunikasi”. Karena pada dasarnya, manusia diciptakan saling berpasang-pasangan dan bersaudara, hablum min an-naas. Dalam hal ini, keharusan membangun sosial, interaksi sosial pada sesama umat muslim terlebih juga pada non-muslim. Al-Qur’an sudah menjelaskan hal itu dalam surah Al-Hujurat ayat:10;

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya:“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat ayat 10).

Dalam Al-Qur’an, Al-Hujurat ayat: 13, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya:”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat ayat 13).

Karena itu, bulan puasa ini adalah sarana dan momentum tepat untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia “insan kamil” dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa yakni takwa.

Bagaimana cara membentuk kesalehan sosial?

Syahdan, kesalehan sosial dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah “itsar” (mendahulukan orang lain). Itsar adalah kemuliaan bagi jiwa yang membuat seseorang menahan dirinya dari keperluan yang dibutuhkan olehnya, untuk diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Tokoh sufi abad ke-10, Syeikh Abdul Wahab Al-sya’roni mengatakan, bahwa itsar adalah kebiasaan kaum sufi yang dicintai oleh Allah SWT. Karena itu, Allah SWT memuji mereka, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Hasyr 59:9;
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّاۤ اُوْتُوْا وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَـفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya:”Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-Hasyr 59:9).

Sebagian mengatakan bahwa Itsar adalah kemuliaan (karom), saling lapang dada. Karom dalam ini adalah, menginfakkan harta secara mudah untuk urusan yang mulia serta manfaat yang banyak.

Termasuk dalam kategori kesalehan,selain kegiatan di luar ibadah yang berhubungan dengan Tuhan (habl min Allah), juga tentunya kegiatan terkait hubungan dengan sesama manusia (habl min al-Nas), seperti gerakan atau gotong-royong membangun kebersamaan dengan warga, kelompok, serta masyarakat sekitar terkait persoalan lingkungan dan kemanusiaan.

Menarik, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kesalehan dari kata “Shalaha”, tersebar sebanyak 180 kali, 30 persennya dibarengi dengan kata keimanan. Ini menunjukkan bahwa, keimanan adalah fondasi dasar dalam beramal saleh. Keduanya selalu ada dan beriringan. Artinya, kesalehan tak terpisahkan dengan kesempurnaan iman. Begitu juga sebaliknya, kesalehan tak berarti apa-apa tanpa dibarengi dengan keimanan.

Akhirnya dari sini kita tahu bahwa, kesalehan sosial bertujuan untuk mencapai nilai-nilai sosial melalui gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat luas, dan merupakan bagian dalam upaya untuk menghilangkan strata sosial yang timbul dari kepedulian sosial dari dalam diri masing-masing. Jadi, kesalehan yang ideal menurut Al-Qur’an adalah, kesalehan yang memadukan secara sinergitas antara kesalehan ritual individual dan kesalehan sosial, tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi juga memikirkan yang lain.

Salman Akif Faylasuf
Salman Akif Faylasuf Nahdliyin, alumni Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo. Sekarang nyantri di Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Menyukai kajian-kajian keislaman dan filsafat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email