Pada tanggal 7 Juli 2022, pesantren Shiddiqiyyah pernah dicabut izinnya oleh Kementerian Agama sebagai buntut dari kasus kekerasan seksual terhadap para santriwati yang dilakukan Bechi. Ini dilakukan karena pihak pesantren dinilai menghalang-halangi proses penangkapan dan melindungi Bechi sebagai pelaku kekerasan seksual. Namun, beberapa hari kemudian izin dipulihkan kembali, alasannya Bechi sudah ditangkap dan barisan jemaah pesantren yang menghalangi aparat kepolisian ketika hendak menjemput Bechi sudah ditindak tegas. Pesantren dibuka lagi karena ada intruksi dari Jokowi sebagai presiden saat itu. Selanjutnya, beberapa bulan setelah itu, menteri PMK Muhajir effendi memberi pujian tanpa melihat detail pembelajaran di pesantren Shiddiqiyyah tanpa mengevaluasi bagaimana kondisi pesantren sebenarnya. Ia mengatakan bahwa pesantren Shiddiqiyyah adalah pesantren percontohan bagi pesantren yang lain di Indonesia.
Saat ini Bechi memang dipenjara di lapas Medaeng. Dan Kiai Muchtar Muthi, bapak Bechi sekaligus pendiri pesantren Shiddiqiyyah yang memberi dukungan penuh kepada Bechi masih tetap memimpin pesantrennya. Tak pernah ada evaluasi dari Kementrian Agama yang punya otoritas penuh atas terselenggaranya pendidikan pesantren.
Baca juga:
Menjadi Saksi
Saya mengetahui detail proses pembelajaran di pesantren Shiddiqiyyah karena saya pernah menjadi santri di sana sejak 2003 sampai saya mendapat surat resmi dikeluarkan dari pesantren itu pada 1 januari 2018. Dalam surat itu saya dituduh berbuat fitnah, padahal saya sedang mengungkapkan kasus kekerasan seksual yang terjadi di sana. Saya punya banyak pengalaman menjadi korban kekerasan dari otoritas dan jamaah pesantren Shiddiqiyyah. Saya turut menjadi pelapor kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Bechi dan turut menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya pada Agustus 2022.
Saya mengetahui sejak dulu bagaimana pesantren Shiddiqiyyah menjadi lumbung suara bagi para politisi yang ingin punya jabatan strategis di pemerintahan. Saya masih memiliki ingatan jelas tentang pencalonan Jokowi pada 2014. Jokowi berkunjung ke Shiddiqiyyah untuk meminta dukungan Kiai Muchtar, bapak dari Bechi sekaligus pemimpin pesantren, dan para jamaah Shiddiqiyyah. Kemudian tak lama setelah itu, Tempo merilis berita bahwa 5 juta jamaah Shiddiqiyyah siap mendukung Jokowi pada pilpres kala itu.
Selanjutnya pada 2019, saat mencalonkan diri sebagai presiden, Prabowo juga melakukan kunjungan ke pesantren Shiddiqiyyah untuk meminta dukungan. Dan yang masih sangat segar dalam ingatan saya, pada pemilihan gubernur Jawa Timur pada 17 November 2024 ini, Kiai Muchtar dan jama’ah memberikan dukungan kepada Tri Rismaharini, Walikota Surabaya (2010-2020) dan mantan Menteri Sosial pada pemerintahan Jokowi (2020-2024).
Terhitung 2 kali Risma melakukan kunjungan ke Shiddiqiyyah, yakni pada 13 Oktober dan pada acara Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh Shiddiqiyyah 28 Oktober 2024. Selanjutnya, wakil dari Risma, Zahrul Azhar (Gus Hans), juga turut membagikan pertemuannya dengan Kiai Muchtar di Shiddiqiyyah. Gus Hans adalah wakil rektor saya, ia memiliki banyak jejak digital yang turut menyuarakan kasus Bechi. Ia mengetahui cerita saya soal Shiddiqiyyah secara langsung dan sekarang minta dukungan ke Shiddiqiyyah untuk mencari suara, seolah lupa bagaimana suara-suara penderitaan yang pernah saya ceritakan. Tak hanya itu, Warsubi, calon bupati Jombang saat ini, juga mendatangi Kiai Muchtar untuk minta dukungan dalam pencalonannya.
Para politisi ini beranggapan bahwa Shiddiqiyyah adalah pesantren yang menjunjung tinggi cinta tanah air, punya banyak kontribusi sosial yang besar dalam membangunkan rumah fakir miskin, punya kepedulian tinggi kepada yatim piatu. Shiddiqiyyah dianggap punya banyak industri dan membuat acara pameran UMKM untuk mengangkat perekonomian masyarakat. Para politisi dan pemerintah seolah tutup mata dan tidak mau tahu bagaimana kekerasan seksual yang sistemik dan bagaimana problematiknya pesantren Shiddiqiyyah dalam berbagai praktik. Pemerintah seolah tidak mau melihat bagaimana tindak kejahatannya di balik berbagai kebaikan yang ditonjolkan oleh Shiddiqiyyah.
Membuktikan Kebenaran
Di sini saya hendak membagikan berbagai tindak kejahatan yang bisa kami buktikan dan kami menangkan di ruang sidang Pengadilan Negeri Surabaya, sidang banding di Pengadilan Tinggi Jawa Timur, hingga kasasi di Mahkamah Agung. Putusan itu bisa dibaca dan kemudian bisa menjadi landasan yang jelas mengapa pesantren Shiddiqiyyah itu harus dievaluasi.
Selama bertahun-tahun, saya dan kawan-kawan saya diminta untuk patuh kepada guru, menerima tanpa berpikir atas apa yang diajarkan, taklid buta atas banyak hal, dan tidak diperbolehkan untuk menggunakan akal. Hal itu membuat santri tidak bisa berpikir secara mandiri dan logis, sehingga banyak para santri yang menjadi korban kekerasan seksual atas dalih ilmu abal-abal bernama metafakta dan berbagai ajaran klenik lainnya.
Baca juga:
Saya dan kawan-kawan saya diajak diajak membangun Rumah Sehat Tentrem Medical Center (RSTMC) yang menggabungkan pengobatan medis dan nonmedis yang ada di daerah Puri Semanding. Klinik ini masih beroperasi dan tidak pernah dievaluasi, meskipun tempat tersebut telah terbukti menjadi tempat kejadian perkara Bechi melakukan tindak kekerasan seksual, penyekapan, dan berbagai tindak kekerasan lainnya.
Saya dan kawan-kawan saya diajak untuk mabuk bersama, minum lima botol wine yang dibawakan jamaah Shiddiqiyyah dari luar negeri untuk Bechi dan orang-orang yang saat ini berada lingkaran terdekat Kiai Muchtar. Saya mengetahui kejadian itu secara pasti. Saya sempat diajak minum dan saya mendokumentasikan peristiwa itu. Dokumentasi saya tersebut kemudian menjadi bukti valid di pengadilan Negeri Surabaya pada Agustus 2022.
Saya dan kawan-kawan saya mendapatkan banyak kekerasan, intimidasi, doxing, berbagai tuduhan sebagai PKI dan tukang fitnah dari jamaah dan otoritas Shiddiqiyyah. Sampai saat ini kami yang dianggap sebagai musuh Shiddiqiyyah selalu direcoki, usaha perekonomian diganggu. Pihak Shiddiqiyyah terus berusaha memengaruhi para tetangga kami untuk terus memusuhi kami.
Saya dan kawan-kawan saya mengetahui banyak produk klenik yang sampai saat ini diperjualbelikan seperti tongkat metafakta dan kaos yang mengeluarkan oksigen. Bahkan di buku Shiddiqiyyah yang berjudul Nikmat Kelahiran, ada perintah dari Kiai Muchtar untuk mengonsumsi daki dan kotoran hidung untuk menyembuhkan penyakit. Rokok dengan brand Sehat Tentrem yang dijual dari harga belasan ribu hingga belasan juta dipromosikan sebagai media pengobatan yang bisa membuat orang yang mengonsumsinya menjadi pejabat.
Apa yang saya sebut di atas tidak hanya pengalaman personal saya. Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya yang berjudul Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kiai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, menyebutkan bahwa Shiddiqiyyah yang dipimpin oleh Kiai Muchtar memang terkenal dukun sakti. Popularitasnya sebagai dukun inilah yang menarik pengikutnya, terutama dari kalangan orang yang menderita penyakit kronis, pecandu minuman, dan mereka yang dibebani oleh perasaan frustasi akibat kegagalan di bidang perpolitikan dan perdagangan.
Shiddiqiyyah dianggap penting dan dapat menarik ratusan pengikut pada tahun 1977, sebagai hasil dari langkah-langkah Kiai Muchtar mendukung Golkar dalam pemilu 1977. Dukungan Kiai Muchtar kepada Golkar ini dianggap baik oleh pejabat-pejabat pemerintah Jawa Timur yang pada waktu itu sedang membutuhkan dukungan dari kelompok organisasi Islam. Sambutan baik pemerintah ini membuat banyak lulusan madrasah dan universitas diangkat menjadi guru agama negeri setelah masuk menjadi anggota Shiddiqiyyah.
Tidak jauh berbeda, di dalam buku yang berjudul Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat yang ditulis oleh Martin Van Bruinessen, juga disebutkan bahwa Shiddiqiyyah adalah sebuah tarekat yang dianggap sesat, menyimpang, dan dimusuhi oleh Nahdlatul Ulama karena tidak adanya genealogi spiritual yang autentik dan kelonggaran dari para pendiri terhadap kurangnya ketaatan para pengikutnya pada syariat. Hanya saja, karena berafiliasi dengan partai Golkar, hal tersebut melahirkan patronase pemerintah dan adanya peningkatan jama’ah dari kalangan abangan yang mencari perlindungan saat ada tragedi pembunuhan massal 1965.
Baca juga:
Pada Desember 2022, kami didampingi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) berkunjung ke Kantor Kemenag pusat untuk minta pertolongan agar ada evaluasi terhadap pesantren Shiddiqiyyah. Namun, pada waktu itu saya sangat bersedih, Kementerian Agama tidak mau melakukan evaluasi karena mendapat intruksi langsung dari Jokowi untuk tidak cawe-cawe soal pesantren Shiddiqiyyah.
Mengetahui hal tersebut, saya merasa Shiddiqiyyah ini semacam negara di dalam negara. Pihak pemerintah tampak ketakutan dan ekstra hati-hati untuk menyelesaikan masalah kekerasan seksual di sana, padahal sudah sangat jelas ada banyak tindakan di Shiddiqiyyah yang melanggar hak asasi manusia dan bertentangan dengan kitab undang-undang hukum pidana.
Melalui tulisan ini, saya berharap pertemuan politisi dan pesantren Shiddiqiyyah ini tidak hanya menjadi alat tukar suara untuk kemenangan kontestasi politik. Ketika pesantren Shiddiqiyyah hanya menjadi alat tukar suara politisi, terjadi pengabaian terhadap ruang aman bagi para santri. Pemerintah, terutama Kementerian Agama, harus berani melakukan evaluasi mendalam dan mengambil langkah nyata untuk mengatasi praktik-praktik merugikan di pesantren Shiddiqiyyah. Ini perlu dilakukan supaya tidak ada lagi korban kekerasan seksual dan kekerasan dalam bentuk apa pun di pesantren.
Editor: Prihandini N

Beginilah jika urusan lembaga pendidikan terkontaminasi dengan urusan politik dan kekuasaan. Kemudian menjadi kuda tunggangan semerta-merta hanya ingin mendapatkan dukungan sekian juta pemberi suara, yang nyatanya hanya sekian persen dari total suara. Kekebalan apa yang dimiliki Shiddiqiyyah sampai sekelas level tinggi lembaga pemerintah dan keagamaan tunduk pada mereka?