Kita terlalu percaya bahwa kapitalisme menundukkan. Bahwa ia datang dari luar, mencengkeram hidup, dan dengan segala kekuasaannya menelan kita ke dalam logika nilai, kerja, dan produksi. Tapi bagaimana jika yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya: bahwa kitalah yang mendatangi kapital, bukan sebagai korban, tapi sebagai penyerah secara sukarela?
Kita bicara tentang resistensi, tapi di sisi lain kita menunggu momen yang tepat—gaji cukup, waktu senggang, bahkan burnout sebagai alasan. Bukankah itu sendiri sudah bentuk pengorganisasian afek di bawah kapital? Dan lebih jauh, bukankah “kerja”—bahkan sebagai nilai yang kita klaim untuk martabat manusia—adalah penemuan kapitalis paling berbahaya? Apakah mungkin kerja, seperti yang kita pahami hari ini, bukan warisan sejarah perjuangan manusia, melainkan hasil penyusunan afektif dan temporal yang canggih, sebuah pengkondisian panjang yang membuat kita percaya bahwa makna dan nilai hanya dapat ditemukan melalui produksi?
Di sinilah letak pergeseran penting yang ditawarkan oleh Maurizio Lazzarato. Ia tidak menolak kapitalisme dari luar, ia menyusup ke dalamnya, mengacak waktu, mengganggu persepsi, dan memperdalam kesadaran kita tentang bagaimana kapital tidak lagi sekadar menundukkan tubuh, tapi membentuk cara kita merasakan dan berpikir. Ia tidak mengandalkan konsep revolusi yang meledak dari bawah. Ia justru menyarankan sesuatu yang jauh lebih halus dan radikal: bahwa sebelum kapital menyentuh kita, sudah ada kekuatan hidup yang bekerja tanpa nama, tanpa bentuk, tanpa kontrak, dan tanpa relasi produksi. Suatu energi yang belum diformat oleh logika nilai, tetapi sudah aktif: mencipta, menafsir, dan menyusun.
Baca juga:
- Mempertahankan Kepemilikan Tubuh di Bawah Bayang-Bayang Kapitalisme
- Ken Wilber, Herbert Marcuse, Kapitalisme, dan Manusia Empat Dimensi
Itu disebut otonomi. Tapi bukan otonomi dalam pengertian liberal—bukan kehendak bebas atas pilihan konsumsi atau kebebasan memilih pekerjaan. Ini otonomi yang lebih tua dari kapital, dan lebih keras kepala dari dialektika: kekuatan tak terkomando dari afek, ingatan, bahasa, dan waktu. Ia menolak untuk dimobilisasi oleh industri, tapi justru menjadi sumber energi yang tak bisa dipetakan, hanya bisa ditangkap. Dan penangkapan itu selalu gagal sepenuhnya: selalu ada sisa, residu, dan kebocoran.
Namun, masalahnya adalah ini: begitu kita menyebutnya, ia lenyap. Begitu kita coba membingkainya sebagai strategi, ia telah direkrut. Inilah tragedi otonomi hari ini—ia tidak kalah oleh represi, tapi oleh kebutuhan kita untuk memberinya nama, struktur, dan program. Kita ingin otonomi sebagai institusi, padahal ia hanya hidup sebagai intensitas.
Kapital tidak menindas otonomi. Ia membangunnya, memeliharanya, lalu menjualnya kembali kepada kita sebagai “inovasi”, “branding personal”, dan “ekspresi diri”. Maka, pertanyaannya bukan lagi: “bagaimana membebaskan diri dari kapital?” Tapi: bisakah ada bentuk kehidupan yang tidak segera menjadi aset?
Kapital tidak menciptakan, ia mengatur. Ia bukan produsen makna, tapi kurator dari semua yang mungkin dan potensial.
Lazzarato, melalui pembacaan terhadap Bergson dan Tarde, mengajukan satu kemungkinan: bahwa kerja bukanlah asal muasal produktivitas, dan bahwa kerja tidak harus menjadi titik berangkat untuk pembebasan. Ia menggali kembali tubuh dan waktu sebagai medan utama eksploitasi. Tapi tidak seperti Marx yang melihat kapital menelan kerja hidup, Lazzarato melihat bahwa kapital menempel pada sesuatu yang bahkan bukan kerja: ia menempel pada persepsi, pada imajinasi, pada sinyal-sinyal yang belum sempat menjadi tindakan. Bahkan sebelum kita bekerja, sebelum kita sadar bahwa kita sedang bekerja, penangkapan sudah terjadi. Kapital masuk lewat niat, bukan hasil.
Dengan itu, kerja imaterial bukanlah bentuk kerja yang lebih halus, melainkan bentuk penangkapan yang lebih awal. Kita tidak lagi bekerja setelah berpikir, kita bekerja dengan berpikir. Perbedaan antara produksi dan reproduksi, antara konsumsi dan kontribusi, antara kerja dan kehidupan, menguap di udara. Dan yang tersisa bukanlah ruang untuk resistensi, tapi lahan luas untuk pencurian. Tidak ada garis yang jelas antara pelaku dan alat, antara kreator dan media. Kita menyusun, direkam, mencipta, dan dikompilasi.
Baca juga:
Tapi justru di situ pulalah letak kebebasannya. Sebab jika kapital tidak bisa menciptakan energi ini, ia hanya bisa menangkap, maka selalu ada sesuatu yang lebih dulu. Sesuatu yang liar, belum terdokumentasi, belum selesai. Dan ini bukan strategi. Ini bukan ajakan untuk membuat seni partisipatoris atau komunitas alternatif. Ini hanya pengakuan bahwa kapital harus mencuri karena ia tidak bisa melahirkan. Ia hanya tahu cara mengambil, dan apa yang diambil selalu sudah lewat dari yang ia harapkan.
Yang disebut sebagai “otonomi” dalam teks-teks Lazzarato bukanlah kondisi moral atau posisi politis. Ia lebih mirip gumaman samar dari tubuh yang tidak mau mengikuti tempo, dari persepsi yang terlambat, dari afek yang tidak bisa dikapitalisasi secara real-time. Ini bukan tentang hak, bukan tentang kesadaran, bahkan bukan tentang agensi. Ini tentang penundaan. Tentang ketidaksinkronan. Kapital mengejar resonansi segera, feedback instan. Tetapi kehidupan bekerja dengan jeda. Dan dalam jeda itu, ia memelihara kebocoran kecil yang tidak dapat disinkronkan.
Kapital menginginkan efisiensi, kecepatan, resonansi instan. Tapi yang hidup selalu sedikit tertinggal. Dalam keterlambatan itulah, Lazzarato menyusun metafisikanya. Ia tidak sedang menulis tentang dunia yang akan datang, tapi tentang denyut yang selalu satu detik lebih lambat dari logika. Ia tertarik pada yang terlupakan, yang tidak viral, yang tidak diklik. Karena di situlah hidup menyelinap pergi dari layar.
Dan jika kapital bekerja dengan menyerap kemungkinan, maka satu-satunya cara untuk hidup mungkin bukanlah menambah kemungkinan baru, tapi memperlambat agar yang lama tidak sempat diambil. Bukan inovasi, tapi inkonsistensi. Bukan visibilitas, tapi noise. Bukan resistensi, tapi distraksi. Bentuk hidup bukan proyek, tapi deviasi. Bukan koreografi yang disusun, tapi gerakan yang mengacaukan ritme.
Otonomi bukanlah apa yang kita pikirkan, tapi bagaimana kita tidak berpikir sesuai kehendak sistem. Bukan tentang keluar dari sistem, tapi menjadi gangguan konstan di dalamnya. Seperti virus yang tidak bisa dikenali, bukan karena terlalu kuat, tapi karena terlalu lemah, terlalu ambigu, terlalu samar untuk didefinisikan. Ia menempel seperti glitch dalam sinyal, bukan sebagai pemberontakan, tapi sebagai error yang tak bisa diperbaiki.
Kita tidak bisa membebaskan otonomi, karena ia bukan milik kita. Tapi kita bisa mendengarnya, samar-samar, seperti suara tubuh yang sedang mencoba keluar dari bahasa. Tidak menolak, tidak juga melawan, hanya mencoba untuk tidak hadir dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam ketidakhadiran itu, mungkin, ada yang tak bisa dijual. (*)
Editor: Kukuh Basuki
