Sebab Luka Tak Boleh Dilupakan Begitu Saja

Muhammad Asyrofudin

3 min read

Dan Jika dari tulisan itu ada yang tidak cocok bagi dirimu, tolong jangan kau anggap semua yang kutulis itu upayaku untuk mengeksploitasi kamu”.

Penggalan tersebut adalah sebuah jawaban penulis atas protes perempuan yang kisahnya ia tulis di bagian akhir buku ini. Penggalan kata yang disampaikan itu, bermula dari keinginan perempuan yang bukan hanya kisah perihnya saja yang hendak dituliskan, namun juga fakta yang sebenarnya terjadi, mencakup subjek dan objek.

Pasalnya, dalam cerita yang dituliskan pada kisah yang berjudul Sejarah Wanita Malang, penulis mengisahkan perasaan kecamuk dari sudut psikis perempuan yang menjadi korban perkosaan yang–maklumnya—terganggu dan tersiksa.

Memang sulit dipungkiri, bagi perempuan manapun yang kehormatannya direnggut. Peristiwa itu akan menjadi kenangan pahit yang kapanpun akan membayanginya. Dalam protes yang disampaikan perempuan kepada penulis, itu bukan persoalan perasaan dan psikis semata, ia berharap fakta yang sebenarnya terjadi pun harus turut disertakan.

Aku hanya ingin kejelasan tentang peristiwa itu. Aku mementingkan fakta, bukan rasa.” Tutur perempuan itu dengan nada protes.

Sebab, perempuan itu menyadari bahwa dendam yang berkepanjangan atas perasaannya tidak akan bisa membawakan ke arah masa depan yang lebih cerah, melainkan hanya melahirkan dendam kolektif yang tumbuh dari sejarah yang tidak ditulis secara utuh.

Senang dan Sedih dalam Sejarah Nyeri

Inilah Sejarah Nyeri (2020), sebuah kumpulan cerita yang disusun oleh Yuditeha, seorang cerpenis yang seringkali berhasil membuat pembacanya merasa janggal dan kecewa, namun juga terkadang merasa puas dengan isu dan isi yang diangkat dalam ceritanya.

Baca juga:

Dalam buku ini, kita akan dibawa pada cerita-cerita yang tidak hanya mengangkat kebahagiaan semata, yang bukan hanya diceritakan dari sudut pandang orang pertama saja, namun juga oleh objek lain dengan penuh rasa dan keluh kesah, seperti patung taman, toilet gereja, hingga penis.

Bagi saya, cerita yang ditulis dengan gaya demikian—dari berbagai sudut pandang dan semua perasaan, sedih, senang, dan bingung—adalah bentuk cerita yang mengantarkan pembacanya pada perdamaian nyata yang menjadikan ia merasa tidak sendirian dalam menghadapi kenyerian hidup.

Di balik riuhnya kehidupan dan cepat lajunya informasi di era disrupsi ini, membaca cerita dengan pengalaman yang begitu nyeri, dapat menaikkan kepribadian kita sebagai pembaca. Sebab, kepribadian yang dewasa tidak hanya tumbuh seiring tambahnya usia, namun ia lahir dari derita, sengsara, dan rasa nyeri yang ditempa.

Berdamai dari Derita

Sejak awal, buku ini sangat berani dalam mengutarakan rasa nyeri dari sudut pandang tokoh pertamanya, bahkan penulis buku ini tidak sungkan untuk menceritakan sejarah hidupnya yang penuh dengan haru. Pasalnya, pernikahan orang tuanya yang sudah berusia lima belas tahun namun juga belum dikaruniai momongan, namun keduanya tetap menjalani dengan penuh sabar dan rapalan doa yang tidak pernah pupus.

Nampaknya, nasihat “jangan pernah berhenti untuk berdoa, sebab, entah doa mana yang akan terkabul”, telah mereka jalani–yang mungkin mereka pun tidak tahu akan nasihat itu. Dan apa yang akan terjadi? Ya, seusai menjalani kehidupan yang penuh harapan dan doa selama limabelas tahun, pada akhirnya mereka diberikan amanah untuk mengemban bayi laki-laki, namun dengan kepala yang besar bagaikan kendil, sebagai kelainan fisik yang berani untuk diceritakan ini, anak laki-laki itulah yang kelak menulis buku dengan judul Sejarah Nyeri.

Kisah dari Mereka yang Terlupakan

Kenyerian dan perasaan kecamuk dalam buku ini, bukan hanya disandarkan pada manusia belaka, ia menjelma—seperti yang saya sampaikan di atas—sebagai penis yang pada mulanya suci, namun tuanyalah yang menjadikannya nista, hingga akhirnya ia bebas dari kenistaan itu meskipun dengan dipotong paksa.

Begitu juga, yang dirasakan toilet gereja yang merasakan sedih atas persaksiannya atas orang-orang yang hanya berani jujur kepadanya. Sebab, bagaimanapun ia menjadi tempat di mana manusia—dari derajat manapun—tidak pernah memikirkan akan aibnya ketika mencumbu toilet, bahkan sang pastor yang berwibawa sekalipun.

Banyak kejadian aneh yang ia rasakan dalam setiap tahunnya, dari tangisan anak perempuan karena ketidaktanggungjawaban orangtuanya, sampai kelakuan pastor yang mencecerkan spermanya.

Cerita-cerita yang disajikan dalam buku ini, memang bukan suatu hal yang aneh dalam dunia sastra dan fiksi. Justru ini sebagai instrumen yang dapat mengolah perasaan manusia: dari arogan menjadi kelembutan hati, dari dendam ke perdamaian, dan kesadaran akan perasaan mereka yang selama ini dianggap mati oleh manusia.

Buku ini juga, mengajarkan bahwa bukan sekadar hal yang penting saja yang harus ditulis-ceritakan, melainkan apa yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia sekalipun perlu untuk ditulis, diceritakan, dan dimengerti. Sebab bagaimanapun, luka harus diakui, betapapun sakitnya.

Sejarah yang Ingin Dilupakan

Ini menjadi sebuah pelajaran atas negara yang ingin mengambil jalan untuk melupakan sejarah, yang hanya ingin menyajikan masa lalu seolah tanpa bersentuhan dengan kekerasan. Sekalipun ada, ia dinarasikan sebagai sebuah respons bertahan terhadap ancaman ideologi. Hal ini bukan hanya bentuk pengabaian terhadap korban belaka, namun juga memasung peluang untuk merangkai sejarah yang lebih adil dan manusiawi.

Baca juga:

Beberapa tragedi memilukan di negara ini, mungkin tidak bisa dipungkiri akan masih terus diingat. Namun demikian, bagaimana cara kita untuk mengingat akan hal itu?

Jawabannya adalah bukan dengan melihat masa lalu dengan dendam dan penuh amarah, namun melihatnya dengan jernih sebagai peristiwa yang nyata terjadi: yang tidak hanya manyajikan kisah korban, namun juga pelaku. Ini merupakan cara kita dalam memandang masa depan dengan membawa pelajaran masa lalu. Supaya luka itu tidak diwariskan dan menjadi sejarah yang tak terulang. Dari situlah generasi bangsa belajar untuk memanusiakan sesamanya dengan adil. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Muhammad Asyrofudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email