Belajar Strategic Planning Hingga Social Media Management dari Demonstrasi

Taufik Ridho

2 min read

Masih banyak dari kita yang menganggap demonstrasi adalah kegiatan buang-buang waku. Kita juga sering menganggap buruk para demonstran, mereka kerap dicap anarkis. Padahal demonstrasi dijamin dalam undang-undang dan para demonstran dilindungi haknya.

Banyak dari kita yang tidak menghormati tugas-tugas demonstran, padahal menjadi demonstran tidaklah mudah, ada banyak keterampilan yang perlu dikuasai. Ibaratnya kalau seorang demonstran diminta untuk menulis keterampilannya di CV, ia bisa menulis sampai berlembar-lembar halaman. Faktanya, seorang demonstran itu tidak bermodal teriak-teriak saja.

Seni seorang Demonstran

Tugas seorang demonstran itu lebih dari sekadar teriak-teriak. Banyak persiapan yang harus dilalui sebelum turun dalam aksi massa. Ibaratnya seorang demonstran itu seperti mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi. Sebelum menulis, perlu riset terlebih dahulu. Begitupun kerja seorang demonstran yang harus meriset terlebih dahulu isu-isu yang akan disuarakan dalam suatu aksi massa. Jadi keterampilan riset sangat penting dalam menunjang kerja seorang demonstran.

Tahap berikutnya konsolidasi. Konsolidasi ini tempat para demonstran menyatukan berbagai isu yang telah diriset sebelumnya untuk kemudian disatukan dalam aksi massa. Dalam konsolidasi seorang demonstran perlu memiliki keterampilan public speaking hingga critical thinking agar isu yang disampaikan kepada demonstran lain dapat diterima dengan baik.

Baca juga:

Critical thinking berfungsi untuk mengkritisi isu-isu yang sekiranya bertentangan dengan isu utama yang akan disuarakan. Jangan salah, dalam beberapa momen sering ditemui demonstran yang asal ceplos hingga berupaya memecah belah semangat demonstran yang lain (baca; intel). Nah, skills critical thinking ini amat kepakai dalam momen seperti ini.

Teklap, Tempat Para Strategic Planning Unjuk Gigi!

Teklap atau teknis lapangan adalah tahapan berikutnya setelah seorang demonstran melakukan konsolidasi. Teklap adalah tempat di mana para demonstran merancang berbagai strategi untuk turun dalam aksi massa seperti penentuan titik lokasi kumpul, penanganan medis ketika ada yang terluka hingga mobilisasi massa apabila aksi berujung dengan kericuhan.

Keterampilan strategic planning sangat dibutuhkan untuk merancang berbagai strategi yang akan digunakan saat aksi massa berlangsung. Para demonstran yang memiliki skills ini biasanya disebut sebagai koordinator umum atau kordum. Seorang kordum tentu perlu dibantu oleh koordinator lapangan atau korlap yang kerjanya sangat erat kaitannya dengan skills problem solving.

Korlap yang memiliki pemahaman problem solving yang baik akan dengan mudah menyelesaikan masalah apabila strategi yang telah disusun saat teklap tidak berjalan baik. Selain itu, kordum juga perlu dibantu oleh demonstran yang memiliki skills administrasi dan didukung dengan pemahaman tools yang baik seperti excel hingga microsoft word.

Baca juga:

Demonstran yang mengusai skills ini biasanya disebut sebagai notulen. Dalam aksi massa, notulen memiliki peran yang sangat krusial karena perlu mencatat nama-nama demonstran yang turun dalam aksi massa, hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya orang asing (baca; intel) dalam barisan massa aksi yang berpotensi memecah belah massa. Notulen juga berperan dalam mencatat nama-nama demonstran yang terluka dalam mengikuti aksi massa.

Pekerjaan di Balik Layar

Seorang demonstran juga dituntut untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Penguasaan keterampilan seperi desain grafis, pembuatan konten, hingga pengelolaan media sosial harus dimiliki. Keterampilan ini dibutuhkan untuk membantu penyebarluasan informasi kepada masyarakat mengingat saat ini kita berada di era media sosial. Oleh karena itu, dalam suatu aksi massa sudah tentu ada demonstran yang mendapat tugas menjadi tim media.

Tim media umumnya bekerja untuk membuat poster-poster seruan aksi. Terkadang ada juga tim media yang tugasnya membuat konten hasil dari kajian yang telah disusun oleh tim kajian. Dalam membuat konten perlu skills copywriting yang baik agar konten yang dibuat dapat dipahami dengan seksama oleh masyarakat. Demonstran yang ditugasi menjadi tim media cenderung akan bekerja dibalik layar karena pekerjaannya tidak bisa lepas dari duduk didepan laptop untuk mengedit.

Prospek Karier

Banyak orang berasumsi bahwa menjadi demonstran akan menghambat karier di masa mendatang. Orang-orang yang berasumsi seperti ini selalu menilai demonstran sebagai orang yang membuang-buang waktu alih-alih meningkatkan nilai diri. Oleh karena itu, sebagai orang yang pernah menjadi demonstran dan terlibat dalam kerja penuh keterampilan seperti di atas, saya membantah asumsi seperti ini. Faktanya dari menjadi seorang demonstran kita dapat belajar banyak hal, terutama keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia pekerjaan saat ini.

Taufik Ridho

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email