Menyenggamai Buku, Mengutuk Laki-laki

Sidney Alvionita Saputra

4 min read

Kamar saya kecil saja. Ukurannya cuma 3×4 meter. Wujudnya pun buruk rupa. Cat dinding sudah terkelupas di mana-mana. Bila hujan tiba, air akan merembes dari atap. Bahkan bisa sampai banjir ringan. Terkadang kamar saya bau pesing karena kucing-kucing saya suka buang air kecil dan berak sembarangan di sudut-sudut kamar–sekalipun saya selalu membersihkannya cermat-cermat .

Secara keseluruhan, tak ada yang bisa dibanggakan dari kamar saya. Kecuali empat tumpukan buku yang berjajar di salah satu sudut kamar.

Tumpukan itu tersusun dari Dubliners, Madonna dengan Mantel Bulu, Gadis Minimarket, dan sejumlah buku yang selalu saya baca berulang kali. Mereka sudah berdiri di sana sejak dua tahun lalu, tepatnya ketika lemari kayu di ruang tamu tak lagi cukup menampung buku-buku saya.

Baca juga:

Setiap hari Minggu pagi, saya selalu mengelap mereka satu per satu dengan tisu basah. Sebab bila saya keluputan, Ican–kucing saya yang paling nakal–memipisi mereka.

Saya tak pernah kapok menambah tumpukan buku di sudut kamar saya. Hampir saban bulan, saya selalu memboyong 3-4 buku dari toko, membacanya sampai habis, lalu meletakkannya di tumpukan teratas dengan perasaan puas.

Ayah saya sampai ngeri melihat mereka. Dari bulan ke bulan, mereka kian meninggi. “Berapa duit yang kamu habiskan untuk beli buku?” tanya ayah saya suatu kali. Ia masuk ke kamar saya yang bau pesing dengan mengenakan masker. “Harusnya buku mahal-mahal di rawat. Bukan cuma ditumpuk gitu aja.

Saya, yang sedang asyik membaca Korpus Uterus, segera mengusirnya keluar. Setelah dia pergi, saya membanting pintu dan berkata. “Beliin lemari kalau begitu!

Itu hanya ucapan ngawur yang egois. Dalam hati, saya tahu ayah saya tak punya cukup uang untuk disisihkan dan dibelikan lemari buku. Bisa membayar kontrakan bengkel per bulan saja sudah syukur. Masa saya menuntutnya menyisakan 500 ribu rupiah buat sebuah lemari kayu yang kokoh dan tak mudah dimakan rayap?

Pun, jika saya beli sendiri, masih belum mampu. Gaji saya di bawah UMR. Kebanyakan sudah saya habiskan untuk menyicil HP dan membeli keperluan-keperluan primer. Mungkin bulan depan saya akan mencoba tak beli buku, lantas mengalihkan dana belanja buku untuk sebuah lemari.

Kebiasaan saya membaca dan menumpuk buku memang sudah membuat orang tua risau. Terutama ayah saya. Dia begitu ketakutan kalau saya terlalu asyik membaca sampai akhirnya lupa mencari jodoh dan menua sendirian.

Momok itu kian menakuti dia. Apalagi semenjak seorang sepupu saya, Clara, didekati oleh seorang lelaki bernama Damian. Sialnya, saya lah yang mengenalkan mereka berdua. Damian adalah karib saya sejak kecil.

Kamu jadi mak comblang. Tapi, malah kamu sendiri tidak dapat siapa-siapa,” kata ayah saya suatu sore setelah keluarga besar menggosipkan hubungan Clara dan Damian.

Aku sedang tidak mencari siapa-siapa,” balas saya.

Dia menggeleng dan berkata. “Kamu terlalu asyik membaca buku.”

Saya tak mau kalah. “Aku gek ora mikiri lanangan.”

Tentu saja itu dusta. Perempuan berusia 22 tahun ini juga memikirkan laki-laki, tapi sayangnya, ia malah selalu merasa mual dan jijik. Setelah sederet pengalaman seks yang buruk, saya tak lagi melihat laki-laki sebagai makhluk hidup. Satu-satunya bagian tubuh mereka yang berfungsi hanyalah kemaluan. Ia bisa menegang dan dipegang. Sedangkan otak dan omongan mereka sudah serupa angin kentut. Kosong, berbau, tak ada fungsinya selain mencemari lingkungan.

Sebab, berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan dari mereka memang tak lagi bergerak dengan otak maupun perasaan. Melainkan dengan kemaluan.

Sebagai contoh saja, seorang laki-laki berumur 39 tahun pernah mencekoki saya minuman keras. Lantas, begitu saya sudah mabuk berat, dia melakukan seks dengan tubuh saya yang lunglai. Beberapa hari berikutnya, saya mencecar dia. Menanyakan kenapa dia melakukan itu.

Dengan entengnya, ia menjawab lewat WhatsApp. “Karena mabok kali ya. Hahaha.”

Dasar lelaki seribu jahanam!

Pernah pula saya menolak seks dengan pacar saya. Ia malah bertanya. “Kemarin kamu mau, hari ini tidak. Maumu apa sih sebenarnya?

Jika sudah begini, apa salah bila saya menganggap lelaki itu cuma bisa ngaceng, berak, pipis, dan berhubungan seks? Tak ada perbuatan lain yang bisa mereka lakukan selain hal-hal tersebut.

Baca juga:

Mungkin ayah saya ada benarnya. Belakangan, saya tak mau memikirkan laki-laki. Sebagai pembalasan, saya asyik menyenggamai buku-buku. Madonna dengan Mantel Bulu membawa saya pada fantasi paling nikmat: perempuan yang mengendalikan relasi dan laki-laki yang tunduk di bawah kuasanya. Sedangkan Dubliners menjebak saya dalam absurditas dan kelumpuhan dunia sehingga saya tak perlu lagi keluar kamar untuk menjajal realita. Sementara itu, Gadis Minimarket menjadi sekutu saya untuk tetap menjadi tidak normal—seorang perempuan yang menolak didikte oleh ekspektasi keluarga untuk sekadar menikahi lelaki mapan dan beranak pinak.

Hanya saja, terlalu asyik bermasyuk cumbu dengan buku-buku juga membuat saya nelangsa. Membaca karya-karya penulis hebat bikin saya tak percaya diri. Semua yang saya tulis terasa seperti sampah. Berbau busuk dan tak sedap dibaca. Satu kali, saya mencoba menulis secara absurd seperti James Joyce. Hasilnya malah terbaca seperti orang ngablu yang membicarakan perkara cinta.

Ditambah lagi, saya mulai membaca esai-esai Mahfud Ikhwan. Tak seperti saya, Cak Mahfud menulis dengan jujur dan cantik, walau tanpa berusaha keras untuk sok nyastra. Selepas membaca esainya yang bertajuk “Bocah Itu dan Teman-teman Indianya”, saya bergegas memblok semua kata di esai perkenalan yang saya tulis untuk pendaftaran fellowship Mongabay.

Segala kata yang tertulis di situ tampak tak padu dan terlalu memaksa. Berbeda dengan esai-esai Cak Mahfud yang mengalir.

Di samping esai-esai Cak Mahfud, saya juga membaca ulang liputan Titah AW yang judulnya “Underprivileged Gen Z Yogyakarta: Hidup dengan UMR Istimewa, Cicilan, dan Wifi Hotel Gratisan”. Di situ, ia menulis tentang Hayu, seorang Gen Z di Yogyakarta yang harus bekerja penuh waktu demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Titah AW begitu piawai menaik-turunkan emosi pembaca. Ia membawa nada marah, isak tangis, dan kelelahan Hayu dalam setiap dialog yang ditulis.

Ini membuat saya teringat pada liputan saya sendiri. Sebulan lalu, saya menulis tentang eksploitasi pekerja industri kebugaran. Belum tayang dan belum dicek editor sampai sekarang. Bagi saya, tulisan itu sangat datar. Tak ada kelelahan pekerja industri kebugaran yang terbaca. Sekedar data-data hambar dan curahan hati yang datar-datar saja. Entah saya yang memang tak jago mengulik persona seseorang saat wawancara atau tulisan saya saja yang payah.

Pada penghujung hari–setelah berjam-jam berusaha menulis di kedai kopi–, saya cuma bisa kembali ke kamar bau pesing ini. Memandangi tumpukan buku yang sudah menguras dompet saya, mencomot salah satu, membacanya lagi. Lalu sadar bahwa belakangan yang saya hasilkan tak lebih dari deretan sampah. 

Sesekali saya terpikir untuk mengepel tuntas kamar saya. Dilanjutkan dengan membeli lemari untuk menyimpan buku-buku saya. Namun, saya tak punya energi lagi. Saya sudah terlalu lelah menulis sepanjang hari dan menghasilkan sampah-sampah baru.

Mungkin kamar saya memang ditakdirkan untuk tetap bau pesing dan bocor saat hujan. Mungkin saya akan terus menumpuk buku sampai sudut kamar itu runtuh menimpa kepala saya sendiri. Dan mungkin, tulisan-tulisan saya akan tetap terasa seperti sampah yang hambar dan gagal dibandingkan esai-esai jujur milik Cak Mahfud atau narasi hidup yang digali Titah AW. Tapi di tengah mualnya ingatan tentang laki-laki dan sesaknya ekspektasi keluarga yang menuntut saya menjadi “normal”, ketidakpercayaan diri yang dibawa buku-buku dan tulisan orang lain itu justru menjadi satu-satunya kewarasan yang saya miliki.

Sebab dalam setiap halaman yang saya lahap dan setiap draf yang saya hapus dengan penuh benci, saya menemukan sebuah ruang yang tak bisa dimasuki oleh lelaki seribu jahanam manapun. Mereka turut mengingatkan saya ada hal lebih penting dari cinta dan seks: karier menulis saya yang masih tak karuan juntrungnya.

Tumpukan buku itu adalah barikade saya. Ia membuat saya merasa masih punya otak untuk berpikir, bukan sekadar tubuh yang bisa dipergunakan secara lunglai dan cuma-cuma. Biarlah kamar ini tetap buruk rupa dan berbau pesing, asalkan di sudutnya, saya tetap bisa bermasyuk cumbu dengan kata-kata. Satu-satunya hal yang tak akan pernah bertanya, “Maumu apa sih sebenarnya?” setelah ia selesai memuaskan saya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Sidney Alvionita Saputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email