kadang penulis, kadang jurnalis, kadang asam lambung naik. terima kasih

Kehilangan Kecil

Regent Aprianto

4 min read

Kalimat paling menyebalkan yang bisa ditulis seorang penulis dalam sebuah cerita pendek adalah: “Cerita ini berdasarkan kisah nyata.” Menurutku, kalimat itu menyebalkan karena sebagian besar waktu kita—terutama saat dewasa—justru dihabiskan untuk menyusun cara paling baik menyembunyikan kenyataan. Kalau bisa menuliskan sebuah cerita jujur tentang hidupmu, itu akan lebih horor dari urban legend mana pun.

Namun ini bukan cerita horor. Ini hanya cerita tentang catatan tulisanku yang hilang di dalam bioskop. Dan aku bersumpah, ini kisah nyata.

Aku tidak akan menyebut nama bioskopnya, meskipun bisa menyebutkan jam tayang, kursi tempat aku duduk, bahkan iklan yang muncul sebelum film dimulai. Aku juga tidak akan menyebutkan film yang aku tonton. Bukan karena pelit informasi, tapi karena aku tidak ingin mengacaukan fokus cerita ini.

Aku menulis catatan itu di selembar kertas yang kusobek dari buku kecil favoritku sebelum film dimulai. Bukan tentang film, tapi catatan itu tentang sesuatu yang datang tiba-tiba merasuki kepalaku setelah bertengkar lewat pesan singkat dengan seorang perempuan—yang mungkin aku cintai, atau mungkin hanya aku kagumi karena dia punya cara tertawa yang tidak bisa kutiru.

Meski masih mengaguminya, perempuan itu maksudku, tapi aku kesal kalau dia sudah menggerutu. Dan kalau sudah kesal, aku akan diam-diam pergi menonton film di bioskop ini. Mungkin, itulah juga sebabnya minggu depan adalah harapan terakhir bagi pernikahan kami.

O, ya soal catatanku, panjangnya hanya lima baris. Tapi rasanya itu lima baris paling jujur yang pernah kutulis. Semacam pengakuan dari tahun-tahun belakangan, kalimat yang tidak akan kutemukan lagi jika coba ditulis ulang. Perasaanku saat menulisnya terlalu singkat, seperti kilasan komet yang melintas seribu tahun sekali.

Begitu film selesai dan lampu dinyalakan, catatan itu tidak ada di saku jaket milikku. Aku tidak tahu apakah jatuh saat aku mengambil ponsel, atau diam-diam terselip waktu aku mengusap wajah karena adegan yang agak menyentuh. Yang aku tahu, saat itu aku panik seperti anak kecil kehilangan undangan ulang tahun.

Aku menyisir lorong tempat duduk, mengendap di antara kaki kursi, mencari secarik kertas putih kecil dengan tulisan tanganku yang jelek dan terburu-buru. Beberapa orang menatapku seperti aku baru saja kehilangan dompet. Mungkin, aku memang kehilangan sesuatu yang lebih parah dari dompet.

Mencari kertas putih di antara karpet studio rupanya tidak semudah menemukan rasi orion sebelum musim dingin. Aku keluar dari studio, berjalan ke ujung lorong, menyapa petugas berseragam yang berdiri di dekat pintu keluar.

“Maaf, tadi di Studio 4, aku kehilangan catatan kecil. Kertas putih. Ada tulisan tangan. Bisa dicek?”

Dia tampak ragu. Tentu karena ini bukan permintaan yang biasa mereka dengar.

“Saya cek dulu ya, Kak,” katanya sembari meraih handy talky, lalu membisikkan sesuatu. Sekira sepernanakan indomie, akhirnya petugas itu mendapat jawaban dan mengangguk.

“Ada di konter tiket, bisa diambil di sana, Kak.”

Aku mengucapkan terima kasih seperti orang yang baru disembuhkan dari demam.

Jarak dari pintu keluar ke konter tiket tidak begitu jauh, hanya tiga atau empat lompatan kuda. Di sana, aku menemui seorang petugas perempuan yang menyerahkan kertas yang kucari. Rambutnya itu dicepol asal-asalan, matanya lelah tapi jernih, nyaris kebiruan seperti milik Alexandra Daddario. Dengan mata itu, dia menatapku seperti penasaran.

“Di kolong kursi E7,” katanya sambil menyerahkan catatanku.

Aku mengangguk dan tersenyum kecil. “Terima kasih. Penting soalnya.”

Dia membaca tulisanku sekilas, tidak dengan sengaja, tapi cukup untuk mengenali gaya kalimatnya.

“Penulis?” Tanya perempuan itu.

“Kadang-kadang.” Aku mengangkat bahu.

Dia mengangguk sambil tersenyum, seakan telah berhasil memastikan sesuatu.

“Dulu aku juga mau jadi penulis, atau penulis naskah teater, atau sutradara. Tapi malah jaga konter.”

“Tapi dekat dengan film,” kataku.

“Dekat tidak cukup,” katanya, lalu menambahkan, “Aku masih suka memerhatikan penonton yang keluar dari studio. Ekspresi mereka kadang lebih menarik dari filmnya sendiri. Aku pikir, kalau aku jadi penulis, mungkin itu bahan bagus.”

Dia duduk, lalu menepuk kursi plastik di sebelahnya.

“Kalau soal bioskop, mau nulis apa?”

“Soal kasir tiket yang menyelamatkan catatan di kertas aneh, dan tidak pernah tahu sebenarnya sudah menyelamatkan penulisnya.”

“Cie…” katanya dengan nada menggoda seperti teman SMA yang belum bisa move on dari gaya bercanda tahun 2007.

Dia tak langsung tertawa. Ada jeda. Lalu dia membuka cerita, “Kamu tahu, orang-orang jarang betul melihat kami. Petugas konter tiket, maksudku. Padahal kami ini bagian dari bioskop, sama kayak karpet merah berdebu, atau lampu yang kelap-kelip itu.”

Aku diam. Itu bukan kalimat yang biasa keluar dari orang yang hanya sekadar mencetak tiket dan bilang “selamat menonton!” tiga ratus kali sehari.

“Kadang aku iseng tebak keinginan mereka. Ada ibu-ibu yang bawa anaknya nonton film animasi-fantasi padahal mukanya jelas lebih suka film romansa-religi, pasangan LDR yang akhirnya ketemu dan malah berantem di antrean popcorn, atau lelaki yang tiap Jumat malam nonton film festival sendirian, duduk di pojok, dan tidak pulang sebelum membaca habis kreditnya.”

Aku menahan senyum, memiringkan kepala beberapa derajat, mengerutkan dahi, dan bertanya dalam hati: “sepertinya yang terakhir itu kukenal.”

“Pria patah hati?” Pertanyaanku itu dijawabnya dengan gestur mengedikkan bahu.

“Aku rasa dia penulis, atau mungkin senang mencatat. Cara dia menatap layar kayak lagi menghafal semua kalimat yang muncul,” kata perempuan yang belum sempat kutanyakan namanya itu.

“Jadi diam-diam kamu suka ngamatin orang aneh?”

“Ya, kadang. Di sela ngecek stok tiket, balas pesan grup WhatsApp, dan pura-pura tidak dengar orang ngeluh ‘film-film horor sekarang di luar nalar.’”

Aku tertawa, dan dia ikut tertawa. Kali ini sedikit lebih lama, lebih lepas.

Setengah bercanda aku bertanya lagi, “Kalau punya kesempatan, kamu bakal nulis tentang apa, atau siapa?”

Tidak langsung menjawab, dia hanya mendengus pelan.

“Soal seseorang yang suka mengamati hidup orang lain karena takut melihat hidupnya sendiri,” jawabnya.

“Dia mungkin ketemu satu hal yang bikin dia ingin lihat dirinya lagi. Tapi dia nggak tahu cara mulainya.”

Kali ini aku sendiri yang diam cukup lama.

“Itu premis awal yang bagus.”

“Bukan,” katanya sambil menatap lurus ke arah sebuah poster film baru.

“Itu justru akhir. Selebihnya, belum tahu.” Mata jernihnya sedikit berembun.

Ada yang bergerak pelan di tenggorokanku. Mungkin gejala gastritis akibat kebanyakan minum kopi dua jam lalu. Atau mungkin juga rasa bersalah, karena baru sadar lebih sering menulis cerita tokoh-tokoh imajiner daripada menanyakan kabar orang sungguhan.

Kertas tadi aku lipat dan kumasukkan ke dalam dompet, tempat yang sama di mana aku menyimpan lipatan fotocopy kartu keluarga yang sudah mulai lusuh dan kupon diskon restoran cepat saji yang sudah lewat masa berlaku. Entah kenapa, semua hal yang pernah bernilai cocok di situ.

Sebelum keluar, aku menoleh lagi ke arah konter. Perempuan itu masih di sana. Sibuk melayani sepasang kekasih yang berdebat kecil soal film mana yang akan ditonton. Aku melambaikan tangan pelan, dan dia membalas dengan anggukan kecil.

Kalau cerita ini berhasil diterbitkan, mungkin dia tidak tahu bahwa cerita ini berawal dari kehilangan kecil dan pertemuan yang kebetulan. Atau mungkin dia tahu, tapi memilih diam. Seperti semua orang yang pernah kita tulis diam-diam dalam cerita yang tidak pernah mereka baca.

Cerita ini akhirnya kutulis di meja kafe kecil dua blok dari bioskop tempat perempuan itu bekerja, dengan sisa Vietnam Drip dingin dan pemandangan pengunjung yang pura-pura sibuk membuka laptop, tapi lebih sering menatap jendela.

Paragraf pertamanya: “Cara paling ceroboh kehilangan premis cerpen adalah menjatuhkan catatannya di bioskop.” Tapi kalimat selanjutnya belum selesai, atau mungkin memang tidak perlu.

Beberapa hari kemudian, baru aku merampungkan ceritanya. Kalian mungkin tidak perlu tahu, sebab ceritanya bukan tentang film yang aku tonton waktu itu, bukan tentang pertengkaran dengan perempuan yang pernah aku cintai, tapi tentang kehilangan kecil yang menyelamatkanku dari kehilangan yang lebih besar. Dan sayangnya, cerita ini memang berdasarkan kisah nyata.

(Juli-Agustus 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Regent Aprianto
Regent Aprianto kadang penulis, kadang jurnalis, kadang asam lambung naik. terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email