Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Membongkar Kemunafikan Laki-Laki

Kukuh Basuki

5 min read

Agama merupakan hal yang dianggap baik oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Semakin religius orang akan semakin membuat orang lain percaya bahwa dia adalah orang yang baik dan jauh dari kejahatan. Itulah mengapa orang-orang berlomba menjadi manusia religius untuk mendapatkan prestise dan kepercayaan publik. Dengan hidup religius, ia dianggap dekat dengan Tuhan. Kondisi inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang jahat yang bersembunyi di balik topeng agama untuk meraih kekuasaan dan kenikmatan dengan cara-cara yang licik dan menindas.

Kepercayaan buta masyarakat yang begitu polosnya terhadap manusia-manusia religius itu digugat habis-habisan dalam film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa. Melalui tokoh utamanya, Kiran (Aghniny Haque), penonton diajak melihat kehidupan religius dari sisi yang lebih gelap. Sebagai seorang aktivis dakwah yang akhirnya menjadi pelacur, Kiran membongkar perilaku bejat pemuka agama, dosen, pejabat, dan tokoh masyarakat lainnya. Bermodalkan rasa sakit hati dikhianati berkali-kali, Kiran tidak takut menghadapi ancaman, bahkan penganiayaan.

Film produksi MVP Pictures tahun 2023 ini diangkat dari novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhidin M. Dahlan. Novel kontroversial ini awal terbit tahun 2003, di tahun-tahun awal pasca tumbangnya Orde Baru. Pada masa itu, ideologi Islam konservatif sedang meningkat seiring perayaan kebebasan berpikir dan berpendapat buah dari Reformasi. Paham Islam garis keras merasuk ke universitas dan berafiliasi dengan organisasi dakwah kampus. Dari situlah kisah kelam Kiran dimulai.

Hanung Bramantyo menggarap film ini dengan cukup apik dan matang. Selisih waktu dua puluh tahun antara novel dan filmnya tidak membuat cerita di dalamnya ketinggalan zaman. Dengan modifikasi di beberapa alur cerita dan setting tempat, film dengan judul bahasa Inggris Harlot’s Prayer ini terasa sangat dekat dengan kehidupan di masa kini.

Sinopsis

Kiran adalah seorang mahasiswi religius dari sebuah kampus swasta di Indonesia. Ia dikenal sangat aktif, produktif, sekaligus kritis baik di ruang perkuliahan ataupun di diskusi-diskusi non akademik. Ia tergabung di beberapa forum pengajian rutin sekaligus menjadi anggota organisasi dakwah kampus. 

Statusnya sebagai aktivis dakwah kampus mengharuskannya mengikuti tata cara agamis yang ketat dan kaku. Dalam keseharian mengenakan jilbab besar, berperilaku santun, dan menjaga baik pandangan maupun ucapan. Ia tidak banyak bergaul dengan laki-laki dan kehidupan di luar perkuliahannya hanya digunakan di bidang dakwah.

Orangtua Kiran sangat mendukung aktivitas dakwah yang dijalani anaknya. Mereka tak segan mengirimkan uang dari rumah untuk bekal Kiran berdakwah di jalan agama. Namun, hal tersebut malah menjadi beban pikiran Kiran karena sebenarnya kondisi ekonomi orangtuanya sangat lemah. Ayahnya seorang pensiunan, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga. 

Keadaan itu tidak membuat Kiran patah semangat. Ia tetap rajin belajar, berdakwah, dan berkarya. Ia yakin jalan yang diambilnya sudah benar. Ketekunannya dalam belajar dan berdiskusi membuatnya berhasil merumuskan sebuah ide penelitian ilmiah tentang kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi mikro. Cita-citanya adalah mengentaskan permasalahan umat di tengah pemerintahan yang dicap toghut oleh lembaga dakwah yang diikutinya.

Kecemerlangan ide, keberanian, dan kekritisannya dalam setiap perkuliahan menarik perhatian salah satu dosennya, yaitu Pak Tomo (Donny Damara). Hubungan keduanya menjadi lebih dekat dari sekadar dosen-mahasiswa.

Di sisi lain, eksistensi Kiran juga membuat seorang ustaz panutan di pengajiannya tertarik. Pemuka agama tersebut mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Kiran melalui saluran telepon. Ustaz tersebut berjanji akan mencukupi kebutuhan ekonomi Kiran beserta keluarganya. Kondisi Kiran yang serba kekurangan di perantauan membuatnya tertarik dengan tawaran itu, walaupun ia sebenarnya belum siap jika harus memberitahukan ini ke keluarganya. Oleh sebab itu, pernikahan mereka dilangsungkan secara sirri.

Awal konflik terjadi ketika acara akad nikah dilangsungkan. Kiran baru tahu bahwa ustaz tersebut sudah mempunyai dua istri. Hal itu membuat Kiran mempertanyakan secara langsung mengapa tidak ada pemberitahuan dari awal kalau dia dinikahi sebagai istri ketiga. Sikap Kiran tersebut dinilai tidak pantas oleh jamaah yang datang di acara akad nikah tersebut. Bahkan, ustaz tersebut tidak mau mengakui bahwa ia pernah menelepon KIran langsung karena itu dilarang dalam hukum agama yang mereka yakini. Hal itu membuat Kiran marah karena merasa ditipu. Kiran bahkan dianggap memfitnah ustaz dan membuat jamaahnya marah. Kiran lari dan membatalkan akad nikah tersebut. 

Sejak saat itu, Kiran menjadi buronan jamaah tempat ia menimba ilmu dulunya. Hal itu membuat Kiran berpindah-pindah tempat untuk menghindari amuk massa yang merasa ustaznya dipermalukan. 

Pada suatu pengejaran, Kiran ditolong oleh Da’rul (Andri Mashadi), aktivis dakwah kampus laki-laki yang merasa tidak sepakat dengan tindakan jamaah lainnya di pengajian tersebut. Dalam pelariannya bersama Da’rul, Kiran ditelepon ibunya yang marah karena berita pernikahan yang ia gagalkan itu sampai pada mereka. Kiran merasa tidak ada lagi orang yang memercayainya ataupun sekadar mau mendengar kata-katanya.

Di tengah kegalauannya itu, Da’rul masuk dalam kehidupan Kiran. Ia berjanji menemani, mendengarkan, dan melindungi Kiran sampai kapan pun. Namun, janji itu hanya kedok belaka untuk bisa tidur dengan Kiran. Da’rul pada akhirnya melarikan diri dari kehidupan Kiran ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden mahasiswa di kampus. Ia mencoba menghapus kedekatannya dengan Kiran karena itu akan menghambat karier politik praktisnya di kampus. Hal itu membuat hati Kiran hancur karena kesekian kalinya dikhianati oleh laki-laki. Bahkan, ia marah pada Tuhan dan berjanji akan membuka semua topeng manusia-manusia munafik yang berlindung atas nama-Nya. 

Rasa marah dan hancur tersebut dimanifestasikan Kiran dengan menjadi seorang pelacur. Pak Tomo, dosen sekaligus kekasih simpanannya itu, kini menjadi germo yang menjajakan tubuh Kiran ke pejabat dan tokoh politik yang mempunyai reputasi baik dan religius di mata masyarakat.

Dalam perjalanan karir melacurnya, Kiran banyak sekali mendapatkan kekerasan, baik dari pelanggan ataupun dari Pak Tomo sendiri. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Kiran untuk melacur. Selain mendapatkan kecukupan ekonomi, ia ingin membuktikan bahwa reputasi religius yang ditampilkan para pejabat di muka umum itu hanyalah topeng belaka. Di balik jubah kesuciannya, mereka mempunyai perilaku yang bejat dan lebih amoral dari penjahat sekalipun.

Totalitas Akting

Pola penceritaan dalam film ini berjalan maju-mundur. Setting Kiran muda yang masih aktif di lembaga dakwah seketika bisa berubah ke Kiran tua yang sudah menjadi pelacur, begitu juga sebaliknya. Hal itu membuat penonton yang belum membaca novelnya akan agak kebingungan mengikuti bagian awal film berdurasi 117 menit ini. Namun, di pertengahan cerita sampai akhir, alur cerita lebih stabil dan terstruktur. 

Pada setiap babak, penonton disuguhkan suasana yang begitu dinamis. Ketenangan dan ketegangan datang silih berganti membuat penonton semakin penasaran dengan akhir kisah Kiran dan tokoh-tokoh di dalamnya.

Semua pemeran dalam film ini tampil sangat bagus dan saling mengisi. Aghniny Haque cukup berhasil menampilkan pergolakan emosi Kiran di setiap babaknya secara natural. Peralihan dari Kiran muda ke Kiran dewasa terasa begitu halus. Kematangan teknik peran Aghniny Haque berhasil mengajak penonton seolah turut merasakan kepedihan dan penderitaan Kiran dari awal sampai akhir film.

Djenar Maesa Ayu yang memerankan tokoh Ami juga sangat bagus. Ia berhasil menghidupkan suasana kegelisahan kaum-kaum yang tersingkir dari lingkungan sosial. Sebagai sahabat Kiran, Ami mempunyai peran sentral dalam perjalanan alur film. Begitu juga Nugie yang memerankan Alim Suganda, pelanggan Kiran, ia tampil dengan elegan dan sangat berhasil menggambarkan pejabat bermuka dua yang sering kita tonton di layar kaca.

Baca juga:

Refleksi Kebertuhanan 

Butuh keterbukaan pikiran untuk menonton film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa. Kiran yang merasa kecewa karena pengabdiannya kepada Tuhan di jalur dakwah berakhir sia-sia mempertanyakan lagi eksistensi Tuhan. Ia bahkan menantang Tuhan untuk melakukan sejauh mana Ia bisa menghancurkan Kiran. 

Mempertanyakan Tuhan adalah sebuah pergulatan iman yang sangat wajar terjadi pada manusia, tapi tabu dibicarakan di negara religius, termasuk Indonesia. Orang-orang seperti Kiran sering dihakimi, dicap kafir, dan dianggap manusia rusak. Pendapat-pendapatnya akan sulit diterima oleh masyarakat pada umumnya, apalagi jika dikaitkan dengan status Kiran sebagai seorang pelacur.

Sebaliknya, pejabat agamis dan tokoh masyarakat yang menggunakan jasa Kiran relatif lebih aman. Masyarakat tidak akan lekas percaya dengan berita-berita miring tentang mereka. Dengan kekuasaan, uang, dan reputasi religiusnya, mereka bisa memutarbalikkan fakta sesuka hati sehingga nama baiknya tetap dipercaya masyarakat. Cepat atau lambat, skandal seks dan perselingkuhan yang pernah mereka lakukan akan dilupakan. Selanjutnya, mereka akan kembali dielu-elukan dan dikagumi masyarakat.

Cerita dari film yang naskahnya ditulis Hanung Bramantyo bersama Ifan Ismail ini menjadi sangat aktual ketika ditarik ke fakta hari ini. Masih banyak kekerasan seksual yang dilakukan oleh tokoh agama, guru, dosen, dan pejabat publik. Relasi kuasa yang terjadi di tiap-tiap lembaga tempat mereka bekerja membuat kasus yang seharusnya segera masuk dalam ranah hukum sejenak tertahan. Bahkan, tak jarang mereka menggunakan kedok agama untuk melawan proses hukum. Hal itu membuat banyak sekali korban takut untuk bersuara. Mereka sering mendapatkan ancaman, bahkan tindakan kekerasan, ketika ingin memberikan kesaksian jujur. 

Film yang diangkat dari novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini seperti menyuarakan bahwa kisah Kiran ini bukanlah isapan jempol belaka. Masih banyak Kiran-Kiran lainnya yang membutuhkan ruang aman untuk bersuara dan mendapatkan keadilan. Kiran adalah simbol perlawanan perempuan dari belenggu aturan buatan laki-laki yang penuh dengan kemunafikan.

 

Editor: Emma Amelia

Kukuh Basuki
Kukuh Basuki Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email