“Setelah lima bulan operasi militer, Israel telah menghancurkan Gaza. Lebih dari 30.000 warga Palestina telah terbunuh, termasuk lebih dari 13.000 anak-anak. Lebih dari 12.000 orang tewas dan 71.000 orang terluka, banyak di antaranya mengalami mutilasi,” tulis Francesca Albanese, pejabat Kantor Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam makalah bertajuk Anatomy of a Genocide.
Dari pemaparan Albanese yang terbit pada Maret 2024 itu, dia menyimpulkan apa yang dilakukan oleh Israel sudah masuk dalam kategori genosida. Bahkan, menurut perempuan asal Italia tersebut, pembantaian Israel terhadap warga Palestina lebih kejam daripada apa yang dia paparkan dalam makalahnya.
Apa yang terjadi di Gaza hari ini menyita perhatian warga global. Kita semua tahu warga Palestina sedang diusir dari tanahnya. Mereka yang menjadi korban serangan rudal bahkan dibiarkan membusuk di jalanan atau reruntuhan bangunan. Tak cukup sampai di situ, ribuan orang Palestina juga ditahan dan mengalami penganiayaan.
Baca juga:
Sudah dua tahun lebih genosida terhadap warga Palestina dilakukan Israel. Dari kasus pembantaian ini, satu hal yang menjadi pelajaran adalah genosida memiliki pola yang sama: perebutan tanah. Sayangnya, tak sedikit dari kita justru terjebak pada berbagai masalah lain yang meninggalkan akar konflik antara Palestina dan Israel.
Saya teringat tulisan Bagja Hidayat, wakil pemimpin redaksi Tempo yang dengan apik membuka salah satu surat redaksinya tentang akar permasalahan antara Palestina dan Israel yang berbunyi:
“Palestina adalah kisah sederhana tentang kolonialisme dan perampasan, kata Noam Chomsky, lalu dunia membuat dan melihatnya sebagai cerita yang rumit.” Kutipan ini dinukil dari Majalah Tempo edisi 5 Oktober 2025.
Kolonialisme dan perampasan inilah yang kemudian juga saya temukan dalam Rasina. Novel karya Iksaka Banu tersebut memaparkan terjadinya genosida di Kepulauan Banda abad ke-17 silam. Lagi-lagi, motif utama genosida yang terjadi di Banda adalah penguasaan tanah.
Jan Pieterszoon Coen, gubernur jenderal Hindia Belanda kala itu, menjadi dalang utama pembantaian terhadap warga Banda. Bersama kongsi militer dagang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Coen tah hanya ingin menguasai pasar, tapi juga lahan. Bukan cuma sirkulasi, tapi juga tempat produksi. Dengan menguasai lahan, VOC bisa mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Inilah prinsip utama dari kapitalisme.
Logika Kolonial dan Kalahnya Perempuan
Fiksi memang jadi salah satu cara terbaik untuk memahami suatu peristiwa. Melalui fiksi, kita diajak untuk mengimajinasikan peristiwa yang bahkan mustahil menjadi realita.
Dalam Rasina, pembaca diajak menyelami sekaligus merasakan nuansa kehidupan warga Hindia Belanda. Dengan menggunakan dua plot, Iksaka Banu ingin pembaca novelnya sadar kalo peristiwa hari ini selalu terpaut dengan masa lalu. Pembaca diajak menjajaki kehidupan masa awal kongsi dagang militer Belanda berdiri hingga jelang bubar.
Bagi saya, Iksaka terlihat mengajak para pembaca untuk mengetahui logika kolonialisme. Dia pengin kita membayangkan begini: suatu ketika ada tamu yang datang ke rumahmu, lalu tanah di rumahmu dipatok oleh si tamu dan kamu tidak dilibatkan diskusi atas pematokan itu. Tahu-tahu kamu sudah disuruh angkat kaki dari rumah yang sudah kamu tempati sejak lahir. Begitulah ilustrasi sederhana kolonialisme bekerja.
Baca juga:
Secara tak langsung, Iksaka ingin meyakinkan khalayak pembaca bahwa Eropa itu tak selalu mulia. Mereka yang ngaku membawa panji-panji modernisme dan semangat peradaban, tidak melulu berniat baik. Dan, melalui Rasina, kita bisa membaca kolonialisme jadi penyebab utama genosida suatu wilayah.
Sementara itu, Rasina dijadikan judul lantaran salah satu tokoh dalam novel. Ia digambarkan sebagai budak perempuan yang nasib hidupnya sejak lahir tak pernah mencicipi kemerdekaan. Rasina jadi representasi kehidupan budak pascagenosida di Kepulauan Banda.
Tak ada porsi lebih untuk Rasina menggugat. Dia digambarkan sebagai perempuan kalah. Sebuah simbol bagaimana negara kolonial membangun pola kekuasaan patriarkis.
Peran perempuan di dalam novel pun sangat minim. Rasina, yang awalnya saya anggap bakal menjadi tokoh utama, justru tampil hanya pelengkap cerita. Penulis sedari awal memang sengaja menampilkan berbagai tokoh laki-laki.
Terlepas dari hal itu, Iksaka memang cerdik. Dia tentu mafhum watak negara kolonial Hindia Belanda. Dengan corak militeristik, peran perempuan memang benar-benar tak ada di negara macam itu.
Justru, dengan kehadiran Rasina sebagai tokoh sekunder, penulis seperti ingin memberitahu ke pembacanya, begini lho kehidupan para perempuan yang hidup pada masa kolonial: Nomor dua. Kalah.
Sebetulnya ada berbagai karya sastra yang bagus untuk ngomongin watak kolonial Belanda. Selain Rasina, kita sudah lebih dulu tahu Tetralogi Buru yang ditulis Pramoedya Ananta Toer. Dalam karyanya itu, Pram membabar tabiat kolonialisme yang menindas berbagai lapisan masyarakat.
Baik melalui karya Pram atau Rasina ini, kita diperlihatkan kelas sosial dalam masyarakat. Berbagai lapisan inilah kemudian yang menjadi diskursus penting untuk mengenal kehidupan kita hari ini.
Setelah bangsa ini merdeka, nyatanya watak kolonial masih bercokol dan mengalir deras dalam urat nadi manusia Indonesia. Gak percaya?
Dalam cerita Rasina, imaji pembaca akan diperlihatkan bagaimana watak bengis dan korup para aparat, pejabat, hingga pengusaha. Semua ini klop dan terjadi di masa sekarang.
Lewat novel ini saya makin sulit membayangkan bagaimana sebuah dunia yang ideal untuk ditinggali. Kolonialisme yang menyebabkan genosida, perbudakan, hingga berbagai pola kekerasan terstruktur masih terus terjadi. Dunia yang ideal bagi saya adalah sesuatu yang utopis. Persis seperti apa yang diidam-idamkan oleh para kaum anarkis.
Pada akhirnya, lebih mudah membayangkan kiamat datang ketimbang mengubah watak kolonial para penggede negeri ini. (*)
Editor: Kukuh Basuki
