Penanam kesan di Work Ti Farm.

Maaf Marx, Pasukan Revolusioner itu Anarkis bukan Komunis!

Tenu Permana

4 min read

Dalam dunia yang penuh petualangan, kekuatan luar biasa, dan konflik besar antar faksi, One Piece tidak hanya menyajikan kisah tentang persahabatan, pengkhianatan dan pencarian harta karun. Lebih dari itu, dalam karyanya tersebut komikus Eiichiro Oda menawarkan juga tema perjuangan pasukan revolusioner melawan otoritas yang menindas. Pasukan Revolusioner tersebut direpresentasikan pasukan yang dipimpin oleh Monkey D. Dragon, sang ayah dari mind character, Mugiwara No Luffy.

Namun, jika kita mau iseng bertanya, apakah Pasukan Revolusioner dalam setiap aksi dan pemberontakannya menggulingkan kekuasaan, berkiblat pada Karl Marx dengan idea komunisme-nya? Atau kepada apa? Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan Anda. Sebab, strategi dan visi Pasukan Revolusioner, lebih selaras dengan prinsip-prinsip anarkisme dibanding komunisme.

Tidak ada kelas, Tidak ada otoritas

Layaknya in real life, dunia One Piece dihuni oleh berbagai entitas yang saling bertentangan dan berebut takhta eksistensial. Pemerintahan Dunia, salah satu penghasil villian yang memegang status quo, berperan penting dalam mengatur banyak hal. Melalui Gorosei, Celestial Dragons serta Marine, Pemerintah Dunia mengendalikan banyak negara-negara, wilayah dan beserta isinya.

Baca juga:

Dengan otoritas yang sangat kuat, Pemerintahan Dunia menciptakan ketidaksetaraan sosial yang sangat timpang. Di mana segelintir elite menikmati kemewahan, sementara mayoritas rakyat hidup di bawah penindasan.

Di sisi lain, sebagai penentang utama Pemerintahan Dunia, Pasukan Revolusioner berusaha menghancurkan sistem tersebut untuk menciptakan dunia yang lebih bebas dan adil. Namun, apa yang dilakukan Pasukan Revolusioner tidak seperti pendekatan komunis, yang berupaya menggantikan sistem lama dengan negara sosialis sebelum mencapai masyarakat tanpa kelas. Pasukan Revolusioner dalam setiap aksinya, tampaknya ingin langsung membongkar hierarki kekuasaan. Tanpa menggantinya dengan bentuk pemerintahan baru.

Karl Marx dalam Manifesto Komunis (1848), berpendapat bahwa revolusi harus melalui fase kediktatoran proletariat sebelum mencapai masyarakat tanpa kelas. Sebaliknya, anarkisme seperti yang dikemukakan oleh Mikhail Bakunin dalam Statism and Anarchy (1873), menolak transisi melalui negara dan lebih memilih penghancuran langsung terhadap otoritas.

Dalam konteks One Piece, strategi Pasukan Revolusioner lebih dekat dengan anarkisme. Tidak hanya menentang sistem yang ada, kelompok anarkis juga berupaya memberdayakan rakyat untuk mengendalikan hidup mereka sendiri tanpa otoritas terpusat.

Pendekatan Pasukan Revolusioner pun dengan sendirinya memiliki kemiripan dengan berbagai gerakan anarkis dalam sejarah. Salah duanya, seperti Konfederasi Buruh Nasional (CNT-FAI) dalam Revolusi Spanyol (1936), yang menolak otoritas negara dan memilih sistem desentralisasi berbasis kolektif. Dan gerakan Zapatista di Meksiko, yang menunjukkan bagaimana revolusi dapat dilakukan dengan prinsip desentralisasi tanpa membangun negara baru.

Menyabotase inti ketidakadilan

Untuk mewujudkan perubahan, Pasukan Revolusioner tentu tidak sekadar duduk diam di wilayahnya di Kamabakka dan menunggu keajaiban datang. Mereka aktif mengagitasi dan mengorganisir. Dan dalam setiap aksi langsungnya, mereka mengadopsi metode anarkisme dalam upaya menghancurkan negara dan sistem yang ada. Salah satu contohnya adalah pemberontakan yang mereka dukung di berbagai negara yang berada di bawah cengkeraman Pemerintahan Dunia.

Dalam banyak episode, kita menyaksikan bahwa Pasukan Revolusioner kerap kali membantu rakyat untuk melawan kerajaan-kerajaan tiran. Mereka kerap mendukung pemberontakan di berbagai negara, tetapi tanpa berusaha menggantikan sistem yang ada dengan struktur baru. Mereka lebih memilih membantu rakyat bangkit dan memperjuangkan nasib mereka sendiri, alih-alih membangun pemerintahan alternatif. Ini tentu membedakan dengan banyak revolusi komunis yang cenderung menggantikan rezim lama dengan struktur kekuasaan baru yang masih terpusat.

Dalam Arc Dressrosa dan Alabasta, misalnya, kita dapat melihat bagaimana Pasukan Revolusioner memberikan dukungan kepada pemberontakan rakyat di dua negara yang sedang bergejolak tersebut. Pada dua arc ini, dukungan Pasukan Revolusioner hanya sebatas pada memberikan sumber daya serta dukungan moral. Tidak pada mengorganisir dan mengambil alih kepemimpinan, setelah rezim lama tumbang. Tentu ini mencerminkan prinsip anarkisme yang diusung Pierre-Joseph Proudhon dalam What is Property? (1840), yang menekankan desentralisasi dan kebebasan individu dalam menentukan nasib mereka sendiri.

Contoh lainnya, dalam Episode 1060, saat Pasukan Revolusioner melakukan sabotase jalur makanan ke Mariejoa yang menjadi tempat para Celestial Dragons yang korup tinggal. Sabotase ini dilakukan semata bukan hanya bentuk perlawanan simbolis. Tetapi strategi khas dalam gerakan anarkis historis. Seperti pada awal abad ke-20, misalnya, banyak kelompok anarko-sindikalis dari Spanyol dan Prancis, sering melakukan sabotase terhadap infrastruktur ekonomi untuk melemahkan kekuatan elit kapitalis.

Baca juga:

Pada aksi tersebut, itu sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Peter Kropotkin dalam The Conquest of Bread (1892), bahwa penguasaan dan distribusi sumber daya oleh segelintir orang adalah bentuk utama dari ketidakadilan yang harus dihancurkan. Dan barangkali Dragon dan komandan-komandan Pasukan Revolusioner menginsyafi betul, bahwa sabotase adalah kendaraan untuk mewujudkan tujuan dari penghancuran total.

Mendesentralisasi dan memecah menjadi unit-unit terkecil

Anarkisme menekankan pentingnya kekuasaan yang terdesentralisasi. Dalam anarkisme, tidak ada pemimpin besar yang memegang kendali penuh atas semuanya. Pasukan Revolusioner mencerminkan prinsip ini dalam setiap metode perlawanan mereka. Meskipun Dragon adalah pemimpin mereka, banyak anggota pasukan beroperasi independen dan bertindak sesuai dengan prinsip dan tekadnya, tanpa harus selalu patuh pada perintah pusat.

Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah keberadaan Dragon sebagai pemimpin tidak bertentangan dengan semangat anarkisme? Tentu ini selalu menjadi perdebatan yang tak pernah selesai. Tapi jika kita melihat lebih dalam, peran Dragon lebih mirip sebagai simbol perjuangan, alih-alih seorang pemimpin yang mengatur segalanya. Sebab, Pasukan Revolusioner bukanlah organisasi dengan sistem komando yang kaku. Tetapi lebih sebagai jaringan perlawanan, yang membiarkan setiap unitnya bergerak sesuai dengan kebutuhan lokal.

Dalam Episode 880, di Kerajaan Lulusia, kita melihat Belo Betty—salah satu Komandan Pasukan Revolusioner—sebelum memberikan dukungan pada pemberontak, dengan kekuatan buah iblisnya, memprovokasi dengan mengibarkan bendera dan berkata, “Get killed or fight?! Choose your own destiny!.” Ini adalah pernyataan yang sepenuhnya selaras dengan prinsip anarkisme. Di mana rakyat didorong untuk berinisiatif, tanpa ketergantungan pada pemimpin.

Pendekatan ini mengingatkan kita pada peran Nestor Makhno dalam Revolusi Ukraina (1917-1921), yang mengorganisir pasukan petani tanpa membangun negara baru. Tetapi justru menciptakan jaringan otonom berbasis kolektivisme. Emma Goldman juga menegaskan bahwa, “Kebebasan hanya bisa dipertahankan melalui aksi langsung rakyat, bukan melalui sistem pemerintahan baru”.

Merebut kebebasan total sebelum yang terburuk datang

Banyak yang mengira Pasukan Revolusioner ingin mendirikan pemerintahan baru setelah menumbangkan Pemerintahan Dunia. Namun, bukti-bukti sepanjang cerita One Piece berjalan, menunjukkan bahwa mereka lebih berfokus pada penghancuran sistem yang ada tanpa menawarkan alternatif berbasis negara.

Dalam Episode 1068, Pasukan Revolusioner mendukung aksi-aksi yang menentang Celestial Dragons dan sistem pemerintahan yang mereka jalankan. Mereka tidak sekadar ingin menggulingkan penguasa. Tetapi juga membongkar fondasi ketidakadilan yang menopang sistem tersebut.

Seperti yang dikatakan Michel Foucault dalam Discipline and Punish (1975), bahwa kekuasaan tidak hanya terpusat pada pemerintah, tetapi juga meresap ke dalam struktur sosial. Pasukan Revolusioner tampaknya memahami hal ini. Sebab perjuangan mereka bukan hanya menggulingkan penguasa, tetapi juga menghapus sistem penindasan yang menopang kekuasaan tersebut.

Jika Marx pernah berkata, bahwa revolusi adalah cara untuk menggulingkan kapitalisme dan mendirikan masyarakat komunis, maka Pasukan Revolusioner mungkin akan membantah dengan berkata, “Revolusi adalah cara untuk menghilangkan semua itu, bahkan tanpa mengganti sistem dengan yang baru“.

Seperti yang disampaikan oleh Bakunin, “Kebebasan hanya dapat dicapai dengan penghancuran total terhadap negara“. Hal ini sesuai dengan metode Pasukan Revolusioner yang tidak ingin mengambil alih kekuasaan. Melainkan membebaskan rakyat dari segala bentuk otoritas. Jadi, maaf Marx, dalam dunia One Piece, revolusi mungkin tidak selalu berarti negara baru. Kadang-kadang, revolusi itu tentang kebebasan total, bahkan jika itu berarti menghancurkan segala sesuatu yang pernah kita kenal sebagai negara dan tetek bengek alat kuasanya.

Tetapi, pertanyaannya sekarang, apakah strategi seperti ini akan bisa berhasil dalam menumbangkan Pemerintah Dunia—bahkan pada dunia kita? Ataukah setiap revolusi pada akhirnya membutuhkan struktur baru agar tidak jatuh ke dalam ke-chaos-an? (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Tenu Permana
Tenu Permana Penanam kesan di Work Ti Farm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email