Senang membaca, beberapa kali menulis dari meneliti sederhana.

Linda Linda Linda dan Kenangan Manis Masa Remaja

Titania Elsa

6 min read

Dua puluh tahun setelah perilisannya, restorasi Linda Linda Linda kembali membuka ingatan akan masa remaja yang manis dan riuh oleh kegembiraan kecil. Kisah empat remaja perempuan ini disajikan tanpa banyak intrik, tetapi justru di sanalah letak pesonanya: pada kehidupan masa muda yang sederhana dan persahabatan yang tak muluk-muluk.

Jangan biarkan siapa pun memberi tahu kita kapan kita bukan lagi anak-anak, kapan kita sudah tumbuh dewasa. Ketika kita tumbuh dewasa, kita justru tidak ingin berhenti menjadi anak-anak. Di mana diri kita sebenarnya? Apakah diri kita yang sesungguhnya akan tetap ada di sini? Kita harus memiliki sedikit waktu lagi untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Festival SMA Shiba 2004.”

Kalimat pembuka film ini seolah mengajak penonton menyelami proses pencarian jati diri para remaja di masa SMA. Sebuah fase yang direpresentasikan melalui penampilan di festival sekolah.

Film ini berkisah tentang kelompok remaja perempuan yang berkeinginan tampil di festival sekolah. Kei, Nozomi, dan Kyoka harus memutar otak agar impian itu dapat terwujud. Konflik muncul ketika Kei bersitegang dengan Rinko setelah Moe — salah satu anggota band mereka — mengalami cedera tangan. Kei tidak sependapat dengan keputusan Rinko yang ingin mengajak teman laki-lakinya menggantikan Moe. Perselisihan itu menimbulkan keretakan di antara keduanya sekaligus membuat panitia festival kebingungan: apakah band Kei dapat tampil di acara dengan masalah yang tengah dihadapi.

Baca juga:

Meski sempat diliputi perasaan sedih dan ragu, Kei lantas menjawab dengan tegas bahwa mereka akan tetap tampil. Ia memutuskan untuk belajar bermain gitar — posisi yang sebelumnya dimainkan oleh Moe — agar ia dan keduanya temannya bisa mencapai keinginan mereka.

Keputusan itu tentu menyebabkan Kei, Kyoko, dan Nozomi harus mencari jalan keluar baru. Kei akhirnya memutuskan untuk belajar memainkan gitar. Namun, karena merasa tak mampu bermain gitar sambil bernyanyi, mereka memutuskan untuk mencari vokalis baru dengan cara yang tidak biasa: siapa pun yang pertama kali lewat di lorong akan diajak bergabung.

Awalnya, seorang siswa laki-laki melintas menuju mesin minuman, namun Nozomi dan Kyoka segera berbisik, berharap vokalis mereka adalah seorang perempuan. Tak lama kemudian, Rinko muncul dan menghampiri mereka. Ia menanyakan rencana band untuk festival sekolah, bahkan sempat menawarkan agar mereka merencanakan kembali penampilan band meski tanpa Moe. Kei menolak ide itu dan menegaskan bahwa tanpa Moe, band lama mereka tidak akan tampil. Ia justru berniat membentuk band baru bersama dua temannya.

Pada saat yang bersamaan, Son — siswi asal Korea Selatan yang merupakan murid pertukaran pelajar — terlihat sedang menuruni tangga di dekat mereka. Kei spontan berteriak memanggilnya dan mengajaknya menjadi vokalis baru. Karena perbedaan bahasa, Son tidak memahami pertanyaannya dan hanya menjawab “iya” tanpa tahu apa yang sebenarnya ia setujui — sebuah momen yang lucu sekaligus menentukan perjalanan band baru mereka.

Kei, Kyoka, Nozomi, dan Son akhirnya bertekad untuk tampil bersama. Mereka sama-sama belajar dan berlatih lagu Linda Linda milik The Blue Hearts dengan penuh kesungguhan. Lagu beraliran punk rock itu dipilih dengan cara yang sederhana. Bukan karena mereka penggemar musik punk, melainkan karena lagu tersebut secara kebetulan ditemukan dalam sebuah kaset pita di laci klub musik. Menariknya, sampul dan isi kaset itu ternyata berbeda. Menyadari hal tersebut, Nozomi dan Kyoka sempat kebingungan, hingga akhirnya Kyoka mengajak Kei untuk mencoba menyanyikannya. Mereka pun sepakat membawakan Linda Linda karena iramanya terasa riang dan membebaskan.

Meski dibalut suasana ceria dan diiringi lagu pop punk, film ini justru menampilkan ketenangan visual melalui shot-shot statis, ekspresi wajah yang jujur, serta gestur sederhana yang membuat setiap adegan terasa akrab dan mengena. Keceriaan itu tergambar jelas lewat tekad kuat para tokohnya untuk tampil di pentas seni sekolah, dengan berlatih band setiap malam selama tiga hari berturut-turut.

Menariknya, film ini tidak menampilkan kebebasan anomik melainkan sebuah kebebasan ekspresi, yang cenderung menampilkan bagaimana seorang remaja dapat memilih, memutuskan, berkeinginan, dan menjalin pertemanan.

Perempuan, Persahabatan, dan Suara yang Bersatu

Restorasi Linda Linda Linda tidak hanya menghadirkan pengalaman menonton yang lebih jernih dan nyaman di mata, tetapi juga membawa kesan yang terasa semakin relevan, salah satunya adalah potret sisterhood atau pertemanan perempuan.

Pertemanan perempuan dalam film menjadi sorotan utama yang saya tangkap sepanjang film berlangsung. Pertemanan perempuan dalam film Linda Linda Linda terjalin tanpa ada hierarki. Keempat tokoh hadir tidak sebagai pelengkap salah satu tokoh namun hadir untuk membangun cerita bersama dan utuh. Pertemanan yang terjalin seolah menjadi hal utama yang menonjol dan kisah personal tiap tokoh yang membangun itu semua.

Menurut bell hooks, sisterhood tidak semata-mata dimaknai sebagai ruang berkumpul atau bersatunya perempuan. Lebih dari itu, sisterhood menjadi ruang bagi perempuan untuk saling memahami perbedaan dan merumuskan strategi bersama dalam menghadapi rasa takut, prasangka, kekecewaan, hingga persaingan. hooks menegaskan bahwa sisterhood bukan sekadar pertemanan yang bersifat saling mendukung, melainkan bentuk solidaritas yang berakar pada komitmen politik feminisme.

Baca juga:

Politik feminisme, menurutnya, merupakan gerakan yang bertujuan mengakhiri penindasan seksis dalam berbagai bentuk. Tidak hanya berdasarkan jenis kelamin, tetapi juga mencakup dimensi ras dan kelas sosial. Dengan demikian, solidaritas dalam sisterhood tak berhenti sekedar pada kebersamaan atau empati semata, melainkan menjadi kekuatan kolektif untuk melawan dan mengakhiri struktur penindasan tersebut.

Dalam film Linda Linda Linda, bentuk sisterhood yang terjalin sejalan dengan gagasan Bell Hooks. Hubungan antar tokohnya tidak muncul semata karena kesamaan pengalaman atau sekedar terjadi secara alamiah, melainkan tumbuh dari rasa saling percaya, saling memahami, dan kebutuhan untuk bersama menghadapi tantangan yang mereka alami.

Hal ini tergambarkan ketika para tokoh saling menumbuhkan kepercayaan, menghilangkan hasrat kompetitif, dan melengkapi satu sama lain. Tidak ada dominasi dalam pertemanan mereka, setiap tokoh memiliki peran yang setara. Hal ini dapat dilihat dalam adegan saat Son seolah memperkenalkan bandnya di gymnasium pada malam sebelum festival sekolah.

Ketika menunggu teman-temannya bersiap untuk latihan, Son berkeliling hingga tiba di gymnasium, lalu berdiri di atas panggung sambil seolah-olah memperkenalkan masing-masing anggota band. Ia menyebut Kyoka yang kerap lalai berlatih namun tampak manis, Nozomi yang pemalu tetapi selalu memasak untuk mereka meski rasa masakannya sedikit asin, Kei yang pemarah tetapi penuh strategi untuk kemajuan band, dan terakhir dirinya sendiri sebagai vokalis. Melalui cara Son memperkenalkan teman-temannya, terlihat bahwa relasi pertemanan mereka dibangun atas dasar saling melengkapi dan tidak didominasi oleh satu tokoh.

Adegan tersebut tidak muncul begitu saja. Beberapa adegan sebelumnya juga menunjukkan bagaimana pembagian peran, penghapusan dominasi, dan semangat saling melengkapi itu terbentuk. Misalnya, ketika Kyoka terlambat datang latihan hingga ruang klub digunakan oleh band lain, meski dengan diselimuti perasaan kesal, Kei berusaha mencari cara agar mereka tetap bisa berlatih hari itu. Dalam ketegangan antara Kei dan Kyoka, Nozomi dan Son berperan sebagai penengah yang meredam suasana.

Kyoka, meski sering lalai, justru menjadi sosok yang mudah akrab dengan siapapun, termasuk dengan Son, siswi pertukaran yang kesulitan berkomunikasi. Dalam adegan lain, sepulang sekolah sebelum mereka berlatih di ruang klub, Nozomi menjadi wasit ketika teman-temannya berdebat saat berbelanja bahan makanan, ia pula yang berperan dalam memasak untuk kelompok mereka, memperlihatkan peran suportif yang penting dalam menjaga keseimbangan relasi.

Kebersamaan seperti inilah yang relevan dengan gagasan sisterhood menurut Bell Hooks, yang mana menjelaskan bahwa persahabatan antar perempuan yang mampu menghentikan penindasan seksis tidak hanya dibangun atas dasar empati, tetapi juga solidaritas yang aktif dan saling mendukung. Dalam konteks ini, band The Paranmaum mungkin tidak secara eksplisit melawan penindasan seksis, namun hubungan antar anggotanya merepresentasikan bentuk sisterhood yang autentik. Sebuah relasi yang membuat ruang untuk perempuan, tempat untuk saling menghadapi rasa takut, prasangka, kekecewaan, hingga mampu menghilangkan keinginan akan persaingan.

Relasi Antar Perempuan di Hadapan Patriarki

Stereotip bahwa pertemanan perempuan selalu dipenuhi drama dan konflik tampaknya tidak pernah usai dibicarakan hingga hari ini. Di media sosial seperti TikTok, dapat dengan mudah kita temui berbagai kata kunci yang menyudutkan relasi perempuan sebagai relasi yang tidak sehat, misalnya “pertemanan perempuan mengerikan”, “ngeri pertemanan perempuan”, “female friendship is scary”, dan beragam frasa serupa yang viral. Keberadaan kata kunci ini mengindikasikan bahwa pertemanan perempuan masih kerap dipahami sebagai wadah penuh kecemburuan dan persaingan.

Pandangan tersebut sebenarnya tidak hadir begitu saja. Dalam sistem patriarki, kekuasaan, pengakuan, dan sumber daya seperti posisi kepemimpinan, status sosial, maupun perhatian dari laki-laki didistribusikan secara tidak setara dan jauh lebih terbatas bagi perempuan. Kondisi ini melahirkan scarcity mindset, yakni mentalitas kelangkaan yang memaksa perempuan melihat satu sama lain sebagai kompetitor. Mereka seakan harus memperebutkan satu-satunya “kursi” yang tersedia di ruang publik atau satu-satunya “pengakuan” dari laki-laki.

Dampak patriarki ini mudah kita lihat dalam fenomena pick me. Istilah yang merujuk pada perilaku perempuan yang secara aktif bahkan manipulatif mencari validasi laki-laki dengan membangun citra diri sebagai sosok yang “berbeda dari perempuan lain”. Sering kali, strategi tersebut dilakukan dengan merendahkan sifat, minat, atau pilihan hidup sesama perempuan. Ia bisa tampil lebih feminim atau lebih maskulin, tergantung standar apa yang dianggap paling menarik di hadapan laki-laki dalam konteks sosial tertentu.

Fenomena lain yang sering muncul adalah kecenderungan merendahkan sesama perempuan. Patriarki menciptakan standar ketat mengenai bagaimana perempuan “seharusnya” tampil dan berperan seperti feminin, lembut, patuh, menarik secara fisik, serta selalu mengutamakan rumah tangga. Ketika seorang perempuan tidak sesuai dengan standar tersebut, berbagai penghakiman pun dengan mudah dilontarkan. Media sosial seperti Instagram dan TikTok menjadi ruang paling rentan untuk praktik ini; komentar pedas dan kritik tanpa empati dilontarkan atas pakaian, pilihan hidup, hingga tubuh perempuan lain.

Selain itu, narasi usang yang menyatakan bahwa laki-laki lebih mengandalkan logika sementara perempuan hanya digerakkan oleh perasaan turut mempertebal superioritas laki-laki dalam struktur sosial. Perempuan lantas ditempatkan dalam posisi yang lebih rendah karena dianggap tidak memiliki kemampuan bernalar setara. Konstruksi ini berkelindan dengan berbagai faktor di atas, menciptakan iklim pertemanan yang tidak aman bagi perempuan, bukan secara inheren karena sifat perempuan itu sendiri, tetapi karena sistem sosial yang membentuk cara mereka melihat diri dan sesamanya sebagai relasi yang penuh prasangka dan persaingan.

Belajar Solidaritas Antar Perempuan Melalui Linda Linda Linda

Representasi pertemanan perempuan dalam film Linda Linda Linda menunjukkan bagaimana solidaritas antar perempuan dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif dalam kehidupan perempuan. Dukungan tanpa syarat, rasa saling percaya, dan kemampuan untuk menghapus persaingan justru melahirkan ruang aman bagi mereka untuk berkembang.

Tak hanya dalam karya cerita, bentuk sisterhood yang nyata juga hadir di kehidupan sehari-hari. Kita sering menemukan komunitas perempuan, baik secara langsung atau melalui sosial media. Misalnya, kita melihat perempuan saling membela dan memberikan dukungan ketika ada perempuan lain yang menjadi sasaran komentar seksis, slut shaming, atau korban kekerasan seksual.

Sisterhood menurut Bell Hooks juga merupakan bentuk perlawanan sosial. Ketika perempuan saling menguatkan, mereka menggeser narasi patriarki yang menanamkan kecurigaan dan persaingan. Mereka menunjukkan bahwa perempuan tidak harus saling menjatuhkan untuk bertahan, justru dengan saling menopang, perempuan dapat mendobrak batas-batas yang selama ini mengurung mereka. Solidaritas ini membuka pintu bagi lebih banyak perempuan untuk menduduki ruang-ruang yang sebelumnya mustahil, dan untuk bersuara tanpa rasa takut.

Oleh sebab itu, narasi “pertemanan perempuan penuh drama” perlu dilihat sebagai konstruksi dari sistem yang ingin mempertahankan ketimpangan. Realitasnya, perempuan selalu memiliki kemampuan untuk saling merawat dan memperjuangkan satu sama lain. Sisterhood dalam film Linda Linda Linda adalah bukti bahwa ketika perempuan bersatu, mereka tidak hanya mendapatkan kenyamanan dan dukungan emosional, tetapi juga kekuatan kolektif untuk menciptakan perubahan.

Pada akhirnya, pertemanan antar perempuan bukan tentang drama semata, melainkan tentang keberanian untuk memberikan ruang aman dan tumbuh bersama. Di dalam sisterhood, perempuan menemukan kembali kendali atas hidupnya, atas suara dan tubuhnya, serta atas persaudaraan dan solidaritas yng selama ini dibatasi. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Titania Elsa
Titania Elsa Senang membaca, beberapa kali menulis dari meneliti sederhana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email