Darmawati Majid, menulis cerpen dan esai. Saat ini bermukim di Gorontalo.

Pangku: Tentang Keluarga Tak Sempurna

Darmawati Majid

2 min read

Ada satu hal yang jarang disebut orang ketika membahas Film Pangku: konstruksi keluarga ideal. Latar film, dialog yang minim tapi efektif, dan gambar-gambar yang bercerita membantu menegaskan konstruksi itu.

Bagi saya, Pangku merupakan film tentang keluarga tak sempurna tapi terserak di sekeliling. Di sana, ada Sartika Puspita (Claresta Taufan), Bayu (Shakeel Fauzi), Bu Maya (Christine Hakim) dan Pak Jaya (José Rizal Manua), berjumlah empat layaknya keluarga berencana yang didogmakan BKKBN kepada kita: sepasang suami  istri, dua anak cukup. Di film ini juga ada satu keluarga: sepasang suami istri, tapi si istri harus ke Saudi bekerja  sebagai TKW.

Keluarga tak sempurna dalam film Pangku  adalah cerita jujur tentang realitas. Reza Rahadian dan Felix K. Nesi seolah ingin mengingatkan kita, keluarga adalah satu ikatan yang rumit, tak selalu utuh, tapi kita yang dibesarkan dalam budaya patriarki akut telanjur meyakini bahwa anak-anak hanya bisa berbahagia bila memiliki ayah dan ibu. Ibu sebagai orang tua tunggal, seberapa keras pun ia berusaha memantaskan diri, adalah anomali. Oleh karena itu, sistem pendidikan kita tak bisa menerimanya.

Baca juga:

Reza dan Felix pun menggambarkan keluarga tak sempurna itu melalui Bayu, yang senang karena diajak berkeliling oleh Hadi (Fedi Nuril), juga dibelikan truk mainan, dan melalui Sartika yang telah ditampar kenyataan anaknya, Bayu, tak akan bisa sekolah kecuali ia punya ayah yang jelas.

Maka, Hadi yang ingin punya anak dan Sartika yang memerlukan suami sepakat berumah tangga. Kesepakatan itu tak bersyarat. Tak perlu ada adegan perkawinan, cukup foto yang dibawa ke rumah baru, ada adegan Sartika menatap foto pernikahan itu dengan bahagia yang penuh, mungkin berpikir, tak lama lagi Bayu bisa bersekolah.

Keluarga adalah ikatan yang rumit. Maka kita mengerti ketika Sartika menemukan kenyataan pahit bahwa rumah yang ditempatinya tidak sesederhana kelihatannya. Rumah itu menyimpan rahasia yang kelak menghancurkan konsep keluarga dalam kepalanya.

Keluarga adalah ikatan yang rumit. Maka kita bisa memahami saat Bayu  berkata kepada Gilang (Devano Danendra), “cari kresek mah gampang, cari bapak yang susah”.  Dari adegan itu, kita juga diberi tahu, Gilang juga tak punya sosok ayah. Ia besar di pelelangan ikan, pasrah saat keteledorannya harus berbuah bogem mentah di wajah dan  tubuhnya. Dialog Bayu itu juga mempertegas bahwa membesarkan anak adalah tugas ibu, sementara bapak diperbolehkan tak hadir.

Kekuatan film Pangku tidak terletak pada kemampuannya memberi ketegangan. Bagi sebagian orang, alurnya mungkin terkesan lambat. Konflik memang baru muncul di tengah durasi film. Dialognya pun sangat hemat. Tokoh Pak Jaya bahkan tak pernah bicara sama sekali. (Meski demikian, kehadirannya tetap penting, seperti tepukan pelannya di pundak Sartika saat perempuan itu terharu melihat gerobak mie ayam yang telah lama ia cita-citakan akhirnya mewujud.)

Kekuatan film ini ada pada detail: gelegak air tajin, ikan yang digoreng, rambut lepek, kaca buram, cat tembok sekolah yang terkelupas, papan proyek, adegan Sartika buru-buru mematikan rokoknya ketika Bayu terbangun, adegan Sartika yang terpegun saat pihak sekolah menanyakan nama bapak Bayu. Penonton benar-benar dimanjakan detail.

Pangku adalah cerpen yang setiap kata dan tanda bacanya dipertimbangkan dengan cermat. Maka kita saksikan adegan demi adegan, karakter, gestur, tatapan mata, sentuhan kecil, pernak-pernik dapur dan warung Bu Maya, penjual mie ayam, bahkan keheningan dalam film ini secara bersama-sama menjalankan tugasnya menjadi juru kisah. Tak ada yang sia-sia. Tak ada yang berlebihan. Reza dan Felix juga tak tergoda mengeksploitasi kemiskinan dan kerasnya hidup menjadi drama murahan seperti film-film lainnya, yang sama-sama menyorot luka masyarakat terpinggirkan oleh ketidakadilan sistem.

Mencari tokoh antagonis di film ini adalah kesia-siaan. Semua keputusan  dan tindakan tokohnya benar-benar dapat dipahami, termasuk keputusan dan tindakan Hadi dan kegusaran Annisa (Happy Salma). Semua keputusan  dan tindakan itu murni menunjukkan manusia sebagai mahluk yang bertindak semata untuk memenuhi kebutuhannya: mencari tempat tinggal, jaminan finansial, cinta dan rasa diterima, harga diri, dan keinginan mewujudkan mimpi, sebagaimana lima hirarki kebutuhan dasar Maslow yang kita kenal.

Baru kali ini saya menyaksikan konflik film yang tidak memerlukan intonasi tinggi. Hanya dengan gestur dari kejauhan, kita menyaksikan Sartika yang perlahan retak. Dengan kata-kata, ini kan rumahmu juga dari Bu Maya—dengan Sartika yang menangis di pangkuannya tapi tanpa drama berlebih,  kita diingatkan bahkan dalam kesempitan dan kepapaan, hati manusia masih bisa memberi ruang untuk orang lain.

Baca juga:

Saya menyaksikan Pangku dengan kepala yang telah saya kosongkan dari ulasan-ulasan penonton lain, termasuk ulasan Pak Anies Baswedan di akun X-nya. Dengan cara itu, saya bisa memahami kekalutan-kekalutan Sartika, keinginan sederhana Bayu, kerinduan Hadi, dan cinta serta kepasrahan-kepasrahan Bu Maya. Adegan Bayu remaja yang mendorong gerobak mie ayam ibunyalah yang akhirnya mematahkan pertahanan saya. Saya menangis dan semakin tersedu-sedu saat lagu penutup, Ibu, yang dinyanyikan Iwan Fals tiba di reff. Betapa kemiskinan tak pernah memberi keleluasaan memilih.

Hanya satu yang sedikit mengganggu saya, surat Bayu dibacakan menggunakan suara kanak-kanak pada saat kita diberikan adegan Bayu remaja meletakkan surat itu di atas meja sebelum ia keluar berdagang mie ayam. Selebihnya, film ini sungguh layak ditonton. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

Darmawati Majid
Darmawati Majid Darmawati Majid, menulis cerpen dan esai. Saat ini bermukim di Gorontalo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email