Kepada Jalanan dan Puisi Lainnya

Anang S

1 min read

80

pagi itu, aku jumpa
alang-alang,
rerumputan,
daun kering,
lumut liar.

sayang, ini pagi
tak pernah sama,
hari ini, orang melenggang
disangka buta,
goyang-goyang menantang
teriak bak orator,
lompat bak revolusioner.

asap menjilat langit
menelusup,
ke kolong sempit.

bag bug gedubag gedibug!
orang bermain tabuh
bag bug gedubag gedibug!
tak pulang—
dihajar waktu.

lama aku dipasung
digebuk deru derita
aku tak mau mati sia-sia—
tapi engkau,
bangga rela,
diam,
tak lafal bahasa.

Aku: gerumbul semak,
serumpun bambu,
di padang gersang,
delapan puluh kurun.

(Cilacap, 2025)

Mak

belalang menangkringi ular
ular mengunyah tikus
namun ular tiada gigi
elang membawanya terbang

         hidup
                             habis

kelana musafir di sawah-sawah
lima hektar terlampaui kaki
tiada bekal di tempat perasingan
melarat di kampung halaman

badan lecet, bau aspal
kering kurus tak semampai
rambut kusut tercakar-cakar
basah kuyup gemetaran
asap pabrik masuk ke jeroan
mata merah kelelahan

deritamu

(Cilacap, 2025)

Kepada Jalanan

jalanan padat debu
kerikil meloncat-loncat
jeruji ban sudah pasti
pasir mengantre
menahan laju

nyanyian bocah
dengan gitar
alat berperang
bukan buku
bukan majalah anak-anak

lalu aku

aku bukan tong sampah
yang diacak pemulung
dimakan basi-basian
sambil berdoa

aku bukan gerobak
pedagang jalanan
yang dagangannya
dihabisi sendiri
karena kantongnya sobek

aku bukan siapa
aku entah apa
semoga aku manusia

(Cilacap, 2025)

Carut-Marut 

kalau kujadi mahkotamu 
di atas batang otakmu
kan kuinjak kepalamu 
kuterjemahkan seonggok busukmu 
mampukah kau melepasku? 

ketika kujadi pakaianmu 
kuraba setiap daging yang tertutupi 
menelaah tidur dalam setiap risau 
aku perisaimu dari 
malam menjemput pagi 

aku ingin 
menjamah lukamu 

dengan patahan jariku 
luka jadi senangmu 
senang carut-marut 
benci dan bengismu

(Cilacap, 2025)

Perayaan Kegilaan 

: “Kau lelah, ya?” 
 “Kau lebih tahu tentangku.”

jawaban itu terkecap 
dari bibirmu

aku berdiri di tepi jendela
kepalaku menengok-nengok
mencari di mana perih 
pernah menjamahi 
kedamaian dalam dirimu

luka—katamu—
—masih membelenggu. 

helaan nafasku menyapu benang-benang, 
mencuat dari bibir gorden. 

 Ini perayaan kegilaanku
 yang ke sekian kalinya, 
 sesalku lirih, 
 pada diri sendiri. 

di belakangku
kau terduduk di kursi kayu
tanpa dialog
tanpa interaksi
tanpa segala macam kalimat

“Apa kau tak mau sekadar sebentar
 —menangis di sini, 
 untuk merayakan kegilaanku?”

(Cilacap, 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Anang S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email