Kisah-Kisah Pasien Rumah Sakit Jiwa Magelang: Kegilaan Kolonial Dibaca dari Bawah

Ardi Holmes

3 min read

Selama ini sejarah rumah sakit jiwa kolonial di Hindia Belanda ditulis dari sudut pandang dokter dan pejabat Belanda. Artikel ini membaliknya dengan membaca kegilaan kolonial dari bawah, lewat rekam medis pasien nyata di Rumah Sakit Jiwa Magelang pada 1923 sampai 1942. Hasilnya, rumah sakit jiwa ternyata bukan sekadar penjara ras, melainkan ruang rumit tempat keluarga, dukun, dokter, dan pasien saling tarik-menarik.

Karung Pos Berisi Kegilaan 

Pada suatu hari di dekade 1930-an, seorang laki-laki tua bernama Mas Hardjosentono dibawa anaknya ke rumah sakit jiwa di Magelang. Ia seorang priyayi, mantri pensiunan sebuah perusahaan keuangan Eropa, dan ayah dari tujuh anak.

Ketika pembayaran uang pensiunnya tertunda, ia mulai gelisah. Menurut keluarganya, ia menjadi bingung, bicara sendiri, mendengar suara-suara, dan merasa dikejar-kejar. Setelah tujuh hari, anak-anaknya memutuskan membawanya ke Magelang.

Kisah Hardjosentono tersimpan dalam selembar rekam medis. Bertahun-tahun kemudian, ratusan berkas serupa ditemukan teronggok di dalam karung-karung pos kotor, di sebuah bangunan tua di kompleks rumah sakit itu. Dari kertas-kertas rapuh inilah kita bisa menengok sesuatu yang jarang terdengar dalam sejarah, yaitu suara orang-orang yang pernah dicap gila.

Baca juga:

Mengapa suara mereka penting? Karena selama ini sejarah rumah sakit jiwa kolonial hampir selalu ditulis dari sisi dokter dan pejabat Belanda, bukan dari sisi pasien.

Siapa Saja yang Mengisi Rumah Sakit Jiwa Kolonial?

Magelang adalah rumah sakit jiwa keempat dan terakhir yang didirikan Belanda di Hindia, menyusul Buitenzorg (1882), Lawang (1902), dan Sabang (1923). Semuanya berakar pada sebuah laporan tahun 1868. Dua dokter, Bauer dan Smit, ditugaskan meninjau perawatan orang gila di Nusantara dan menyimpulkan bahwa kondisinya buruk serta jauh dari standar ilmiah. Antara Desember 1923 dan Mei 1942, sekitar 7.450 orang dirawat di Magelang.

Sejarawan Sebastiaan Broere mempelajari 249 rekam medis dari rumah sakit ini. Ia menemukan bahwa penghuninya jauh lebih beragam daripada dugaan umum. Ada Dimin, laki-laki berusia 36 tahun, yang tiba di Magelang pada 1 Agustus 1940 setelah enam bulan mendekam di penjara Rembang. Ia mengaku menjadi bingung sesudah dua minggu demam tinggi. Polisi lalu mengikat tangan dan kakinya sebelum memenjarakannya.

Ada pula seorang pencuri sepeda. Dalam rekam medisnya tercatat percakapan dengan psikiaternya. Ketika ditanya apa yang harus dilakukan atas dirinya, ia menjawab bahwa ia pun harus masuk penjara. Ia berjanji tidak akan mencuri sepeda lagi. Penghuni Magelang mencakup gelandangan bingung yang dipungut polisi di pinggir jalan, anggota keluarga yang tak lagi bisa ditangani di rumah, hingga orang yang ditahan karena alasan politik.

Benarkah Rumah Sakit Jiwa Hanya Alat Penjara Ras?

Dari luar, rumah sakit jiwa kolonial mudah dilihat sebagai mesin penindas. Ia memang lahir dari kebutuhan menjaga ketertiban, dan orang Eropa selalu ditempatkan di bangsal terpisah yang lebih istimewa. Namun rekam medis memperlihatkan gambaran yang lebih berlapis.

Broere menyimpulkan bahwa Magelang adalah ruang hibrida, sebuah tempat yang dipakai banyak pihak dengan kepentingan berbeda, mulai dari pemerintah kolonial, komunitas Tionghoa dan pribumi, keluarga pasien, sampai pasien itu sendiri.

Undang-undang gila Hindia Belanda tahun 1897 bahkan mengizinkan keluarga, dan bahkan pasien sendiri, untuk meminta perawatan. Keluarga juga bisa menjemput pulang. Seorang perempuan Tionghoa dari Semarang dibawa pulang suaminya hanya delapan hari setelah masuk, walau dokter menilai kondisinya belum membaik.

Baca juga:

Kebanyakan pasien harus melewati masa percobaan selama satu bulan sebelum benar-benar dilepas. Keluarga wajib bersedia menerima mereka kembali, dan itu tidak selalu mudah.

Di luar tembok rumah sakit, banyak orang dengan gangguan jiwa tetap tinggal di desa. Sebagian dirawat keluarga, sebagian lain dikurung dalam balok kayu atau rumah bambu karena dianggap membahayakan. Bagi sejumlah keluarga, membawa kerabatnya ke Magelang justru menjadi jalan keluar, bukan sebuah hukuman.

Kepercayaan lokal ikut hadir di sela catatan medis. Menurut psikiater C.F. Engelhard, keluarga pasien kadang mengganti nama mereka atas saran dukun, dengan harapan roh jahat penyebab kegilaan tak lagi menemukan jalan pulang.

Meski begitu, sisi represif tidak sepenuhnya hilang. Seorang laki-laki Batak berusia 46 tahun dari Sumatera Utara ditahan bukan karena berbahaya secara medis, melainkan karena gagasannya dianggap mengancam ketertiban kolonial. Ia meyakini Sisingamangaraja XII masih hidup.

Sekilas ia berperilaku cukup normal. Namun psikiaternya menjulukinya godsdienstwaanzinnige atau maniak agama, dan khawatir ia akan mudah menarik pengikut di tengah masyarakat yang dianggap fanatik. Ia ditahan lebih dari dua belas tahun.

Mengapa Suara Pasien Begitu Sulit Didengar?

Ada satu jebakan besar dalam membaca arsip ini. Yang tercatat bukan sepenuhnya suara pasien, melainkan suara yang sudah disaring lebih dulu oleh perawat dan dokter.

Sejarawan Sally Swartz pernah menyebut pasien sebagai lubang hitam di pusat arsip, yaitu sosok yang justru paling sunyi dalam dokumen tentang dirinya sendiri.

Namun sunyi tidak berarti lenyap sama sekali. Dalam wawancara pertama, staf sering menanyakan perasaan pasien dan apakah ia melihat atau mendengar sesuatu yang aneh. Banyak yang menjawab singkat, tidak tahu. Sebagian terlalu kalut untuk menjawab. Namun ada pula yang bercerita lepas tentang pikiran dan pengalamannya. Dari serpihan-serpihan itulah, sedikit demi sedikit, dunia batin para pasien bisa diraba kembali.

Kegilaan yang Dibaca dari Bawah

Selama ini sejarah psikiatri kolonial lebih sering ditulis dari meja direktur Belanda, lengkap dengan teori-teori tentang jiwa pribumi. Membaca dari karung pos berisi rekam medis membalik arah pandang itu.

Dari bawah, rumah sakit jiwa Magelang tampak bukan sebagai penjara ras semata, melainkan sebuah persimpangan tempat negara, keluarga, kepercayaan lokal, dan pasien saling bertemu, kadang bekerja sama, kadang berbenturan.

Mas Hardjosentono dan ribuan orang lain memang pernah dicap gila oleh negara kolonial. Namun berkat kertas-kertas yang nyaris terbuang, mereka tidak sepenuhnya kehilangan suara. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ardi Holmes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email