“You are not controlling the storm, and you are not lost in it. You are the storm.”
— Sam Harris
Jika hidup adalah sebuah serangkaian keputusan, lalu siapa yang memilihkan keputusan itu?
Setiap hari kita merasa ‘memiliki’ yang namanya kehendak bebas: bangun tidur, membuka jendela, menyeruput kopi, mengangkat barbel, mendaki gunung hingga mengetikkan komentar panjang di media sosial. Tapi dari mana datangnya kehendak itu? Apakah benar kita memilih karena kita “ingin” memilih? Atau karena segala sesuatu, bahkan rasa ingin itu sendiri adalah hasil dari rentetan sebab akibat yang sudah berlangsung jauh sebelum kita lahir?
Dalam tulisan ini, akan dibahas ulang satu hal yang paling manusiawi: kehendak bebas. Atau lebih tepatnya, ilusi kehendak bebas.
Dari Mitos Dewa ke Otak
Dalam sejarah awal manusia khususnya Homo Sapiens, konsep kehendak bebas tak banyak dibahas secara eksplisit. Di banyak peradaban kuno, mereka menganggap keputusan hidup sebagai hasil intervensi perintah dari dewa-dewi atau roh leluhur yang membisikan suara yang datang menjelma pada saat sedang rebahan, misalnya. Namun ketika sains berkembang, terutama sejak era Newtonian, kerangka penjelas berpindah dari kehendak langit ke mekanisme materi.
Newton menunjukkan bahwa planet bergerak dengan presisi mekanis, mengikuti hukum yang tetap. Lalu, apakah manusia, yang juga bagian dari alam, juga mengikuti hukum itu?
Baca juga:
Datanglah Einstein, gagasannya banyak menyumbang terhadap revolusi fisika modern, tetapi mempertahankan pandangannya tentang deterministik. Ia tidak percaya pada ‘sesuatu yang acak’. Bahkan tindakan keji seorang kriminal, kata Einstein, dalam kerangka fisika murni, adalah hasil dari kondisi awal dan hukum-hukum yang berlaku. Ini bukan pembelaan moral, tetapi konsistensi logika.
Perkembangan Sains modern telah banyak membongkar tabir tentang bagaimana otak bekerja. Kita tahu bahwa emosi, pikiran, hingga keputusan, semuanya berkorelasi dengan aktivitas neuron di berbagai bagian otak. Ketika kita merasa takut, amigdala aktif. Ketika kita merasa bahagia, neurotransmiter seperti dopamin dilepaskan. Tapi ini baru setengah cerita dari human understanding.
Setengah lainnya yang sering diabaikan adalah pengalaman ‘sadar’ itu sendiri. Rasa takut, bukan sekadar lonjakan kortisol; ia terasa takut. Rasa bahagia, bukan sekadar reaksi kimia; ia terasa bahagia.
Kesadaran adalah “seperti apa rasanya menjadi kamu.” Ia bersifat subjektif, tak bisa diukur dari luar, dan tak bisa diuji seperti kadar gula darah atau asam urat di tubuh Anda. Tapi ia nyata, bahkan lebih nyata dari angka saldo ATM Anda di akhir bulan.
Namun, yang menarik: meski kita bisa merasakan, belum tentu kita bisa ‘memilih’.
Dari Peristiwa Apel Jatuh Hingga Kita Mengetik: Di Mana Pilihan Kita?
Ketika sedang berada di sebuah diskusi panjang, teringat ada seseorang yang bertanya: “Kalau bisa memilih menulis komentar, bukankah itu bukti kita punya free will?”
Jawabannya: Itu sama saja seperti mengatakan, “fakta bahwa apel sudah berada di tanah membuktikan apel itu memiliki kehendak bebas untuk jatuh dan memilih di lokasi yang dia inginkan.”
Kenapa? Karena baik apel yang jatuh maupun seseorang yang menulis sebuah komentar, keduanya mengikuti hukum fisika yang sama yakni hukum fisika yang deterministik, yang mengatur semua perubahan keadaan di alam semesta secara kausal dan tak terhindarkan sebagaimana dijelaskan dalam mekanika klasik Newton. Bedanya, yang satu tampak sederhana, yang satu kompleks. Tapi kompleksitas bukan bukti kebebasan.
Otak manusia memang sangat rumit. Kita punya memori, keinginan, persepsi, pertimbangan. Tapi semua itu tetap bagian dari sistem biologis yang tunduk pada hukum fisika. Jika setiap keadaan mental termasuk keinginan untuk mendaki gunung atau menulis puisi adalah hasil dari keadaan otak, dan otak tunduk pada mekanisme fisik, maka tidak ada ruang bagi “kehendak” yang bebas.
Baca juga:
Tidak ada satu pun manusia yang dapat keluar dari sistem mekanisme otaknya. Sama seperti pisau yang tak bisa memotong dirinya sendiri, kesadaran manusia juga tidak bisa menginterupsi secara sadar mekanisme penyusun dirinya. Kita tidak dapat mengontrol satu neuron pun untuk menolak menembakkan sinyal jika memang rangkaian mekanismenya menuntut itu terjadi.
Otak adalah sistem yang sangat kompleks, yang bekerja dengan prinsip kausalitas. Kesadaran hanyalah produk sampingan dari mekanisme itu, bukan pengendali, melainkan hasil. Seperti piksel di layar monitor yang membentuk simbol, kesadaran adalah simbol itu, bukan prosesor, bukan memori, bahkan bukan perangkat lunaknya.
Karena itu, analogi populer yang menyamakan tubuh dengan komputer dan kesadaran dengan software menjadi tidak akurat. Yang lebih tepat: kesadaran adalah avatar dalam dunia virtual di layar monitor. Algoritma & syntax code pada software mengatur seluruh dunia virtual, termasuk avatar itu sendiri. Artinya, kehendak bebas adalah fitur kecil dalam sistem besar yang tidak kita kuasai.
Salah satu argumen utama yang sering dipakai oleh kaum determinis dapat diringkas dalam bentuk deduksi berikut:
P1: Semua keadaan mental adalah keadaan biologis.
P2: Semua keadaan biologis adalah keadaan fisis.
P3: Semua keadaan fisis tunduk pada hukum fisika yang deterministik.
Kesimpulan: Maka, semua keadaan mental juga mengikuti hukum fisika yang deterministik.
Dengan demikian, apapun yang kita pikirkan, rasakan, atau lakukan adalah produk dari hukum alam dan input lingkungan yang sangat kompleks. Dua anak kembar pun, walau sangat mirip, tetap punya perbedaan keputusan karena input awalnya tidak pernah benar-benar identik dan prinsip ini juga digunakan dalam chaos theory.
“A system can be deterministic yet still be practically unpredictable because of its sensitivity to initial conditions.”
— Stephen Kellert, In the Wake of Chaos (1993)
Dalam konteks ini, masa depan seseorang memang tidak bisa diprediksi secara mutlak, karena sistem otak dan lingkungannya terlalu kompleks untuk dihitung secara presisi. Maka istilah “takdir” kehilangan makna kepastiannya. Tidak ada satu kekuatan pun, termasuk diri sendiri, yang benar-benar mengatur secara sadar jalannya kehidupan. Namun ini tidak berarti hidup kita sepenuhnya acak. Jika segala sesuatu sepenuhnya acak, maka sains pun tidak mungkin ada. Perlu dipahami bahwa ‘ketidakterprediksian’ bukanlah hal yang sama dengan kebetulan. Dunia bisa tidak dapat diprediksi, tapi tetap mengikuti hukum fisika yang deterministik.
Antara Determinisme dan Kebebasan: Apakah Ada Ruang?
Beberapa filsuf dan ilmuwan mencoba mengatasi dikotomi determinisme vs kebebasan melalui pendekatan “kompatibilisme.” Pandangan ini menyatakan bahwa kehendak bebas dan determinisme tidak saling meniadakan. Seorang kompatibilis akan berkata: “asalkan tindakan seseorang berasal dari dalam dirinya sendiri (meskipun deterministik), maka itu bisa disebut bebas.”
Namun bagi banyak ilmuwan, salah satunya seperti Robert Sapolsky, argumen ini hanya permainan semantik saja. Dalam pandangannya, menyebut sesuatu sebagai ‘kehendak bebas’ hanya karena berasal dari dalam sistem biologis kita sendiri tetap tidak mengubah fakta bahwa sistem itu bekerja di bawah hukum fisika yang deterministik. Dalam bukunya Determined: A Science of Life Without Free Will (2023), Sapolsky menyatakan dengan tegas bahwa setiap tindakan manusia dari keputusan sederhana hingga tindakan ekstrem itu dapat dilacak pada sirkuit otak, hormon, pengalaman masa lalu juga tekanan lingkungan. Semua itu bukanlah hasil dari kehendak bebas, melainkan dari proses biologis yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Dengan kata lain, kebebasan sejati dalam pengertian filosofis tidak pernah benar-benar ada.
Salah satu tantangan paling emosional terhadap gagasan bahwa kehendak bebas adalah ilusi muncul dalam bentuk pertanyaan seperti
“Jadi, apakah Osama bin Laden menjadi teroris hanya karena hukum sebab-akibat, dan itu berarti dia tidak bersalah?”
Ini pertanyaan yang sering muncul dan secara intuitif terasa berat. Namun dalam kerangka determinisme, jawabannya memang: Ya, dengan catatan penting. Apa yang dilakukan Osama bukan hasil dari kehendak bebas yang mutlak. Itu hasil paparan dari banyak hal: genetik, trauma masa kecil, budaya, ideologi, pengalaman, lingkungan sosial, hingga struktur otaknya. Semua itu bukan pembenaran moral. Tapi ini penjelasan kausal bahwa tiap tindakan ekstrem punya sebab-sebab kompleks, bukan sekadar karena ‘keinginan jahat’ muncul dari ruang hampa.
Kita tetap membutuhkan sistem hukum. Bukan karena seseorang “memilih” untuk berbuat jahat secara bebas, tapi karena masyarakat butuh perlindungan dari konsekuensi tindakan-tindakan berbahaya. Hukuman menjadi bagian dari sistem umpan balik sosial untuk mencegah, mengatur, dan merestorasi. Dengan kata lain, tanggung jawab bukan berarti kita memiliki kehendak bebas absolut, tapi bahwa sistem sosial memerlukan cara untuk merespons perilaku yang merusak.
Seperti yang dikatakan Sam Harris:
“If I were you, I would have done exactly the same thing. Because I would have been you.”
Kalimat itu bukan relativisme moral, tapi pengakuan bahwa siapa pun bisa menjadi siapa pun jika dibentuk oleh variabel yang sama. Ini menumbuhkan empati dan ketepatan kebijakan bukan pembiaran.
Dalam dinamika kehidupan modern yang kompleks, munculnya ego sebagai harmonisasi dari seluruh sistem tubuh menjadi hal yang sangat adaptif. Komunikasi, budaya, dan beragam komunitas menuntut tingkat kesadaran tinggi. Di titik ini, manusia dengan “fitur” kesadaran berhasil bertahan dalam seleksi alam. Free will, dalam konteks ini, adalah fitur yang muncul dari kebutuhan adaptif. Ia tidak benar secara fisik, tapi sangat berguna secara psikologis. Kita memerlukannya agar tidak mengalami breakdown mental saat menghadapi tekanan eksistensial di dunia modern.
Namun fitur ini juga bisa menjerumuskan. Ketika manusia terlalu terikat pada ilusi kebebasannya, ia bisa gagal beradaptasi. Ketidaksadaran bahwa free will adalah ilusi bisa menimbulkan beban moral palsu, tekanan sosial berlebihan, hingga gangguan psikologis.
Sam Harris lagi dalam bukunya Free Will menegaskan bahwa: “Freedom is not what we think it is. Our sense of autonomy is deeply misleading.”
Tidak ada pusat komando dalam otak. Tidak ada satu titik pun tempat “aku” tinggal dan mengendalikan segalanya. Ketika disadari bahwa tidak ada pengamat di balik pengalaman, yang tersisa hanyalah pengalaman itu sendiri, maka kesadaran menjadi lebih jujur.
Ini bukan spiritualisme kabur. Ini adalah fakta neurologis yang sejalan dengan hasil-hasil pemindaian otak modern, khususnya studi tentang default mode network dan kesadaran metakognitif. Dalam praktik seperti meditasi mendalam, banyak individu melaporkan fenomena di mana ilusi akan adanya “pengamat pusat” dalam diri runtuh. Yang tersisa bukanlah ‘aku’ yang mengamati, melainkan sekadar aliran pengalaman murni tanpa narator—kesadaran tanpa ego. Pengalaman ini kini tidak hanya dianggap mistis, tetapi juga diteliti secara ilmiah dalam ranah neuroscience kontemplatif.
Baca juga:
Kita Bukan Pengendali, Kita Adalah Proses Itu Sendiri
Jika kehendak bebas berarti kebebasan mutlak dari hukum alam, maka ia tidak ada. Jika kehendak bebas adalah sensasi yang terasa nyata dan berguna, maka ia ada—sebagai fitur psikologis yang membantu manusia bertahan hidup.
Manusia adalah hasil dari sistem kompleks yang berjalan sesuai kaidah alam. Tidak ada entitas tetap yang mengatur itu. Kita bukan pengendali, kita adalah pusaran dari peristiwa itu sendiri.
“We are just a way for the cosmos to know itself.”
— Carl Sagan
(*)
Editor: Kukuh Basuki
