Mahasiswa UIN Raden Mas Said (AFI)

Ironi Strobo dan Sirine di Jalan Raya

Adzin Aris Aniq Adani

2 min read

Hari-hari ini, telinga kita rasanya sudah akrab dengan suara khas yang tiba-tiba membelah kebisingan ibu kota: “wuk wuk wuk wuk…”. Ya, bukan lagi sirine ambulans yang mengabarkan ada nyawa yang harus segera diselamatkan. Tapi, sirine yang mengawal kendaraan-kendaraan mewah yang entah sedang membawa siapa. Kita tahu siapa. Mereka yang katanya sibuk luar biasa, yang urusannya tak bisa menunggu, sampai-sampai harus ‘mencuri’ jalan dari masyarakat yang membayar pajak.

Pemandangan ini sudah jadi ‘hiburan gratis’ di jalanan. Saat kita terjebak dalam kemacetan yang menguji kesabaran, tiba-tiba dari belakang muncul rombongan dengan lampu kelap-kelip bak disko berjalan. Pengendara di depan kaget, buru-buru menepi, memberi jalan bagi para “penyelamat” bangsa. Setelah rombongan itu lewat, kita cuma bisa saling pandang dengan pengendara lain, tersenyum kecut, atau kalau lagi bad mood, ngomel-ngomel sendiri di dalam helm. Ironisnya, setelah mereka lewat, kita kembali ke realitas: terjebak macet dan mungkin harus terlambat sampai tujuan.

Baca juga:

Aturan soal penggunaan sirine dan strobo itu sudah jelas. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah mengatur siapa saja yang berhak menggunakannya. Ambulans, pemadam kebakaran, polisi, dan beberapa instansi khusus lainnya. Tapi, di lapangan, aturannya seperti cuma jadi pajangan. Sepertinya ada pasal tambahan yang berbunyi, “Sirine dan strobo boleh digunakan oleh siapa saja, asalkan punya jabatan dan mobil mahal.” Sirine kini bukan lagi penanda urgensi, melainkan lencana keistimewaan. Seolah-olah mereka hidup dalam dimensi waktu yang berbeda, di mana setiap detik begitu berharga, sementara waktu kita, rakyat biasa, bisa disia-siakan begitu saja.

Nah, karena rakyat kita itu kreatif, muncullah gerakan yang bikin kita ketawa campur miris: “stop tot tot wuk wuk!“. Gerakan ini pada dasarnya adalah bentuk perlawanan diam-diam dari masyarakat yang lelah melihat ketidakadilan di jalanan. Mereka enggak lagi kaget atau buru-buru menepi saat mendengar suara itu. Malah, dengan santai mereka pura-pura tidak dengar atau bergerak sangat lambat, sambil sesekali melirik sinis ke arah mobil yang sedang terburu-buru itu.

Gerakan ini bukan tentang menghalangi jalan. Gerakan ini adalah sindiran yang tajam dan lucu. Semacam bilang, “Maaf ya bapak/ibu, macet itu untuk semua. Bukan cuma buat kita-kita yang pakai motor dan mobil butut. Mau nyampe kantor lebih cepat? Ya berangkat lebih pagi dong, kayak kita!” Tentu, sindiran ini cuma bisa dipahami oleh orang-orang yang senasib sepenanggungan. Di balik tawa kecut, ada rasa frustrasi yang mendalam. Mereka tidak punya panggung untuk berunjuk rasa, jadi mereka menjadikan jalanan sebagai panggung mereka, dan kemacetan sebagai medium protes.

Fenomena ini mengingatkan kita pada jurang yang semakin dalam antara “mereka” dan “kita”. Mereka yang punya kekuasaan, seolah punya hak istimewa untuk mengabaikan aturan dan kenyataan yang dihadapi rakyat setiap hari. Mereka mungkin berpikir, “Ah, cuma macet sedikit, lagi pula urusan saya lebih penting.” Padahal, justru dari hal-hal kecil seperti inilah masyarakat menilai etika dan moral pemimpinnya. Kekuasaan seharusnya diukur dari seberapa besar mereka melayani, bukan seberapa banyak hak istimewa yang mereka nikmati. Sirine yang berisik itu justru menjadi pengingat bahwa mereka sedang gagal dalam melayani.

Gerakan “stop tot tot wuk wuk!” ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat sudah cerdas. Mereka tidak lagi pasif dan menerima begitu saja ketidakadilan. Mereka punya cara sendiri untuk menunjukkan ketidaksetujuan, meskipun dengan cara yang ringan dan penuh humor. Ini adalah cerminan dari kegelisahan kolektif, bahwa janji-janji kesetaraan yang digaungkan seolah hanya berlaku di atas kertas. Gerakan ini seolah mengirim pesan, “Kami tidak takut pada sirine dan strobo kalian, karena kami tahu itu hanya suara kosong. Kami sudah punya suara kami sendiri, dan itu lebih kuat.”

Baca juga:

Pada akhirnya, sirine dan strobo bukan lagi simbol urgensi, melainkan simbol arogansi. Dan gerakan “stop tot tot wuk wuk!” bukan lagi sekadar guyonan, tapi sebuah protes sosial yang jujur dan menyentuh. Mungkin sudah saatnya para pejabat itu mematikan sirine mereka, dan mencoba merasakan sedikit saja sensasi macet di jalanan. Siapa tahu, dengan begitu mereka bisa lebih memahami rakyat yang mereka pimpin. Jika kita semua terjebak macet, itu adalah masalah bersama yang harus diselesaikan bersama. Bukan malah ada satu pihak yang merasa punya hak untuk melarikan diri dari masalah.

Mari kita terus menyuarakan “stop tot tot wuk wuk!” bukan hanya untuk hiburan, tapi sebagai pengingat. Pengingat bahwa jalanan adalah milik kita semua, dan tidak ada yang berhak memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Sirine mungkin bisa memecah kemacetan, tapi tidak akan pernah bisa memecah kebersamaan kita. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Adzin Aris Aniq Adani
Adzin Aris Aniq Adani Mahasiswa UIN Raden Mas Said (AFI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email