Geto Suguru selalu terasa seperti tokoh yang “keburu jahat” di mata banyak orang. Padahal, kalau kita menahan diri sebentar, dan menatapnya bukan sebagai musuh, melainkan sebagai gejala sosial, kita akan menemukan sesuatu yang mengganggu: Geto mungkin bukan semata individu yang memilih jalan gelap, melainkan cermin dari sistem yang gagal mengurus keadilan.
Ia lahir dari paradoks yang sering kita alami juga ingin melindungi dunia, tetapi dunia sendiri menyusun aturan main yang membuat sebagian orang terus jadi korban. Dalam semesta Jujutsu Kaisen, kegagalan itu terlihat jelas: manusia non-penyihir hidup relatif tenang, sementara para penyihir menjadi penanggung biaya paling pahit menelan kutukan, trauma, kehilangan, dan kematian yang dinormalisasi.
Beban Berat Minoritas
Dalam teori keadilan John Rawls, terutama lewat Difference Principle, ketimpangan hanya dapat dibenarkan kalau ketimpangan itu justru menguntungkan pihak yang paling tidak beruntung. Artinya, kalau ada kelompok yang harus menanggung beban lebih berat, beban itu wajib berbuah manfaat terbesar bagi mereka bukan bagi kelompok mayoritas yang nyaman. Dunia yang ditinggali Geto justru bergerak sebaliknya: penyihir jumlahnya sedikit, tapi memikul beban keselamatan paling besar, sementara manusia non-penyihir menikmati “hasil keamanan” tanpa turut mengangkut harga moralnya.
Geto melihat ketimpangan ini sebagai ketidakadilan struktural. Ia membaca dunia seperti sistem sosial yang memeras minoritas untuk melindungi mayoritas. Dalam kerangka Rawls, diagnosa Geto tidak sepenuhnya salah: dunia itu memang gagal memenuhi prinsip keadilan. Namun Rawls juga akan mengingatkan: membenahi ketidakadilan harus melalui perubahan institusi yang fair, bukan dengan memusnahkan pihak lain.
Baca juga:
Geto benar pada diagnosisnya, tetapi jatuh fatal pada resepnya. Ia mengganti reformasi institusi menjadi eliminasi manusia, seolah keadilan tercipta jika “sumber masalah” dihilangkan secara biologis. Dalam bahasa moral, Geto melompat dari “ketimpangan tidak adil” menuju “penghapusan nyawa sebagai solusi”.
Ruang Sempit Kebaikan
Kalau Rawls berbicara tentang institusi ideal, Amartya Sen lebih membumi. Ia tidak hanya bertanya “apakah sistem ini adil secara teori”, tetapi “apakah manusia di dalamnya sungguh punya kebebasan nyata untuk hidup layak?”. Pendekatan Kapabilitas menilai keadilan lewat kemampuan riil manusia: apakah seseorang bisa hidup aman, berkembang, punya masa depan, dan menjalani kehidupan bermartabat.
Dengan kacamata ini, para penyihir adalah pihak yang paling kehilangan kapabilitas. Mereka kehilangan rasa aman, kehilangan masa depan normal, kehilangan kesempatan untuk rapuh tanpa dihina, bahkan kehilangan hak untuk berduka secara manusiawi. Mereka dipaksa kuat sejak muda. Geto melihat itu, dan perlahan ia juga mengalaminya: kebaikan bukan lagi pilihan yang realistis, melainkan tuntutan yang menyiksa. Ia tidak “berubah jahat” secara instan. Ia runtuh, karena hidup idealistis di tengah sistem yang brutal itu seperti bernapas di ruang sempit lama-lama sesak, lalu mati.
Sen membantu kita memahami sisi paling tragis dari Geto: ia bukan sekadar penjahat, melainkan korban dari dunia yang mengubah moralitas menjadi beban psikologis. Namun, Sen juga akan menolak cara Geto menambal keruntuhan itu: memperbesar kapabilitas penyihir dengan menghancurkan kapabilitas manusia lain jelas bukan keadilan. Itu hanya memindahkan luka dari satu tubuh ke tubuh lain keadilan palsu yang dibayar dengan ketakutan.
Dari Pembongkaran Sistem ke Penghilangan Manusia
Di sinilah Tommie Shelby menjadi sangat relevan. Gagasan Ghetto Abolitionism pada dasarnya membicarakan pembongkaran struktur yang memproduksi penindasan sistematis “ghetto” bukan sekadar tempat, tapi kondisi sosial yang membatasi hidup manusia. Shelby menegaskan bahwa jika sistem terus mengulang penderitaan, perlawanan bukan hanya boleh, tapi perlu. Namun perlawanan itu harus diarahkan pada struktur, bukan pada kebencian terhadap kelompok tertentu.
Baca juga:
Geto punya semangat abolisionis: ia ingin membongkar dunia yang membuat penyihir terus jadi korban. Namun tragedinya adalah ia salah mengidentifikasi “ghetto” tersebut. Ia mengira penjara itu ada pada manusia non-penyihir, bukan pada sistem dan struktur. Ia memindahkan pertarungan dari ranah institusional menjadi ranah biologis: musuhnya bukan kebijakan, bukan tatanan sosial, tetapi “jenis manusia”. Ini titik paling rawan dari moralitas yang retak: saat rasa sakit sosial diterjemahkan menjadi kebencian eksistensial.
Shelby, dalam semangat pembebasannya, akan memperingatkan: sebuah sistem yang menindas memang harus dihancurkan, tetapi penghancurannya tidak boleh mengulangi logika penindasan. Jika penindasan adalah penghilangan martabat, maka membalasnya dengan penghilangan nyawa bukanlah pembebasan melainkan reproduksi kekerasan dalam bentuk lain.
Mengapa Geto Salah Jalan?
Berbeda dengan logika penghukuman yang dingin, Restorative Justice bertanya dengan cara lain: Kerusakan apa yang terjadi? Siapa yang terluka? Apa yang dibutuhkan agar luka itu pulih? Keadilan restoratif tidak menggampangkan kejahatan, tetapi menolak menjadikan kekerasan sebagai bahasa utama keadilan. Ia menutup rantai kekerasan dengan pemulihan, pengakuan, perbaikan relasi sosial, dan transformasi sistem.
Jika dunia Geto memakai logika restoratif, tragedi seperti Riko Amanai bukan hanya peristiwa menyakitkan yang “diterima sebagai tugas”. Itu akan menjadi momen refleksi kolektif: institusi penyihir harus berubah, pembagian beban harus adil, kesehatan mental harus diakui, dukungan sosial harus nyata. Dengan cara ini, penyihir tidak menjadi alat, dan manusia non-penyihir tidak menjadi kambing hitam.
Geto gagal di titik paling inti: ia menjadikan rasa sakit sebagai lisensi moral. Seolah trauma adalah surat izin untuk membunuh. Padahal keadilan restoratif justru mengajarkan kebalikannya: luka adalah alasan untuk memulihkan, bukan alasan untuk memusnahkan.
Benar, tapi Salah Arah
Jalan Geto Suguru adalah tragedi: ia benar saat menunjuk ketidakadilan, tetapi salah total saat menentukan jalan keluar. Rawls membuat kita sadar ada ketimpangan struktural minoritas memikul penderitaan untuk kenyamanan mayoritas. Sen membuat kita mengerti mengapa Geto runtuh kapabilitas untuk tetap baik dihancurkan oleh dunia yang tak memberi ruang pulih. Shelby memberi pisau analisis yang tajam: perubahan radikal memang mungkin diperlukan, tapi arah kebencian harus ke struktur, bukan ke penghilangan manusia. Melalui keadilan restoratif, kita diajak percaya bahwa melawan ketidakadilan tidak harus berubah menjadi monster.
Geto, bukan hanya antagonis. Ia adalah peringatan moral. Ketika sistem keadilan gagal terlalu lama, ia bukan hanya melahirkan korban tetapi juga melahirkan orang baik yang lelah, lalu berubah menjadi algojo. Mungkin pesan filosofisnya sederhana namun mengerikan: dunia yang tidak memulihkan luka, sedang menyiapkan generasi baru yang percaya bahwa pembunuhan adalah bentuk cinta paling ekstrem.
Keadilan sejati tidak memaksa kita memilih menjadi korban selamanya, atau menjadi monster untuk menang. Keadilan sejati adalah ketika manusia tetap manusia bahkan setelah dihantam realitas yang paling kejam. (*)
Editor: Kukuh Basuki
