Pernah ke Pluto lewat tol Karawang Barat. Kesibukannya melamun depan indomaret.

Buku Biru Ibu dan Puisi Lainnya

Fahrullah _

1 min read

Angin di Cilamaya

Waktu tidak jatuh
dari kalender
ia turun
dari arah angin.

Angin timur
membuat laut tenang
dan perahu percaya diri.
Bandeng bergerak pelan
seperti doa
yang tidak tergesa.

Begitu angin barat datang
kami menyimpan jaring
dan mengingat kembali
beban yang pernah
kami lupakan.

Aku lahir pada hujan
yang tidak ingin pulang.
Ayah mondar-mandir
menghitung sesuatu
yang tidak pernah
selesai dihitung.

Di pematang tambak
aku belajar
bahwa hidup
tidak menunggu siap
untuk dimulai.

Buku Biru Ibu

Di lemari kayu
ada sebuah buku biru
yang lebih sering dibuka
daripada kitab doa.

Ibu selalu melap sampulnya
sebelum menulis nama-nama:
koperasi, bank emok,
dan satu orang
yang selalu datang pagi.

Buku itu tidak pernah bertanya
mengapa ayah batuk,
mengapa aku sekolah jauh,
mengapa ibu tidak tidur.

Ia hanya tahu satu hal:
angka harus rapi
agar hidup terlihat tertib.

Ketika halaman terakhir kosong
ibu menutupnya pelan
seperti menidurkan
masa kecilku.

Mesin, Tambak, dan Tubuh Ibu

Tambak kehilangan air
air kehilangan arah
arah diganti pagar.

Mesin berdengung
siang malam
seperti kota yang lupa
memejamkan mata.

Tubuh ibu
menggantikan jam kerja:
malam direbus
pagi diasinkan
siang dijajakan.

Asam urat
bukan penyakit
tapi kalender
yang menumpuk
di sendi.

Di dapur kecil
kompor menyala
lebih lama
daripada listrik
untuk kami.

Anak Pesisir Berbicara

Aku anak pesisir Karawang Utara!
Aku lahir dari hujan
dan dibesarkan oleh bau asin!

Ayahku buruh
yang meminjam laut
dan mengembalikannya
dalam bentuk batuk!

Ibuku bekerja tanpa jam
tanpa seragam
tanpa cuti
tanpa gelar!

Kalian menyebut ini kemajuan!
Kami menyebutnya
jarak yang makin jauh
antara perut dan harapan!

Aku belajar di sekolah
agar tidak menjadi
angka di buku biru berikutnya!

Aku ingin hidup
tanpa mewarisi
beban yang tidak kupilih!

Yang Tersisa Setelah Angin

Angin barat tetap datang.
Mesin tetap berdengung.
Laut tetap berubah.

Aku bekerja di kota
menghapus satu per satu
nama yang dulu
membesarkanku
dalam diam.

Ibu kini tidur lebih lama.
Kompor tidak selalu menyala.
Buku biru tinggal benda.

Di tepi tambak
kami tidak menjadi kaya.

Kami hanya berhenti
mewariskan
beban.

Dan bagi kami
itulah bentuk
kekayaan
yang paling mungkin.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fahrullah _
Fahrullah _ Pernah ke Pluto lewat tol Karawang Barat. Kesibukannya melamun depan indomaret.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email