Dosen muda di kota mendoan yang suka minum kopi, tapi bukan ahli kopi. Pernah tinggal di Surabaya sebelum ke Purwokerto.

Gestur Mengetuk Meja Prabowo: Heroik atau Sekadar Emosional?

Kholifatus Saadah

2 min read

Pemberitaan mengenai pidato Presiden Prabowo pada saat Sidang Majelis Umum PBB pada 23 September lalu dirasa cukup heboh. Banyak konten di sosial media seperti X, Instagram maupun Tiktok yang mendramatisasi urutan pidato Indonesia dan pujian Donald Trump terhadap gaya pidato dari Prabowo sendiri.

Dalam kajian Diplomasi, ucapan maupun gestur pemimpin negara terhadap pemimpin negara lain, terlebih setelah bertemu di forum internasional, memiliki kecenderungan sebagai sebuah aksi yang merefleksikan sesuatu. Namun, apakah pujian Donald Trump memiliki maksud kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Indonesia?

Pujian Donald Trump sebagai Presiden AS sekarang kepada Prabowo terdengar sebagai sesuatu yang sangat normatif. Hal ini disebabkan karena pujian tersebut hanya membicarakan mengenai gaya pidato yang bagus, berapa-api dan dianggap bisa menggugah semangat peserta sidang yang lain. Presiden Trump seakan tidak menunjukkan pujian yang berkaitan dengan isi dari pidato Presiden Prabowo, yang juga menimbulkan banyak pertanyaan besar di benak warganet sejak kemarin.

Presiden Trump juga memuji mengenai Presiden Prabowo yang mengetukkan tangan di meja selama pidato. Justru ini yang membuat keanehan. Dalam dunia diplomasi, seringkali disebutkan bahwa gerakan berlebihan dalam berbicara di forum internasional justru akan mengaburkan tujuan awal. Bahkan, gerakan yang berlebihan dan berkaitan dengan fisik seperti memukul meja bisa digambarkan sebagai sebuah tindakan yang agresif. Seorang Presiden, berbicara di depan Majelis Umum PBB (setelah 10 tahun terakhir presiden Indonesia selalu mendelegasikan hal ini), kemudian melakukan gerakan teatrikal tentu menjadi sorotan yang mengarah ke sesuatu yang kurang baik.

Baca juga:

Jika menilik sejarah, gerakan teatrikal seperti ini juga pernah dilakukan oleh Nikita Khrushchev dari Uni Soviet. Pada saat Sidang Majelis Umum PBB tahun 1960, Khrushchev memukulkan sepatunya di podium pada saat menyampaikan pidatonya. Pada masa itu, banyak yang memberikan pandangan bahwa aksi yang dilakukan oleh Khruschev adalah aksi yang menggambarkan bahwa Uni Soviet menggunakan kekuatan yang agresif. Bahkan banyak yang menuduh dia tidak rasional.

Atau bergeser pada saat Presiden Venezuela, Hugo Chavez mengatakan “Yesterday the devil came here…” sembari melakukan gestur berdoa secara Katholik. Hal ini ditujukan kepada Presiden George W. Bush yang sudah menyampaikan pidatonya pada Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 2006. Teatrikal yang dilakukan oleh Presiden Chavez ini juga cukup menjadi sorotan, namun secara domestik Venezuela banyak yang memberikan dukungan karena narasi anti-AS yang cukup tinggi di dalam negeri. Bahkan, gestur teatrikal Presiden Chavez ini dianggap sebagai simbol untuk memberitahukan pada dunia bahwa Venezuela menang melawan kapitalisasi Amerika Serikat.

Lalu, bagaimana dengan Prabowo? Jika menilik respons masyarakat melalui sosial media, berada pada dua kubu yang berseberangan; ada yang mengatakan ikut bangga, ada yang juga merasa bahwa tindakan Prabowo ini tidak sesuai dengan kaidah interaksi dalam media internasional. Indonesia cukup dikenal dengan cara diplomasinya yang santun dan penuh wibawa, tidak keras dan agresif.

Ditambah lagi, Presiden Trump pada gilirannya berbicara juga dengan nada cukup bangga menyebutkan mengenai pengeboman fasilitas nuklir di Iran. Apakah kemudian kita juga harus berbangga dipuji oleh seorang pemimpin dunia yang melakukan pelanggaran hukum internasional? Kebanggan atas pujian Trump inilah yang seharusnya dipertanyakan, untuk apa?

Pemberitaan mengenai pidato Presiden Prabowo di Majelis Umum PBB sejatinya lebih bisa didiskusikan secara luas terkait isinya dibandingkan dengan urutan dari pidato tersebut. Mendapatkan urutan ketiga, hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang dibanggakan dan harus dipamerkan secara umum. Secara tradisi dalam Sidang Majelis Umum, pembicara pertama dari Brazil.

Pada saat sidang pada 1947, belum banyak negara yang mengajukan diri sebagai pembicara pertama, dan Brazil secara sukarela mengajukan diri. Setelah itu akan dilanjutkan oleh Presiden AS sebagai host. Selanjutkan akan diberikan slot dan diatur oleh pihak Sekretariat dari PBB itu sendiri. Pertimbangannya cukup banyak, bisa geografis, isu atau bisa jadi memang ada permintaan khusus. Tidak ada kaitannya dengan merit atau kemampuan negara maupun presiden terkait. Sehingga kebanggan berlebihan sebagai urutan ketiga juga harus dihentikan karena tidak wajar, dan lagi-lagi, untuk apa?

Jika merujuk pada Editorial Omong-Omong pada 22 September lalu, “He can be dismissed as a hypocrite, mocked, and forgotten. Or he can deliver the speech of his life, one that cuts through the noise and earns its place in history.” Apakah kemudian gestur yang dilakukan oleh Prabowo hanya akan diingat sebagai sesuatu yang tidak penting? Ataukah isi pidatonya yang dianggap blunder karena juga menekankan pada kemerdekaan Israel (yang tentunya sangat berseberangan dengan semangat kemerdekaan Palestina)?

Baca juga:

Yang jelas, gestur mengetuk meja selama pidato bukan merupakan aksi yang akan diingat sebagai aksi heroik oleh seorang presiden; karena buat apa mengetuk meja dengan pidato yang berapa-api jika masalah domestik saja tidak pernah diselesaikan secara tuntas. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Kholifatus Saadah
Kholifatus Saadah Dosen muda di kota mendoan yang suka minum kopi, tapi bukan ahli kopi. Pernah tinggal di Surabaya sebelum ke Purwokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email